POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hegemoni Dalam Budaya Aceh

Fajar IlhamOleh Fajar Ilham
July 9, 2025
Hegemoni Dalam Budaya Aceh
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fajar Ilham 

Jika kita meminjam sudut pandang Marx, bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas sosial antara borjuis dan ploreta, maka akar dasarnya sudah pasti pada ‘kehendak berkuasa’ yang diperkenalkan oleh Nietszsche. Namun demikian, teori hegemoni dari Antonio Gramsci ini lahir karena dilatar belakangi oleh pemikiran Engels dan Marx.

Marx dan Engels, yang cenderung melihat institusi politik sebagai representasi dari struktur ekonomi, yang besifat dominasi kapitalis. Dengan begitu, Gramsci menawarkan suatu metode yang diperlukan untuk menghentikan dominasi kapitalis untuk menuju sosialisme.

Menurut pandangan Antony Gramsci, hegemoni memiliki ikatan erat dengan ideologi, dan konsep kekuasaan. Ia memandang hegemoni sebagai praktik dua arah dari dua kelas, yaitu; kelas pemiilik modal (borjuis) dan kelas pekerja (ploreta). 

Praktik dua arah dari dua kelas ini, ialah; kelas borjuis membuat kelas proletar tidak memiliki pilihan lain selain membuat persetujuan baru dengan kalangan lain berdasarkan ide-ide yang lebih realistis. Katakanlah seperti mereka (borjuis) mengamankan kekuasaan berdasarkan persetujuan. 

Dalam hal ini, yang menjadi titik tekan para borjuis ini,  adalah; bagaimana hubungan dua arah mendapatkan persetujuan dari ploreta. Dengan mendapatkan persetujuan dari ploreta inilah terbentuk, dan orang-orang kelas ploreta mau tunduk pada sistem persetujuan itu dengan cara konsensus.

Perlu diingat bahwa, hegemoni yang ditawarkan oleh Gramsci tidak sama dengan dominasi kapitalis Marx. Jika dominasi lebih ke arah fisik, maka hegemoni lebih pada orang mau menyetujui tanpa ada kekerasan fisik. Di sinilah letak perbedaan Marx dengan Gramsci, dimana ia lebih menitik beratkan pada kontrol politik yang berdasarkan pada konsensus.

Dalam pandangan saya, jika hegemoni Gramsci ini ada kaitannya dengan ideologi dan budaya, maka sangat diperlukan untuk berdiskusi lebih lanjut tentang teori tersebut. Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba memaparkan realis Atjeh dalam konteks budaya hari ini yang sudah bertolah belakang dari masa lalu. Sebut saja contoh kasusnya seperti konser nyanyian yang menghadirkan para kerumunan untuk menyaksikan bintang favoritnya. 

📚 Artikel Terkait

Jejak Digital Perempuan, Moral Publik, dan Ruang Strategis Negara

Selembar Ijazah Tanpa Koneksi

Aceh dan Para Pembenci Pohon

Kacabdisdik Bireuen Apresiasi Siswi SMAN 1 Juli Peraih Juara Dua Olympiade Sains SGI 2024

Dalam sudut pandang budaya Atjeh, konser yang dinikmati oleh generasi sekarang dengan konser yang dilakukan oleh nenek moyangnya dahulu adalah konser yang berbeda, jika dulu ada hikayat prang sabil sebagai amunisi spirit perjuangan melawan penjajah, sekarang konsernya adalah hiburan kerumunan yang agitasi tentang pacaran, kandisi hidup yang tidak terarah, apakah itu karena faktor ekonomi dan sosial dan lain-lain. 

Tetapi yang pastinya, konser yang ditawarkan sekarang adalah konser yang bertolak belakang dengan Atjeh sebagai Negeri yang bersyariat Islam, yang semestinya umara sebagai pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang tegas untuk menganulir bahwa itu tidak boleh ada di geografis Atjeh sebagai serambi mekkah.

Namun demikian, apakah ini dilatar belakangi oleh hegemoni kapitalis hingga hal-hal yang seperti itu telah menjadi candu kerumunan yang mereka nikmati, tetapi itu sangat menguntungkan bagi mereka yang kapitalisme sambil meracuni budaya Atjeh.

Sekarang mari kita jelajahi sudut pandang Gramsci terhadap masyarakat Atjeh, menurut Gramsci, hegemoni yang kapitalis yang dikendarai dengan metode konsensus yang diterima dengan baik tanpa protes oleh kelas pekerja (proletar), itu bersifat pasif. Artinya konsensus terjadi bukan karena kelas pekerja yang menganggap struktur sosial yang ada adalah keinginan mereka, itu karena lebih ke mereka yang tidak mempunyai akses untuk memahami basis konseptual relitas sosial secara nyata dan efektif, ditambah lagi karena kaum buruh memang waktunya digunakan untuk bekerja dan menggunakan otot dari pada menjadi kaum yang sering duduk membaca beberapa buku atau kaum intelektual. 

Sehingga membuat kaum pekerja tidak ada waktu atau tidak mampu untuk berfikir kritis dan sistematis, serta waktu mereka digunakan untuk memenuhi isi perut dari pada isi pikiran mereka.

Jika dilihat dari realitas kehidupan hari ini, masyarakat Atjeh buta terhadap materi, krisisnya dialektis, dan fanatisme membunuh logika. Coba kita perhatikan bagaimana mereka yang diajarkan di univertisas itu, yaitu; bagaimana cara menjadi orang sukses, tentu dengan selembar kertas, yang dengan kertas itu ia melamar diri menjadi budak korporat, bukan bagaimana cara berfikir kritis.

Hari ini kita teriak untuk membuka lapangan pekerjaan, tetapi mereka yang ditempa untuk menciptakan lapangan pekerjaan malah menawarkan diri pada kapitalisme menjadi pekerja dari pada membuat sebuah pekerjaan, yang bisa mempekerjakan orang banyak.

Konsensus dalam masyarakat kapitalis itu merupakan kesadaran yang bertentangan. Hegemoni yang dilakukan oleh kelas borjuis adalah hegemoni yang samar-samar atau sembunyi, seperti:

Hegemoni total (integral), cara kelompok elite menguasai setiap unsur yang ada. Baik dari aturan, pendidikan, pemahaman moral, yang dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan rakyat tidak bisa melakukan apapun untuk menolak hegemoni yang sudah merosot (decadent). Misalnya jika di Indonesia pemerintah membicarakan Covid-19 lagi, maka banyak dari masyarakat yang sudah tidak percaya dengan menyebarnya kembali Covid-19, karena mulai tidak sinkron antara apa yang dikatakan dengan praktiknya.  Persis sama seperti mantan presiden Indonesia yaitu yang ke-7 yang kebalikan dengan apa yang dikatakan.

Beginilah cara hegemoni kapitalis dalam bernegosiasi degan proletar, hegemoni tidak bisa dilakukan dengan kekerasan fisik, tetapi dengan cara konsensus.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Fajar Ilham

Fajar Ilham

lahir di Kluet Utara pada 01-12-1989 dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah di Universitas Syiah Kuala. Barista Gerobak Arabica yang suka membaca buku-buku filsafat. Sejak kecil sudah suka menyukai cerita-cerita legenda. Aktif di organisasi eksternal kampus (HMI) semasa kuliah

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Filosofi Rajawali Dididik, dan Burung Dara Dibentuk: Cetak Biru Kepemimpinan dari Rumah ke Sekolah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00