POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mahkota di Kepala Anak-Anak: Panggung, Ambisi, dan Masa Kecil yang Dikorbankan

RedaksiOleh Redaksi
October 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Tulisan ini mengkritisi fenomena pageant dan kompetisi anak yang sering kali lebih menonjolkan ambisi orang dewasa daripada kepentingan terbaik anak itu sendiri. Dengan pengalaman pribadi serta kajian hukum dan psikologi perkembangan anak, artikel ini mengungkap paradoks antara pengembangan bakat dan eksploitasi berpita emas. 

Kegiatan yang menuntut anak menampilkan citra dewasa berpotensi melanggar prinsip perlindungan anak dan membebani masa kecil mereka. Tulisan ini mengajak masyarakat dan orang tua untuk lebih cerdas memilih ruang tumbuh bagi anak agar berkembang dengan empati dan kebahagiaan sejati.

Kata Kunci: perlindungan anak; pageant anak; eksploitasi anak; perkembangan anak; budaya kompetisi.

Beberapa waktu lalu, seorang anggota kelompok Bundo Kanduang di Sumatera Barat mengirimkan video. Isinya menampilkan terpilihnya seorang Miss Teen di ajang internasional, dengan caption bangga: “Anak Sumbar harumkan nama bangsa di panggung dunia.”

Saya tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar manis, penuh kebanggaan. Tapi di balik kata “harumkan nama bangsa”, ada aroma lain yaitu aroma ekspektasi dan ambisi yang dibungkus pita warna emas.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi wakil Sumatera Barat dalam ajang Putri Ayu Indonesia 1995, runner-up II Putri Kartini 1995, dan kini menjabat National Director Indonesia Miss, Mrs, Mister & Talent Kids Indonesia 2023–2024, saya tahu dunia itu luar dalam. Panggungnya berkilau, tapi lampunya panas. Sorotannya sering membuat lupa: siapa yang sebenarnya sedang dipamerkan, apakah bakat anak, atau ambisi orang tuanya?

 Antara “Bakat” dan “Eksploitasi Berpita Emas”

Banyak lomba anak zaman sekarang dikemas dengan istilah “pengembangan bakat”, tetapi yang ditampilkan justru anak-anak berusia sepuluh tahun yang dirias layaknya orang dewasa. Mereka berjalan di runway, mengenakan gaun pesta dan sepatu hak tinggi, dengan senyum yang dilatih agar “tepat untuk kamera.”

Dalam konteks hukum, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak atas perlindungan dari eksploitasi ekonomi maupun seksual (Pasal 13 Ayat 1).

Sementara laporan UNICEF (2017), Children in a Digital World, menekankan pentingnya memastikan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan publik harus berbasis the best interests of the child  bukan kepentingan ekonomi atau pencitraan keluarga.

Fenomena ini bukan hanya persoalan estetika, tapi etika. Di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, kompetisi semacam Toddlers & Tiaras dikritik karena menormalkan riasan dewasa dan tekanan performa terhadap anak-anak (Giroux, 2012).

Panggung Dewasa yang Dihuni Anak-Anak

Saya masih ingat betul suasana di balik panggung ajang kecantikan: ruangan penuh tawa, parfum, kamera, dan kadang, komentar-komentar yang tidak pantas untuk telinga anak-anak.

Itulah sebabnya saya baru mengizinkan putri saya terjun ke dunia modeling profesional setelah berusia 20 tahun, ketika ia matang secara emosional dan hukum. Saat di sekolah dasar, ia hanya mengikuti lomba kebaya dan fashion show kasual sekadar melatih percaya diri tidak lebih.

Karena saya tahu, dunia modeling bukan tempat tumbuh anak-anak. Ia adalah industri. Dan industri, pada dasarnya, mencari produk, bukan pertumbuhan.

Sosiolog Soerjono Soekanto (2005) menulis, masyarakat modern cenderung “mengkomodifikasi individu menjadi simbol status sosial.” Dalam konteks ini, anak-anak yang tampil di panggung sering bukan lagi individu yang berkembang, melainkan simbol “prestise keluarga.”

Di Indonesia, pageant anak juga meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan pantauan media dan lembaga budaya, terdapat lebih dari 150 ajang lomba anak berorientasi citra yang diselenggarakan setiap tahun di tingkat daerah dan nasional (Data Kominfo, 2024). Namun, belum ada regulasi spesifik tentang batas usia peserta maupun pengawasan psikologis anak.

“Talent” Itu Luas: Dari Pencak Silat hingga Gitar Klasik

Sebagai National Director Talent Kids Indonesia, saya memahami bahwa talenta bukan sekadar berjalan anggun di atas panggung. Talenta adalah ekspresi diri yang menumbuhkan karakter bukan citra.

Dalam kategori talent, anak-anak bisa menari, menyanyi, membaca puisi, menulis karya sastra, atau berolahraga seperti pencak silat. Semua itu bentuk pendidikan rasa dan koordinasi yang sehat.

Elizabeth Hurlock (2012) menulis bahwa kegiatan seni membantu anak mengembangkan empati dan keseimbangan emosional. Begitu pula Santrock (2020) menekankan pentingnya sense of competence — perasaan mampu yang tumbuh dari pengalaman berhasil, bukan penilaian eksternal.

Sementara dunia modeling profesional tetap memiliki standar fisik dan tekanan tinggi. Meskipun Elite Model Management (2024) telah melonggarkan aturan tinggi badan minimum, peluang tampil di panggung besar hanya sekitar 3% dari ribuan model baru tiap tahun (Business of Fashion, 2021).

Menaruh harapan masa depan anak pada sepasang sepatu hak tinggi adalah perjudian emosional dengan peluang kecil,  tapi risiko psikologis besar.

📚 Artikel Terkait

Senja Merah

Perpustakaan Abadi Bernama Hati

Samsat Kota Lhokseumawe: Pemanfaatan Bayar Pajak Kendaraan di Warkop oleh Warga Meningkat drastis.

Menanamkan Karakter Kuat bagi Generasi Muda di Era Digital

Empati Lebih Penting daripada Runway

Sebagian orang tua mungkin beralasan, “Biar anaknya percaya diri.”

Tentu, kepercayaan diri penting. Tapi cara menumbuhkannya tidak harus lewat sorotan lampu dan tepuk tangan juri.

Rasa percaya diri anak tumbuh dari keberhasilan kecil sehari-hari. Saat ia menolong teman, menyelesaikan gambar, atau memainkan lagu piano. Itulah bentuk self-efficacy yang sejati (Bandura, 1997).

Penelitian American Psychological Association (2018) menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering dinilai secara publik cenderung mengalami performance anxiety dan penurunan motivasi intrinsik.

Kegiatan seperti les musik klasik, tari tradisional, menggambar, menjahit, memasak, atau berolahraga jauh lebih bermakna. Dapat menumbuhkan empati, disiplin, dan kebahagiaan alami . Masa kecil yang seharusnya menjadi ruang bermain, bukan gladi resik menuju mahkota.

Satire untuk Kita, Orang Dewasa

Ironinya, ketika orang tua berkata, “Saya ingin anak saya percaya diri di depan umum,” yang sering kali dimaksud adalah “Saya ingin dunia percaya bahwa saya orang tua yang sukses.”

Fenomena ini disebut achievement-by-proxy distortion. Kondisi ketika orang tua memproyeksikan ambisi pribadinya kepada anak (American Bar Association, 2015).

Psikolog Madeline Levine (2008) bahkan menyebutnya sebagai parental narcissism, di mana cinta bersyarat membuat anak menjadi alat pencapaian sosial keluarga.

Anak-anak akhirnya menjadi cermin ambisi orang dewasa. Mereka dirias, dipoles, dan dipamerkan,  bukan sebagai ekspresi diri, tapi validasi sosial orang tuanya.

Sebuah mahkota memang indah. Tapi pada kepala anak-anak, ia bisa menjadi beban yang terlalu berat. Kita sering lupa: anak bukanlah miniatur kita. Mereka bukan proyek pencitraan, melainkan manusia kecil yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Penutup: Cerdas Memilih, Bijak Menuntun

Sebagai ibu, mantan finalis, dan pelaku di dunia model dan pageant, saya hanya ingin mengingatkan: berikan ruang bagi anak untuk tumbuh dengan cara yang alami. Dunia seni, musik, tari, olahraga, atau memasak,  semua bisa menjadi sarana membangun karakter dan empati.

Runway bukan satu-satunya jalan menuju panggung kehidupan. Terlalu banyak cahaya bisa membuat kita buta, terutama terhadap hal yang paling sederhana: kebahagiaan anak itu sendiri.

 Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

UNICEF. (2017). Children in a Digital World. New York: UNICEF Publications.

Hurlock, E. B. (2012). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Soekanto, S. (2005). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Santrock, J. W. (2020). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education.

Elite Model Management. (2024). Elite Model Look Application Guidelines. Paris.

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman.

Giroux, H. (2012). Children’s Beauty Pageants and the Commodification of Childhood. Cultural Studies Review.

Levine, M. (2008). The Price of Privilege. New York: HarperCollins.

American Psychological Association. (2018). Stress and Performance in Childhood Competitions. APA Report.

American Bar Association. (2015). Achievement by Proxy Distortion: Ethical Implications in Child Pageants.

Kominfo RI. (2024). Laporan Tren Budaya Anak dan Media Sosial 2024. Jakarta: Kemenkominfo.

Business of Fashion. (2021). The Modeling Industry in Numbers.

 Catatan Akhir

Anak-anak tak butuh mahkota untuk bersinar.

Cukup biarkan mereka tumbuh karena cahaya masa kecil lebih tulus daripada sorot lampu panggung mana pun.

Novita sari yahya

Penulis, peneliti dan national director Indonesia miss, mrs, mister dan talent kids 2023-2024.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Bersekolah Tak Selalu Berarti Berpendidikan: Saatnya Aceh Menumbuhkan Jiwa Belajar yang Merdeka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00