• Latest
Ringkukan Tumpuk Jerami - 4cb0939f f502 4711 a52e 1a3094b7e7e7 | #Cerpen | Potret Online

Ringkukan Tumpuk Jerami

Januari 12, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Ringkukan Tumpuk Jerami - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Ringkukan Tumpuk Jerami - 4cb0939f f502 4711 a52e 1a3094b7e7e7 | #Cerpen | Potret Online

Ringkukan Tumpuk Jerami

Redaksi by Redaksi
Januari 12, 2026
in #Cerpen
Reading Time: 4 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Yusriman

Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Andalas

Man tumbuh di sebuah kampung kecil yang jalannya lebih sering berlumpur daripada berdebu. Rumahnya berdinding papan, beratap seng berkarat, dan berdiri tepat di tepi sawah. Setiap pagi, suara ayam dan derit pintu kayu menjadi alarm alami sebelum matahari benar-benar terbit. 

Ayah Man bekerja sebagai buruh angkut di pasar, sementara ibunya menjahit pakaian tetangga dengan mesin tua yang suaranya sudah seperti batuk orang sakit. Uang tidak pernah benar-benar cukup, tetapi ibunya selalu berkata, 

“Selama masih bisa makan dan sekolah, kita belum kalah.”

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026

Sejak SD, Man sudah memahami arti menahan keinginan. Ia jarang membeli jajan, memilih menabung seratus atau dua ratus rupiah dari sisa uang saku. Buku tulisnya sering penuh coretan karena dipakai hingga lembar terakhir. Namun Man dikenal sebagai anak yang tekun. Ia tidak paling pintar, tetapi selalu ingin mengerti. 

Jika tidak paham, ia akan bertanya, mencatat, lalu mengulanginya sendiri di rumah dengan cahaya lampu minyak.

Saat lulus SD, banyak teman Man yang berhenti sekolah. Ada yang ikut orang tua ke sawah, ada yang merantau menjadi kuli bangunan. Man hampir bernasib sama. Ayahnya sempat ragu, bukan karena tak ingin, tetapi karena tak sanggup. Namun Man memohon dengan cara yang sederhana: ia berjanji akan berjalan kaki ke sekolah dan tidak meminta uang jajan. 

Akhirnya ia diterima di SMP negeri di kecamatan, lima kilometer dari rumah.

Setiap pagi Man berangkat sebelum matahari naik, membawa tas lusuh dan bekal nasi dengan garam. Hujan dan panas tidak pernah menjadi alasan. Di sekolah, ia sering mengantuk, tetapi nilainya selalu stabil. Pak Ranu, guru matematika, melihat kesungguhan Man dan sering memberinya soal tambahan. 

“Kamu ini bukan pintar, Man,” kata Pak Ranu suatu hari, “tapi kamu tahan banting.”

Lulus SMP, Man ingin melanjutkan ke SMA. Biaya pendaftaran menjadi momok. Ayahnya terdiam lama saat Man menyampaikan keinginannya. 

“Ayah takut kamu kecewa,” 

katanya pelan. Malam itu Man tidak tidur. Ia menulis surat sederhana kepada kepala sekolah SMA negeri di kota kecil, menjelaskan keadaannya dan melampirkan fotokopi rapor. 

Beberapa hari kemudian, jawaban datang: Man diterima dengan keringanan biaya. Di SMA, hidup Man semakin padat. Sepulang sekolah, ia membantu tetangga mengangkut pasir, mengantar galon, atau membersihkan kios. Malam hari ia belajar sambil menahan kantuk. Seragamnya mulai pudar warnanya, tetapi prestasinya justru meningkat. Ia mulai bermimpi lebih jauh kuliah. Sebuah mimpi yang terdengar terlalu tinggi bagi anak buruh angkut pasar.

Ketika Man lulus SMA, ayahnya jatuh sakit. Penghasilan keluarga menurun drastis. Kuliah terasa seperti sesuatu yang mustahil. Namun Man diam-diam mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Ia memilih sebuah kampus besar di kota, yang selalu ia sebut dalam hati sebagai 

“kampus di seberang sungai”

Seolah nama aslinya terlalu sakral untuk diucapkan. Tak disangka, ia diterima. 

Masalah datang bertubi-tubi, biaya daftar ulang, kos, makan, buku. Man hampir menyerah. Ia bahkan sempat berniat menolak. Namun ibunya menjual mesin jahit tua satu-satunya alat penghasilan mereka demi biaya awal kuliah. 

“Ibu bisa menjahit lagi nanti,” katanya, meski Man tahu itu bohong yang paling tulus.

Kuliah mengajarkan Man arti kesepian. Di kos sempit berdinding papan, ia hidup dengan mie instan dan air putih. Ia bekerja sebagai penjaga perpustakaan, pengetik tugas, dan buruh angkut saat akhir pekan. Di kampus, Man bertemu Sari, teman sekelas yang sering membantunya memahami materi. Sari tidak banyak bertanya tentang hidup Man, seolah mengerti bahwa beberapa cerita lebih baik disimpan. 

Empat tahun berjalan lambat dan melelahkan. Wisuda S1 berlangsung sederhana. Man duduk di barisan belakang, mengenakan toga pinjaman, tetapi matanya berkaca-kaca. Ia telah sampai sejauh ini dengan kakinya sendiri.

Setelah lulus, Man tidak langsung bermimpi lebih tinggi. Ia bekerja apa saja: staf administrasi, guru les, asisten proyek kecil. Dua tahun ia menabung dengan disiplin ketat. Saat teman-temannya membeli motor atau menikah, Man menyimpan uangnya di amplop cokelat bertuliskan “S2”.Keputusan melanjutkan S2 bukan keputusan yang mudah. Banyak orang berkata itu tidak perlu. “Sudah kerja saja, Man,” kata mereka. 

Namun Man tahu, ada janji lama yang belum lunas. Ia mendaftar kembali ke kampus yang sama, tetap dengan nama yang ia samarkan dalam cerita hidupnya.

ADVERTISEMENT

S2 jauh lebih berat. Bacaan tebal, diskusi panjang, dan tuntutan akademik yang tinggi. Man merasa kecil di antara mahasiswa lain yang datang dari keluarga mapan. Tabungannya habis di semester kedua. Ia hampir mengundurkan diri, sampai Bu Lestari, dosen pembimbingnya, menawarinya menjadi asisten riset. Honor itu tidak besar, tetapi cukup untuk bertahan.

Man belajar bukan lagi demi nilai, melainkan demi makna. Ia menulis tesis dengan sungguh-sungguh, menghubungkan teori dengan realitas hidup yang ia kenal sejak kecil. Saat sidang tesis, Man menjawab dengan tenang, meski tangannya gemetar. 

Ketika penguji mengangguk, Man tahu satu fase hidupnya selesai. Hari wisuda S2 datang tanpa sorak-sorai. Tidak ada keluarga besar, tidak ada bunga. Man berdiri sendiri, menatap langit-langit gedung, mengenang jalan tanah merah, sepatu jebol, dan mesin jahit tua. Semua lelahnya terasa lunas.

Man tersenyum kecil. Ia bukan siapa-siapa. Namun ia telah membuktikan satu hal: mimpi tidak selalu butuh sayap, kadang cukup kaki yang terus melangkah.

Biodata

Yusriman. Seorang penulis asal Sumatera Barat, Pasaman Barat. Beliau seorang mahasiswa S2 kajian budaya, aktif dalam perhimpunan seminar internasional dan nasional. Dibuktikan dengan prestasi dan sertifikat yang telah didapatkan. Beliau juga aktif dalam perkembangan menjadi pembicara di berbagai daerah. Karya-karya beliau tersebar luas di cetak maupun online.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 319x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Ringkukan Tumpuk Jerami - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | #Cerpen | Potret Online

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com