• Latest
Kyai Tiga Kitab

Kyai Tiga Kitab

Mei 18, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kyai Tiga Kitab

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Mei 18, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kyai Tiga Kitab
603
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro
Santri dari KH. Hasan Basri

Di sudut kota yang tenang di Kelurahan Sayang, Kabupaten Cianjur, berdiri Pondok Pesantren Bustanul Ma’arif, tempat di mana ilmu-ilmu langit ditanamkan ke dalam hati para santri. Di sanalah aku, Kang Billy, Kang Asep, dan Neng Visi mengabdikan diri untuk belajar langsung dari seorang guru yang penuh wibawa dan karomah: KH. Hasan Basri bin Kyai Mama Ijazi.

Kami datang sebagai murid biasa, tapi beliau menerima kami dengan hati yang luar biasa. Selama tiga tahun penuh, selepas salat Maghrib hingga menjelang Isya, kami duduk bersila di hadapannya, mengaji tiga kitab agung: Tijan Ad-Daruri, Jurumiyah, dan Safinah al-Najah.

Kitab Tijan Ad-Daruri membuka pemahaman kami tentang tauhid. Di dalamnya, kami belajar tentang keesaan Allah SWT, sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, serta hal-hal yang menjadi fondasi iman. Kajian ini meneguhkan hati kami di tengah arus zaman yang kerap mengguncang keyakinan.

Sementara Jurumiyah memperkenalkan kami pada struktur bahasa Arab. Di kitab ini kami menyusuri jalan nahwu, memahami kaidah gramatikal, agar mampu menangkap makna dalam Al-Qur’an dan hadis dengan lebih tepat. Ilmu ini bagaikan kunci bagi kami untuk membuka pintu-pintu hikmah dalam literatur Islam.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Kitab ketiga, Safinah al-Najah, adalah bekal kami dalam fikih. Ia mengajarkan hukum-hukum ibadah, mulai dari wudhu hingga shalat, dari zakat hingga haji. Dari kitab ini kami tahu bahwa agama bukan hanya kepercayaan, tapi juga tindakan yang teratur dan terukur dalam hukum.

KH. Hasan Basri bukan hanya seorang pengajar. Beliau adalah samudra hikmah yang tak terduga kedalamannya. Salah satu karomah beliau yang paling membekas adalah ketika beliau terlihat tertidur saat kami membaca, tetapi setiap kesalahan bacaan kami langsung dikoreksi olehnya, tanpa ragu dan tanpa jeda.

Awalnya kami heran, bahkan merasa tak yakin. Tapi setelah berkali-kali mengalami hal serupa, kami tahu bahwa ini bukan sekadar kemampuan biasa. Beliau tetap mendengar dan memahami tiap lafal yang kami ucapkan, meski mata beliau seolah terpejam dalam keheningan malam.

Di saat lain, beliau kerap menyampaikan nasihat dengan bahasa yang sederhana namun menggugah jiwa. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga adab. Dalam diamnya, ada pendidikan. Dalam lirih ucapannya, ada ketegasan. Dan dalam kesehariannya, ada keteladanan.

KH. Hasan Basri adalah bagian dari mata rantai keilmuan yang agung. Beliau merupakan suami dari istri pertama Rd. Cucu Maryam binti Mama Kiyai Azhuri, yang merupakan putri dari Mama Kiyai Shoheh Bunikasih.

Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai sembilan orang anak yang menjadi penerus nilai-nilai luhur sang ayah. Anak pertama bernama H. Dadang Hasbi, disusul oleh Eeh, lalu Yeyep Hasan Saepulloh, Aah Syamsiah, Ibad Badriah, Yiyi Abdul Muhyi, Dadah Hasanudin, Iah Basoriah, dan si bungsu Dodih Abdul Qodir Zaelani.

Setiap malam selepas Maghrib, langkah kami menuju pesantren menjadi perjalanan spiritual. Tak pernah kami merasa lelah. Bahkan, meski hujan turun atau dingin menggigit, semangat mengaji di hadapan beliau tak pernah luntur.

Tiga tahun adalah waktu yang panjang, tapi terasa singkat ketika diisi dengan ilmu. Kami bukan hanya belajar membaca kitab, tapi juga membaca kehidupan. Dari KH. Hasan Basri, kami tahu bahwa ilmu bukan hanya tentang teks, tapi juga konteks dan laku hidup.

Ketika aku mengenang masa-masa itu, aku menyadari bahwa kami telah beruntung belajar langsung dari seorang ulama yang bersahaja. Tak banyak bicara, tapi penuh makna. Tak mencari pujian, tapi tulus memberi.

Kini, ketika kami harus melangkah ke dunia yang lebih luas, warisan ilmu itu tetap menyala dalam dada. Setiap bab yang dulu kami pelajari, kini menjadi cahaya dalam mengambil keputusan hidup.

Semangat mengaji tiga kitab itu tidak pernah padam. Di tengah gemuruh zaman digital, suara pelan beliau masih terngiang dalam batin kami. Seakan berkata, “Teruskan jalan ini. Ilmu yang bermanfaat akan menuntunmu pada keselamatan dunia dan akhirat.”

Kyai Tiga Kitab bukan hanya kisah kami berempat, tapi juga kisah tentang bagaimana ilmu diwariskan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan keberkahan. Sebuah warisan yang tak tergantikan oleh apa pun di dunia. (bersambung)

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com