• Latest

Membongkar Puisi Mirza Rachmansyah

Oktober 18, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membongkar Puisi Mirza Rachmansyah

Redaksiby Redaksi
Oktober 18, 2025
Reading Time: 4 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Anto Narasoma

DALAM resensi sastra, tiap ide, akan selalu berkaitan dengan parasaan (feel). Namun tidak banyak penyair yang memanfaatkan nalurinya selain nilai rasa.

Mencermati puisi yang ditulis D Mirza Rachmansyah bertajuk Jawab/Tanya, ia lebih banyak berbicara dengan nalurinya sendiri.

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Karena dari kata-kata yang diekspresikan dalam kalimat Mirza lebih banyak penyetaraan antara kata, kesamaan, arti dan nilai kehidupan.

Alangkah baiknya paparan puisi Tanya/Jawab ini dapat kita urai secara estetik….

Nir sebelum wujud
Impian setela nyata

Rentak tanpa gerak
Mendengik tanpa udara
Abu tanpa bara

Hening
Ekspresi tanya dalam benak
Rajuk merayap senyap
Lupakah tabiat?

Isian untuk tanya terbentang
Nyata dalam angan
Anggapan selalu kenyataan?

Gelisahmu
Hangatkan telapak kaki

Abun adalah angan
Nampak adalah nyata

Isilah jawab pada tanya
Ekspresi pada perangai

D Mirza Rachmansyah
7 Februari 2021

Meskipun puisi ini nampak masih berkelindan dari ruang-ruang yang belum begitu luas, namun ekspresi jiwa dan ketajaman nalurinya mampu memanfaatkan kata (diksi) menjadi cermin (baca : merasakan nilai penjabaran).

Dari kalimat awal, Mirza menuturkan pertanyaan dan jawaban nalurinya
…. Nir sebelum wujud/ Impian setelah nyata….

Disusul dengan…Rentak tanpa gerak/ Mendengik tanpa udara/ Abu tanpa bara…

Jika kita cermati dari satu kata ke kata lainnya, penyair berusaha menjelaskan tentang kekayaan jiwanya saat menafsirkan kata dan artinya, atau kata dalam maksud kiasan (konotasi).

Puisi semacam ini pernah ditulis penyair Rusia, Vladimir Mayakowski dalam puisinya berjudul “Djangan Djamah Tiongkok”.

Dalam kalimat awal Vladimir menulis, ..Djangan djamah Tiongkok!/ Perang/ putri imperialisma, mengendap-endap djalannya, hantu jang mengharungi dunia/ Sorakkan, hai buruh : Djangan djamah Tiongkok !

Vladimir menggunakan potongan-potongan kata. Dalam diksi yang vulgar secara politis, bagaimana penyair dunia ini menafsirkan sikap sok jago agar Amerika tidak mengobok-obok China.

Potongan kata seperti ini yang digunakan Mirza untuk menjabarkan teknik kisahannya tentang dunia pertanyaan dan jawaban.

Mirza mengajari dirinya sendiri tentang kata dan arti atau kata dengan kaitan bahasa kias. Misalnya pada alinea keempat…Isian untuk tanya terbendung/ Nyata dalam angan/ Anggapan selalu kenyataan?….

Dengan potongan kata itu, Mirza menceritakan nilai kepribadian (manusia) dirinya. Sebab dengan memahami nilai kepribadian yang disebutnya “perangai” pada nilai terakhir puisinya, nalar atau nalurinya semakin tajam. Terutama untuk dijadikan alat dirinya sebagai penyair.

Seperti diungkap Vladimir, Amerika dan sekutunya selalu “arogan” untuk mengobok-obok negara orang secara politis. Maka dengan ketajaman nalurinya sebagai penyair, Vladimir “menyerang” Amerika dengan ketajaman naluri kepenyairannya melalui puisi “Djangan Djamah Tiongkok!”.

Meski dengan segala keterbatasannya, Mirza juga berusaha tampil menggunakan potongan diksi untuk menceritakan kedalaman naluri dan nilai kemanuisaan yang sulit dijamah.

ADVERTISEMENT

Seperti dijelaskan Dr H Syarwani Ahmad MM dalam bukunya Perilaku Insani dalam Organisasi Pendidikan, perilaku manusia tidak terlepas dari nalurinya untuk menjelaskan sesuatu….(Komunikasi Antarpribadi : Pustaka Pelicha…Februari 2013).

Sebenarnya, sebagai penyair Mirza mencoba keras untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Sebab kata, makna dan bahasa kias (konotasi), ia coba untuk diurai secara mendalam.

Memang sebagai penulis (penyair) Mirza menyadari diri untuk terus mengenal kata dan makna, tak hanya untuk melakukan komunikasi antarsesama, namun kata dalam bahasa kias, dijadikan kekayaan pribadi untuk menelaah nilai kata, kehidupan, dan tata cara untuk menerjemahkannya ke dalam karya (puisi).

Seperti dikatakan penyair senior Aceh, LK Ara, menulis puisi itu tidak sekadar mengungkap ide dan isi, namun potongan kata merupakan kekuatan imajinasi bagi kualitas karya (Langit Senja Negeri Timah : Yayasan Nusantara Juli 2004).

Maka dalam puisinya ini, Mirza telah memberi gambaran jiwa dirinya sendiri bahwa penyair mencoba menjelaskan tentang kata, arti, dan makna bahasa kias di balik potongan kata puisinya.

Meski bentuk puisi cukup baik, namun sebagai manusia (penyair), Mirza memiliki kelemahan. Karena nilai akhir yang ia tulis nilainya “menggantung”. Artinya ia tidak menjelaskan nilai makna yang terselubung di balik kalimat puisinya.

Bahkan, daya ucap kata yang memanfaatkan udara adalah desahan. Sebab pada alinea kedua di baris kedua, Mirza menggunakan kata mendengik. Dengikan yang keluar di antara kerongkongan dan awal kedalaman mulut (bonggol awal lidah) mengeluarkan warna suara “ngik”.

Ini tidak memanfaatkan udara. Karena itu lebih baik Mirza menggunakan kata “mendesah” yang keluar dari mulut hanya desahan udara. Artinya kata mendengik diganti dengan kata desahan (mendesah tanpa udara).

Palembang,
April 2021

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Langkah yang Tertinggal

Whispers of the Night

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com