• Latest
Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia

Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia

November 29, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia

Redaksiby Redaksi
November 29, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Untuk sementara setop dulu soal prahara PBNU, Bandara IMIP, atau soal dagelan hukum. Arahkan pandangan kita pada saudara-saudara kita di Sumatera. Di sana sudah 34 nyawa melayang akibat bencana alam. Jumlah itu akan terus bertambah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia, 27 November 2025. Hujan turun bukan lagi sebagai air, tapi sebagai putusan pengadilan langit. Dulu kita menyebutnya “musim hujan”, sekarang lebih pantas disebut “musim pembalasan dendam”. Sudah 34 nyawa ambruk di bawah lumpur. Ada 52 lainnya masih berkeliaran di antara puing, doa, dan sinyal HP yang pasrah. Langit sebenarnya mau bantu, tapi mungkin ia sendiri sudah muak mendengar janji-janji kita yang aromanya saja sudah seperti banjir kiriman.

Di Tapanuli Selatan, 17 nama dicoret dalam satu malam. Sibolga menelan delapan, lalu menahan 46 lainnya di perut sungai yang berubah jadi makhluk mitologi gara-gara ulah kita. Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Nias Selatan, semua seakan berlomba seperti berebut nomor antrean di kantor kelurahan. Siapa paling cepat mengirim korban, dia yang dianggap paling “update”. Totalnya tetap, 34 tewas, 52 hilang, 175 luka, dan ribuan lainnya sekarang resmi memakai label “pengungsi”gelar yang kadang terdengar lebih manusiawi dari label asli mereka, korban pembangkangan kolektif.

Yang paling lucu, wak, ini cerita lama. Season lama. Drama yang diputar ulang setiap tahun dengan pemeran sama, dialog sama, ending sama, cuma background musiknya makin sumbang. Kita tebang hutan di lereng, lalu terkejut ketika lereng balas dendam. Kita corok-corok sampah ke sungai, lalu pura-pura histeris ketika sungai membalas mencorok rumah kita ke laut. Kita bangun bendungan gede kayak ego pejabat, lalu pura-pura religius ketika bendungan itu menyemburkan air setinggi dosa nasional. BMKG sudah teriak dari tahun ke tahun, tapi teriakannya kalah sama suara gergaji, iklan green economy palsu, dan baliho yang hijau cuma di fotonya.

Kita ini juara nasional dalam lomba “pura-pura kaget”. Setiap jembatan putus di Padang, setiap desa hilang di Kutacane, setiap anak hanyut terekspos kamera ponsel, kita langsung buka aplikasi dan ngetik #PrayForIndonesia. Seolah-olah doa ketikan jempol sambil selonjoran bisa menggantikan pohon yang kita habisi sepuluh tahun lalu. Kita sedih lima menit, repost video dramatis, lalu kembali tidur kayak tidak ada apa-apa karena besok ada rapat jam sembilan. Yang mati tetap mati, yang hilang tetap hilang, kita tetap penonton sinetron bencana.

Padahal 34 nyawa itu bukan angka. Itu adalah Dewi Hutabarat yang baru beli seragam untuk anaknya. Itu adalah Vania Aurora Lumbantobing yang belum sempat tiup lilin ulang tahun keenam belas. Itu bapak-bapak yang masih memegang cangkul ketika tanah memutuskan waktunya sudah habis. Itu ibu-ibu yang menjerit memanggil nama anaknya sambil dikejar air keruh yang naik lebih cepat daripada tobat nasional.

Tangisan kita sudah terlalu murah. Air mata kita bahkan lebih murah dari satu bibit pohon yang malas kita tanam. Doa kita di media sosial tidak pernah sampai ke tangan kita sendiri yang masih memegang kapak. Kita jago bikin narasi “bencana alam”, padahal ini murni bencana manusia. Alam cuma menagih utang, dan seperti rentenir paling jujur, ia menagih dengan cara paling teliti, ia mengubur kita di tempat yang sama di mana kita dulu mengubur masa depannya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Hari ini 34 keluarga kehilangan segalanya. Besok mungkin giliran kita. Ketika giliran itu tiba, kita akan ulang lagi skrip lama, bikin hashtag baru, tiru wajah sedih, rekam drama lima detik, lalu lupa, sampai hujan berikutnya datang membawa vonis yang sama, untuk orang yang sama, oleh tangan yang sama.

Foto asli sumber dari Antara

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com