Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh - 164b3169 ceb9 4c46 8ba1 d14bd63c02b5 | desa | Potret Online
Ilustrasi: Lurah Jepang di Meulaboh
WA FB X

Oleh Dr HT Ahmad Dadek, SH, MH

Saat saya menjabat sebagai Camat di Kecamatan Johan Pahlawan (2004-2006) di Kota Meulaboh, salah satu lurah di wilayah tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan “Lurah Jepang.” Namanya Ismail Ishikawa. Ia menjabat lurah, angkatan Bunda saya, saat Aceh diubah dari gampong ke kelurahan.

Julukan “Lurah Jepang” bukan tanpa sebab. Ismail adalah anak dari seorang bekas tentara Jepang yang menetap di Meulaboh setelah Perang Dunia II. Ayahnya bernama Ishikawa, seorang dokter militer Jepang yang bertugas di Aceh Barat, tepatnya Meulaboh pada masa pendudukan Jepang (1942–1945).

Ketika Perang Dunia II berakhir pada bulan Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika Serikat. Ribuan tentara Jepang yang tersebar di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diperintahkan untuk kembali ke tanah air melalui program repatriasi. Namun tidak semua tentara Jepang pulang ke Jepang.

Sebagian memilih tetap tinggal di Indonesia. Ada yang karena telah menikah dengan perempuan setempat, ada yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan ada pula yang merasa kehidupan baru telah menunggu mereka di tanah yang pernah mereka datangi sebagai tentara dan penjajah.

Baca Juga

Salah satu di antara mereka adalah Ishikawa, dokter tentara Jepang yang kemudian menetap di Meulaboh. Selama masa pendudukan Jepang, ia bertugas sebagai tenaga medis militer. Selain merawat tentara Jepang, ia juga sering membantu mengobati masyarakat setempat. Dari pergaulan dengan penduduk lokal itulah ia mulai mengenal budaya Aceh dan ajaran Islam yang dianut oleh masyarakat di sekitarnya.

Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, Ishikawa sebenarnya memiliki kesempatan untuk kembali ke Jepang bersama rekan-rekannya. Namun ia memilih jalan yang berbeda. Ia memutuskan untuk tetap tinggal di Meulaboh. Keputusan itu bukan hanya mengubah tempat tinggalnya, tetapi juga identitas hidupnya.

Ishikawa kemudian memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Ishaq Ishikawa. Ia tidak lagi hidup sebagai tentara, melainkan sebagai bagian dari masyarakat setempat. Meski sebenarnya seorang dokter, dalam kehidupan sehari-hari ia dikenal masyarakat sebagai mantri jepan, pengobatan modern saat itu, membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.


Di tempat tinggal barunya di Ujong Baroh, ia membangun keluarga. Ia menikah dengan seorang perempuan setempat dan dikaruniai anak-anak yang diberi nama bernuansa Islam dan Indonesia, yaitu Ismail, Isnawati, Istini, dan Iskandar.

Anak-anaknya tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Meulaboh. Mereka bersekolah, bergaul, dan menjalani kehidupan sebagaimana masyarakat di sekitarnya. Meski darah Jepang mengalir dalam tubuh mereka, identitas mereka telah menyatu dengan tanah tempat mereka lahir dan dibesarkan.

Salah satu anaknya, Ismail, bahkan kemudian dipercaya menjadi Lurah di wilayah Johan Pahlawan, sehingga masyarakat mengenalnya dengan sebutan “Lurah Jepang.” Banyak orang Jepang yang datang saat paska tsunami berkenalan dengan Ismail yang kebetulan desanya Ujong Baroh juga dilanda tsunami.

Menurut keterangan pada batu nisannya, Ishaq Ishikawa lahir pada 26 Oktober 1916 dan wafat pada 26 Desember 1964, hari Sabtu, dan dimakamkan di Ujong Baroh, Meulaboh.

Nurman Mbo mengatakan “Saya pernah bertemu dengan kerabat atau keluarga Ishaq Ishikawa di Jepang, keluarga ini sangat ramah, saya berkunjung ke apato (apartemen) nya, beliau sudah paham bahasa Indonesia, Ishikawa San memperlihatkan semua Poto jamannya termasuk tetangganya, salah satu keluarga almarhum Karya Waja dan Waja Intan, di depan SD Inpres Runding.

Keluarga Pak Ishikawa persis seperti keluarga Pak Ismail, humanis dan humble. Ishikawa berasal dari Niigata (新潟) adalah sebuah prefektur di Jepang yang terletak di wilayah Chūbu, tepatnya di kawasan pesisir Laut Jepang pada Pulau Honshu.

Secara geografis, Niigata tidak terlalu jauh dari Tokyo, ibu kota Jepang. Jika ditempuh dengan kereta cepat Shinkansen Joetsu, perjalanan dari Tokyo ke Kota Niigata hanya memakan waktu sekitar dua jam. Kedekatan geografis ini menjadikan Niigata sebagai salah satu wilayah penting yang memiliki hubungan ekonomi dan sosial yang kuat dengan Tokyo.

Nama keluarga Ishikawa (石川) merupakan salah satu marga yang cukup tua dalam tradisi masyarakat Jepang. Secara harfiah, kata Ishikawa berarti “sungai batu” (ishi berarti batu, dan kawa/gawa berarti sungai). Dalam tradisi Jepang, banyak nama keluarga berasal dari unsur geografis atau lanskap alam, sehingga kemungkinan besar nama ini pada awalnya merujuk pada daerah yang memiliki sungai berbatu atau wilayah yang berada di sekitar aliran sungai berbatu.


Kisah Ishaq—yang dahulu bernama Ishikawa—menjadi bagian kecil dari sejarah panjang hubungan antara Jepang dan Indonesia. Ia adalah salah satu dari sekian banyak bekas tentara Jepang yang tidak pernah kembali ke negerinya setelah tahun 1945.

Sebagian dari mereka bahkan ikut membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, sementara yang lain membangun kehidupan baru sebagai petani, pedagang, atau tenaga kesehatan di tengah masyarakat.

Perjalanan hidup Ishikawa yang kemudian dikenal sebagai Ishaq Ishikawa menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu berakhir dengan kepulangan ke tanah asal. Bagi sebagian orang, perang justru membuka jalan menuju kehidupan baru, keluarga baru, dan identitas baru di negeri yang dahulu hanya mereka kenal sebagai medan tugas.

Ishikawa berasal dari Nigata, dekat Tokyo. Pada tahun 1987, Pak Is Lurah Jepang dan Adik laki-lakinya Iskandar pernah berkunjung kesana, dan bertemu dengan adkk Bapak mereka yang bernama Tarmizi Takahasi bersama istri dan anak anaknya, mereka berkunjung ke Jepang lebih kurang satu bulan.

Menurut pengakuan Iskandar, mereka (Ismail dan Iskandar) disuruh menetap di Jepang dan akan dicarikan pekerjaan. Tapi mereka menolak karena ibu mereka Anisa istri Ishak Ishikawa masih ada, Anisa orang Gunong Kleng alias Gunung Kaling, dan kemudian keluarga Jepang menawarkan kepada Iskandar agar tinggal, sebab dia masih lajang, sementara Pak Ismail sudah beranak kecil, Billy.

Tapi Pak Iskandar bertekad pulang dulu, dan keluarga di Jepang menawarkan agar mereka mengambil les bahasa Jepang di Jakarta, dan Iskandar setuju. Namun sampai di Jakarta “Saya lalai dengan nasi Padang, sedang di Jepang semuanya mahal, hari hari hanya makan mie, akhirnya saya tidak tinggal di Jepang, satu keputusan yang sangat saya sesalkan sampai sekarang” Ujar Iskandar adik Lurah Jepang ini.

Dari cerita saya di Fb, rupanya ada beberapa tentara Jepang yang memilih tinggal di Aceh, seperti yang diutarakan oleh Rijal Mutiara, berdasarkan pengalamannya di Meulaboh beberapa tahun lalu ada juga temannya bekerja sebagai sales promotion Sharp di Tokok Brunei Electronic juga keturunan Jepang, namanya Umar Mafazi Yamaguchi. Sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan Jepang, ayahnya dulu berdomisili di Lhok Nga, tapi sekarang sudah tinggal Kutacane Aceh Tenggara.

Sedangkan Edi Miswar Mustafa punya pengalaman dengan seorang perempuan, adik letingnya di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah. Secara fisik ia kelihatan Jepang, meskipun matanya tak begitu sipit. Kulitnya kuning, postur proposional. Namanya Hanna Rukmini. Dari namanya, karena dia orang Aceh, mengapa keluarganya memilih kata ‘Hanna’ sebagai nama? Kata ‘Hanna’ tak jauh bedanya dengan kata ‘hana’ dalam Bahasa Aceh yang berarti ‘tidak’ atau ‘tidak ada’. Lalu dia bercerita bahwa kakeknya, dari pihak ibu, asli Jepang. ‘Hanna’ dalam Bahasa Jepang artinya bunga atau keindahan

ADVERTISEMENT


Sedangkan Umar Dani Ali memiliki pengalaman di Paloh Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe, di sana ada juga eks tentara Jepang yang bertugas sebagai mantri yang membantu masyarakat di bidang pelayanan kesehatan. Nama beliau Teungku Hamid Jepang. Juga masuk Islam dan menikah dengan warga Paloh. Keturunan beliau sekarang ada yang masih tinggal di Paloh dan sebagian ada yang sudah tinggal di Jepang dijemput oleh keluarga Teungku Hamid Jepang


Al Fa juga punya pengalaman yang sama di Langsa, Di Blang Senimong Juga ada Dokter Jepang, Dr Karakawa Kalau tak Salah. Ubat gatal terbaik.

Sedangkan Mus Lim punya pengalaman langsung dengan Pak Ishak Ishicawa “Ingat sekali ketika saya sakit Deman sering dibawa oleh ibu saya ke mantri Jepang untuk berobat dan disuntik di Ujung Raja tempatnya alias Lhong Aneuk Yeu .

Teuku Zulfikar Zulfikar, juga pernah punya pengalaman, “Di Medan ada anak bekas tentara Jepang bernama M Noer Kofusyi”

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Redaksi
Majalah Perempuan Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.