Oleh : Novita Sari Yahya
Air mata mengalir di pipiku ketika kabar itu datang tanpa aba-aba. Seperti petir di siang bolong, memecah sunyi yang selama ini kupelihara dengan susah payah.
“Kau dengar?” suara Baron di seberang telepon terdengar berat. “Bembeng… sudah tidak ada.”
Aku terdiam.
“Serangan jantung,” lanjutnya. “Setidaknya itu yang dikatakan dokter.”
Aku menutup mata. Ada sesuatu yang mengganjal.
“Benarkah hanya itu?” tanyaku lirih. “Atau… seperti dua tahun lalu?”
Baron menghela napas panjang. “Aku juga tidak tahu.”
Kami sama-sama tahu, hidup Bembeng penuh pertentangan. Sebagai ketua organisasi massa, terlalu banyak pihak yang berseberangan dengannya. Terlalu banyak kemungkinan.
Dan kini, semua itu berakhir begitu saja.
Empat hari lalu, kami masih saling membalas komentar di media sosial. Perdebatan kecil, seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir kami.
Aku duduk di kursi, menatap kosong ke arah jendela.
“Aku tidak menyangka secepat ini,” kataku pelan.
Baron diam.
Aku tersenyum pahit, mengingat satu percakapan lama.
“Itulah alasannya aku tidak bisa menikah denganmu, Bembeng,” kataku waktu itu, sambil tertawa.
“Ah, yang benar kamu tidak punya perasaan padaku,” balas Bembeng, juga tertawa.
“Kamu terlalu liar,” jawabku. “Tidak cocok untuk perempuan keras kepala seperti aku.”
Ia hanya tertawa lepas. Seolah itu bukan penolakan, melainkan tantangan hidup yang menarik baginya.
Dan benar saja.
Dalam dua puluh tujuh tahun perjalanan hidupnya, Bembeng menikah empat kali. Hidupnya seperti medan tempur—keras, liar, penuh risiko. Dunia lapangan membentuknya menjadi sosok yang tak pernah bisa diam.
Sementara aku memilih jalan berbeda.
Aku menarik diri.
Lima belas tahun lalu, aku memutuskan berhenti dari segala hiruk pikuk itu. Aku pulang, membangun rumah, menjadi ibu bagi anak-anakku.
“Aku merasa bersalah,” gumamku.
“Untuk apa?” tanya Baron.
“Aku pergi begitu saja. Tanpa benar-benar menjelaskan.”
Baron terdiam sejenak.
“Kita semua memilih jalan masing-masing,” katanya akhirnya. “Dan itu bukan kesalahan.”
Aku tidak menjawab.
Hari itu, aku tidak datang ke pemakaman Bembeng.
Kami pernah berempat.
Tiga laki-laki dan satu perempuan yaitu ku.
Kami muda, penuh semangat, dan merasa dunia bisa kami ubah hanya dengan kata-kata dan keberanian. Kami berdiri di jalan yang sama, berbicara tentang perubahan, tentang keadilan, tentang masa depan yang lebih baik.
Namun waktu mengajarkan kami sesuatu yang lain.
Satu per satu, kami memilih jalan berbeda.
Dua dari mereka kini telah pergi.
Menyisakan aku dan Baron.
Kami pernah berdiri di sisi yang berseberangan. Saling menarik, saling menekan, hingga akhirnya jarak itu menjadi terlalu jauh untuk dijembatani.
“Bagimu aku tidak logis,” kataku suatu malam dalam perdebatan panjang.
“Karena memang tidak,” jawab Bembeng tegas. “Dunia tidak berjalan dengan idealisme kosong.”
“Dan bagiku,” balasku, “kamu tenggelam dalam dunia premanisme dan mobilisasi massa.”
Ia tertawa sinis.
“Kau terlalu bersih untuk dunia ini.”
“Dan kamu terlalu kotor untuk mengaku memperjuangkannya.”
Kami sama-sama diam setelah itu.
Tidak ada yang mau mengalah.
Bagiku, jalan yang kupilih adalah jalan nalar, kejujuran, dan kesadaran.
Namun bagi Bembeng, itu hanyalah ketololan.
“Kau hidup di awang-awang,” katanya suatu ketika.
“Dan kamu hidup dalam kemunafikan,” jawabku.
Ia menatapku lama.
“Aku hidup dalam kenyataan.”
“Kalau itu kenyataan,” kataku pelan, “maka aku memilih tidak menjadi bagian darinya.”
Di titik itulah aku pergi.
“Kenapa kamu benar-benar menghilang?” tanya Baron suatu hari, bertahun-tahun setelahnya.
Aku tersenyum tipis.
“Aku punya tiga anak,” jawabku. “Mereka lebih membutuhkan aku daripada dunia itu.”
“Kamu tidak merasa egois?”
Aku menggeleng.
“Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak egois.”
Baron mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak lagi hidup untuk diriku sendiri,” kataku. “Aku hidup untuk mereka.”
Ia mengangguk pelan, seolah mengerti.
Keputusan dalam hidup bukan hanya soal ego dan keinginan pribadi. Ada tanggung jawab yang lebih besar tentang orang-orang yang bergantung pada kita, tentang kehidupan yang kita rawat dengan sepenuh hati.
Dan aku memilih itu.
Namun, meski aku telah pergi sejauh itu, bayangan Bembeng tidak pernah benar-benar hilang.
Ia selalu hadir dalam berita, dalam percakapan orang, dalam bayangan masa lalu yang sesekali datang tanpa diundang.
Dirinya seperti simbol.
Bukan hanya sebagai manusia, tetapi sebagai kekuasaan yang pernah membayangi hidupku.
Aku pernah bertanya dalam diam:
Apakah begitu egoisnya cinta?
Mengikat tanpa izin, membelenggu tanpa suara.
Malam itu, setelah kabar kematian Bembeng, aku duduk sendirian di ruang tamu. Anak-anakku sudah tidur. Rumah sunyi.
Aku membuka pesan lama.
Percakapan terakhir kami masih ada.
Singkat. Biasa. Tanpa emosi berlebih.
Namun kini terasa begitu berat.
“Aku memaafkanmu, Bembeng,” bisikku.
Air mata jatuh lagi.
“Aku juga mengikhlaskanmu.”
Ada luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Luka yang tidak berdarah, tetapi terasa nyata.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak bisa kupungkiri.
Aku pernah mencintainya.
Dalam diam.
“Kalau waktu bisa diulang, kamu akan memilih jalan yang sama?” tanya Baron beberapa hari setelah pemakaman.
Aku berpikir sejenak.
“Iya,” jawabku.
“Tidak ada penyesalan?”
Aku tersenyum.
“Penyesalan selalu ada,” kataku. “Tapi bukan berarti aku ingin mengubah semuanya.”
Baron mengangguk.
“Dan kamu?” tanyaku balik.
Ia tertawa kecil.
“Aku masih berjalan di jalan yang sama,” katanya. “Entah sampai kapan.”
Kami terdiam.
Hidup memang seperti itu.
Tidak selalu tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Kadang hanya tentang pilihan.
Dan konsekuensinya.
Aku berdiri di halaman rumah, menatap langit sore yang perlahan berubah warna.
Angin berhembus pelan.
“Aku pernah mencintaimu, Bembeng,” bisikku sekali lagi.
Namun cinta itu tidak pernah menjadi rumah.
Ia hanya menjadi bayan yang datang dan pergi, meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus.
Kini, yang tersisa hanya doa.
“Selamat jalan, Bembeng,” ucapku pelan.
Semoga di keabadian, tidak ada lagi pertentangan.
Tidak ada lagi keras kepala.
Tidak ada lagi dunia yang memaksa kita untuk saling melukai.
Air mata itu akhirnya berhenti.
Bukan karena luka telah hilang.
Tetapi karena aku belajar menerima.
Bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.
Bahwa tidak semua jalan harus kita tempuh bersama.
Dan bahwa dalam hidup, keputusan yang kita ambil bukan hanya tentang diri kita sendiri melainkan tentang mereka yang kita lindungi, kita rawat, dan kita cintai dengan cara yang lebih nyata.
Aku masuk kembali ke dalam rumah.
Menutup pintu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar selesai dengan masa lalu.
Meski kenangan itu akan selalu ada, aku tidak lagi terikat olehnya.
Aku memilih hidup.
Untuk anak-anakku.
Untuk diriku sendiri.
Dan untuk semua yang masih menunggu di depan sana.
Catatan.
Cerita fiksi untuk buku Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Nama bukan tentang seseorang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini













Discussion about this post