POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar Hidup dari Harimau

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
July 27, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ini bukan tentang Harimau Malaya. Ini tentang harimau benaran. Hewan yang hampir punah. Kali ini saya mau ngulik si loreng. Bahas tentang manusia, biasa! Sekali-kali tentang binatang berkaki empat, bukan kaki dua. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!

Setiap 29 Juli, manusia sedunia mendadak cinta harimau. Mereka berswafoto di depan poster loreng, mengunggah kalimat manis seperti, “Selamat Hari Harimau Sedunia,” lalu… lanjut membuka lahan. Tahun ini temanya begitu adiluhung: “Hidup Berdampingan Secara Harmonis antara Manusia dan Harimau.” Ah, harmoni. Seperti kodok dan blender. Sungguh menyentuh hati. Harimau pasti terharu, lalu terkapar di pinggir hutan.

Mari kita bicara data. Di Indonesia, sang harimau sumatra, satu-satunya subspesies harimau yang tersisa, tinggal sekitar 603 ekor. Angka ini lebih sedikit dari jumlah reseller skincare per kelurahan. Mereka tersebar di 23 kantong habitat di Sumatra. Statusnya? Critically Endangered, alias tinggal satu tarikan napas dari status “selamat tinggal.”

Dua saudara kandungnya, harimau jawa dan harimau bali, telah kita antar ke liang sejarah. Tanpa upacara. Tanpa spanduk. Cukup dengan perambahan hutan dan peluru murah. Kita manusia memang mahir mencintai sesuatu setelah mereka tiada.

Sekarang, mari kita tengok negara-negara lain. India, sang mega-bintang konservasi, saat ini memelihara ±3.682 harimau di alam liar, sekitar 75% populasi dunia. Mereka tidak hanya membuat suaka margasatwa, tapi juga mempersenjatai polisi hutannya. Bahkan harimau di sana bisa punya nama panggilan dan penggemar. India tidak menyelamatkan harimau dengan kata-kata, tapi dengan kebijakan nyata.

Lalu ada Rusia, tempat ±750 harimau Siberia mengarungi salju dengan gagah. Sementara Nepal punya ±355 ekor harimau Bengal yang hidup berdampingan dengan penduduk desa yang justru melindunginya. Bhutan? Negara mungil ini menjaga ±131 ekor harimau, karena di sana harimau dianggap jelmaan dewa, bukan calon sepatu kulit.

Bangladesh masih punya 89–146 ekor harimau Bengal yang tersisa di delta Sundarbans. Malaysia, ya, tetangga sebelah, memelihara harimau Malaya, walau angkanya terus menurun seperti grafik saham habis kena rumor. Bahkan China punya ±60 ekor harimau Cina Selatan, saking langkanya, lebih susah ditemukan dari sinyal 5G di desa. Myanmar? Masih ada ±22 harimau Indocina yang selamat dari kudeta dan kerusakan habitat.

📚 Artikel Terkait

Mencari Cerdas di Balik Angka

Kalahkan Aceh Selatan di Final, Tim Sepakbola Langsa Wakili Aceh ke Nasional

Drama Sepeda Motor Rusmiati

Kematian

Kita? Ya, masih bangga menyebut harimau sumatra sebagai “warisan budaya,” tapi membiarkan habitatnya diserahkan ke pabrik sawit dan tambang nikel.

Kalimantan? Ah, tanah Borneo, surga tropis yang tanpa harimau. Secara ekologis, tak cocok katanya. Terlalu lembap, terlalu basah, terlalu penuh macan dahan. Bahkan di zaman Pleistosen, harimau sempat coba-coba masuk Kalimantan, tapi tampaknya mereka menyerah sebelum manusia sempat mengusir.

Beberapa suku Dayak masih menyimpan taring harimau sebagai pusaka. Namun ada kemungkinan besar, itu taring macan dahan. Atau taring kesedihan kolektif karena harimau hanya tinggal dalam legenda.

Tapi tenang. Kita masih bisa menyelamatkan gambar harimau. Kita jago bikin mural, patung, kaos, bahkan stiker WhatsApp. Kalau pun harimaunya punah, kita masih punya kenangan digital. Bukankah itu yang penting di zaman ini?

Selamat Hari Harimau Sedunia. Semoga tahun depan kita masih merayakan bersama loreng yang hidup, bukan hanya siluetnya di logo LSM.

Harimau tak pernah teriak di hutan lebat,
Langkahnya sunyi, tapi dunia tunduk hebat.
Tak butuh panggung, tak haus tepuk tangan,
Cukup cakar dan kehormatan yang dijaga tanpa beban.
Ia hidup bukan untuk menguasai tanah,
Tapi menjaga batas, tahu kapan diam dan marah.
Belajarlah, wahai manusia pencinta pangkat,
Bahwa kekuasaan sejati adalah tenang saat kuat.

Harimau tak pernah menebar janji di udara,
Ia menepati hidupnya tanpa drama dan kata-kata.
Tak menyalahkan ranting, tak menyumpahi badai,
Ia berjalan meski hutan makin tergerai.
Dari lorengnya kita belajar harmoni,
Antara kekuatan dan sunyi, antara marah dan kendali.
Kalau manusia mau sebijak si loreng itu,
Mungkin bumi tak sesesak, dan hutan tak semenderu.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Kejar Gelar Luar Negeri: Jalan Menuju Masa Depan atau Sekadar Prestise?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00