POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menggalakan (kembali) Bersepeda di Aceh

Tulisan ini adalah tulisan Muhammad Syawal Jamil, peserta Lomba menulis Essai yang diselenggarakan oleh Center dor Community Development and Education (CCDE)

RedaksiOleh Redaksi
February 11, 2023
Menggalakan (kembali) Bersepeda di Aceh
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Muhammad Syawal Djamil*

GERAKAN atau ajakan bersepeda di tempat kita sempat menemukan trend positif pada beberapa tahun lalu, tepatnya saat pandemi Covid-19 mewabah. Adanya realitas keadaan yang diancam oleh “ta’eun” tersebut memaksa aktivitas masyarakat beralih dari yang sebelumnya bekerja di ruang publik seperti kantor, berpindah ke ruang domestik, seperti di rumah, atau ruang-ruang terbatas orangnya. Pun himbauan demi himbauan dari pemerintah dan tokoh masyarakat untuk memperkuat imun dengan  berolahraga, yang konon dapat melawan atau mengantisipasi terjangkitnya Covid-19, membuat masyarakat mencari alternatif olahraga yang murah, santai dan meriah.

Akhirnya, satu dua orang terlihat mulai mengayuh sepeda di pagi dan sore hari, kemudian muncul kelompok-kelompok dengan khas dan umur tertentu mewarnai ruang-ruang umum, dan beragam perlombaan pun mulai menyasar kelompok pesepeda ini. Hingga jalan-jalan terlihat indah dan bersih kala itu, karena jauh dari polusi udara dan polusi suara klakson kendaraan bermotor.

Akan tetapi, sayangnya, keadaan itu kembali menyepi mengikuti wabah Covid-19 yang melandai. Seiring dengan Covid-19 dinyatakan tidak mewabah lagi tersebutlah, masyarakat kita kembali beralih ke kendaraan bermotor dalam aktivitas kesehariannya. Dan grup-grup pesepeda pun mulai bubar satu persatu. Ternyata kesadaran berolahraga dengan cara bersepeda pada masyarakat kita hadir karena adanya ancaman wabah Covid-19. Saat ancaman wabah itu menghilang, aktivitas bersepeda pun dibuang.

Ironisnya lagi, institusi pendidikan, baik level sekolah maupun perguruan tinggi di tempat kita, gagal memahamkan masyarakat terhadap manfaat dari bersepeda. Alih-alih memberikan teladan dalam menjaga bumi melalui moda transportasi yang ramah lingkungan berupa sepeda, insan-insan akademis di tempat kita malah sibuk dengan menunjukkan eksistensinya melalui kendaraan yang mereka miliki. Seolah mereka berkompetisi dalam hal ini. Siapa yang memiliki kendaraan paling modern, paling canggih, paling baru dan serantai bentuk “paling-paling lainnya” maka ia menempati kasta yang tinggi dalam masyarakat. Akhirnya apa yang terjadi?

Kemacetan merajalela lagi, polusi udara semakin sulit teratasi, suhu bumi semakin meninggi, dan lingkungan jauh dari kata asri.

Beberapa waktu lalu, tempat kita dilanda banjir yang parah, kalau ditelisik, puncak hujan kali ini mulai bergeser dari yang sejatinya di bulan Desember kini beralih ke Januari atau Februari. Ini menandakan bumi kita sudah dan sedang sakit dan ia harus diselamatkan. Caranya dan yang paling gampang ya dengan cara menggalakkan aktivitas keseharian masyarakat dengan bersepeda.

Tentunya, ikhtiar tersebut harus dipikul secara bersama, kita harus bergerak untuk memahamkan masyarakat, bahwa bersepeda memiliki segudang manfaat. Remaja harus kita motivasi untuk menyukai kendaraan yang ramah lingkungan, yang salah satunya, dengan sepeda.

Di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, harus ada fasilitas yang membuat warga sekolah dan warga kampus aman dalam memarkirkan sepedanya. Juga apresiasi untuk mereka-mereka yang sudah dengan percaya diri beraktivitas di lingkungan pendidikan harus diberikan secara berkala. Karena di lain sisi, kita melihat fenomena remaja dan orang dewasa yang memiliki berat badan berlebihan (obesitas) yang meningkat akhir-akhir ini, penulis kira, itu menjadi isu dan momen yang tepat untuk dijadikan bahan bagi penyadaran atau refleksi masyarakat, bahwa dengan bersepeda ancaman obesitas dapat diatasi.

Program Positif CCDE

Adanya program dari Pusat Pengembangan Masyarakat dan Pendidikan (Center for Community Development and Education-CCDE) yang dengan komitmennya sudah menggalakkan dan mempertahankan program donasi 1000 sepeda dan kursi roda untuk anak yatim piatu dan difabel Aceh agar tetap bisa sekolah tentu harus diapresiasi lebih.

Melalui program “bagi sepeda” untuk anak Aceh, saya melihat, CCDE sudah melakukan kegiatan yang “sipat tak dua pat luet” (sekali ditebas dua tempat disambar lukanya). Disamping anak yang dikategorikan yatim mendapatkan sepeda, sehingga ia dapat bersekolah dengan mudah, murah dan tentu menyehatkan fisiknya, kegiatan ini juga berguna bagi penyeimbang stigma dalam benak masyarakat —khususnya pada anak-anak atau remaja— bahwa mengendarai sepeda ke kantor, berangkat ke sekolah,  berarti ia tidak mampu membeli sepeda motor atau mobil.  

Pemilik dan penyuka sepeda dewasa ini memang sudah kadung dianggap miskin oleh masyarakat. Maka itu, saya berpandangan jika program bagi-bagi sepeda yang dilakukan oleh tim CCDE ini sudah membantu mengatasi masalah masyarakat, tepatnya anak yang bersekolah, dan juga membantu mengubah pola pikir masyarakat terhadap penyuka transportasi sepeda dalam beraktivitas sebagai orang yang tidak dikategorikan miskin.

📚 Artikel Terkait

Poligami Diam-diam dan Keadilan

The “Salah Jurusan” Phenomenon: Chasing Recycled Dreams

SELAMAT ULANG TAHUN IGI

DEMOKRASI IBARAT POMPA

Butuh Peran Pemerintah

Karena ini menyangkut masalah umum, kebutuhan sosial, tentu pemerintah harus bersedia hadir untuk menumbukembangkan isme tentang bersepeda ini. Pemerintah perlu mengadakan berbagai kegiatan dan acara yang di dalamnya mengkampanyekan ajakan bersepeda.

Disamping itu, Pemerintah perlu kiranya untuk menata kota yang ramah bagi pesepeda dengan memberikan ruang yang aman di sepanjang jalan, seperti dengan melakukan revitalisasi tempat-tempat di mana jalannya banyak rusak, bertaburan sampah, dan lubang kanalisasi yang belum dibersihkan.

Komunitas-komunitas bersepeda, juga organisasi sosial yang sudah mengkampanyekan ajakan bersepeda seperti halnya yang dilakukan oleh CCDE harus diberikan sokongan baik secara moril dan material, agar mereka dapat menjadi eksistensinya di tengah masuknya arus modernisasi yang banyak salah dipahami.

Dengan demikian, bumi yang sehat, ekosistem alam yang terjaga, yang semuanya menjadi tumpuan harapan kita yang hidup di era sekarang dapat kita warisi dengan baik kepada generasi kita di masa akan datang. Tentu kita tidak ingin mewariskan bumi yang sudah rusak, juga kebiasaan-kebiasaan buruk kita, kepada generasi selanjutnya. Nyanban

*Penulis: Seorang guru dan pegiat sosial budaya di Komunitas Beulangong Tanoh.

 

Riwayat Penulis:

 

Nama : Muhammad Syawal, S.Sos

Nama Pena : Muhammad Syawal Djamil

TTL : Wakheuh, 23 Maret 1994

Profesi : Guru di Sukma Bangsa Pidie

Alamat : Caleue, Pidie, Aceh

Hp/WA : 082370459520

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Misteri Jalan Tembus

Misteri Jalan Tembus

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00