• Latest
Sebuah Puisi Esai tentang Ledakan Garut

Sebuah Puisi Esai tentang Ledakan Garut

Mei 12, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sebuah Puisi Esai tentang Ledakan Garut

Redaksiby Redaksi
Mei 12, 2025
Reading Time: 4 mins read
Sebuah Puisi Esai tentang Ledakan Garut
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Laut yang Menjadi Saksi

Oleh Gunawan Trihantoro
(Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Ledakan yang diduga dari amunisi menyebabkan belasan orang tewas di kawasan pantai wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (12/5/2025). Korban saat ini dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pameungpeuk. [1]


Matahari baru saja menyeruak dari selimut kabut,
seperti pisau tumpul yang membelah kelam samar-samar.

Laut Garut Selatan menguapkan asinnya dalam diam,
menyembunyikan kisah-kisah yang tak pernah sampai ke permukaan.

Di bibir pantai, serdadu-serdadu berseragam hijau
menggali lubang-lubang kecil, ritual tanpa doa,
kuburan prematur untuk sesuatu yang seharusnya sudah mati.

“Ini rutinitas,” bisik seorang prajurit,
suaranya retak oleh kebiasaan yang membosankan.

Tangannya, kasar oleh garam dan peluh,
mengusap kaleng amunisi berkarat,
sisa perang yang tak pernah benar-benar pergi,
hantu-hantu besi yang menolak dikubur.

Di kejauhan, Mukin si nelayan tua mengamati dari perahunya,
matanya menyipit menahan silau,

“Mereka menggali lagi,” gumamnya pada angin yang tak peduli.
Laut hanya mendesah, menghempas pantai dengan irama yang tak pernah berubah.

-000-

Pukul 09.30: gemuruh mengoyak sunyi.
Sebelumnya, ada tawa,
beberapa anak nelayan mengintip dari balik pohon kelapa,
ingin melihat “tentara mainan” mereka bekerja.

Lalu dunia berubah warna.
Api melahap angin, membentuk monster raksasa
yang melingkupi langit dalam sekejap.

Serpihan besi beterbangan,
burung-burung besi yang kehilangan sayap,
terbang tak menentu, menusuk daging, tanah, dan air.

Mukin terlempar dari perahunya,
tubuhnya menghantam air yang tiba-tiba menjadi keras.

Di tangannya masih menggenggam jaring,
yang kini berubah menjadi kain kafan kosong.

“Duarrr!” jeritnya, tapi suaranya hilang dalam riuh ledakan.
Di tepian, tubuh seorang prajurit muda tergeletak,
separuh wajahnya masih utuh,
matanya terbuka menatap langit
seperti masih bertanya “kenapa?”

Seragamnya yang hijau kini bernoda merah,
warna yang tak ada dalam buku peraturan.

-000-

RSUD Pameungpeuk menjadi panggung terakhir.
Di ruang dingin yang berbau formalin,
peti-peti berbaris rapi:

  1. Kolonel Antonius –
    “Prajurit teladan” menurut pita di dadanya
    Ayah dari bayi yang belum sempat dia gendong
  2. Mayor Anda – Masih menyimpan tiket konser di dompetnya
    Pertunjukan yang tak akan pernah dia datangi
  3. Agus –
    Penjual kopi keliling
    Pagi tadi masih berjanji pada istrinya
    “Nanti malam aku bawa ikan banyak”
  4. Iyus – Baru saja meminang kekasihnya
    Cincin nikah masih di saku
    Sekarang terkubur bersama jasadnya

Sebelas nama. Tiga belas nama.
Angka yang terus berubah
seperti luka yang tak bisa dijahit oleh statistik.

Seorang ibu menggenggam foto bocah lelaki,
kertas itu basah oleh air mata dan hujan:

“Endang… kau janji pulang sebelum hujan.”

Tapi hujan datang, membasahi tanah
yang menolak melupakan.

-000-

Konferensi pers di markas besar.
Jenderal berbicara dengan kalimat-kalimat halus
yang berputar-putar seperti asap:

“Investigasi masih berjalan…
Prosedur sudah diikuti…
Kami turut berduka…”

Seorang jurnalis muda berdiri,
matanya masih menyimpan kemarahan segar:

“Berapa tahun lagi amunisi tua ini akan membunuhi kami?
Apakah warga sipil harus terus menjadi
tanda kurung dalam laporan kematian?”

Ruangan hening.
Jenderal itu membersihkan keringat di dahinya,
seragamnya yang rapi tiba-tiba terlihat sempit.

ADVERTISEMENT

Di luar, Mukin menatap laut,
“Mereka bicara seperti ombak,” bisiknya,
“Datang dan pergi tanpa pernah menyelesaikan apa-apa.”

-000-

Bulan-bulan berlalu.
Pantai Sagara kembali dipenuhi kehidupan:
Anak-anak berlarian,
mengejar layang-layang yang terbang bebas.

Tapi di antara karang-karang,
serpihan logam masih bersembunyi,
peninggalan yang tak mau pergi.

Di kantor militer,
berkas-berkas investigasi menumpuk,
ditutupi debu seperti amunisi yang mereka musnahkan.

Malam ini, langit Garut masih merah.
Seorang ibu tua duduk di pondoknya,
matanya menatap jauh ke laut:

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

“Ledakan itu belum berhenti, Nak.
Ia masih bergema di telinga kami
yang tak mau tuli.”

Di kejauhan, suara ombak
terus menghantam pantai,
membawa pulang cerita-cerita
yang tak pernah benar-benar selesai.


Rumah Kayu Cepu, 12 Mei 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata berjudul “Belasan Orang Tewas Akibat Ledakan Amunisi di Pantai Garut” yang dimuat di laman https://jrmedia.id/belasan-orang-tewas-akibat-ledakan-amunisi-di-pantai-garut/.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Apakah Sudah Seharusnya Aceh Merdeka?

Apakah Sudah Seharusnya Aceh Merdeka?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com