Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Pagi di kota itu selalu datang bersama deru kendaraan dan kilau kaca gedung tinggi. Matahari memantul di jendela kantor pemerintahan yang berdiri tegak di pusat kota. Di lantai paling atas, seorang laki-laki berdiri di depan jendela besar. Ia mengenakan kemeja rapi dan jas yang disampirkan di kursi. Tangannya memegang secangkir kopi yang sudah mulai dingin.
Dari ketinggian itu, kota terlihat seperti papan permainan yang rumit. Jalan-jalan berkelok, kendaraan bergerak seperti titik-titik kecil, dan manusia bergegas menjalani kehidupan masing-masing.
Di meja kerjanya, berkas-berkas tertumpuk rapi. Ada laporan pembangunan, proposal proyek, dan undangan pertemuan dari berbagai pihak. Nama laki-laki itu sering muncul di media sebagai pemimpin muda yang dianggap berhasil.
Namun pagi itu ia tidak membaca satu pun berkas.
Pikirannya melayang jauh, kembali pada percakapan yang terjadi semalam.
Semalam ia menghadiri sebuah jamuan makan bersama beberapa pejabat dan pengusaha. Lampu restoran redup, musik lembut mengalun, dan meja dipenuhi makanan.
Di tengah percakapan tentang proyek dan investasi, salah seorang tamu tertawa keras.
“Menjadi pejabat itu bukan hanya soal bekerja,” katanya sambil mengangkat gelas. “Harus tahu juga bagaimana menikmati hidup.”
Beberapa orang ikut tertawa.
Seseorang yang lain menimpali dengan nada santai, “Betul. Jabatan memberi banyak kesempatan. Tinggal pintar memanfaatkannya.”
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Ia tidak ikut tertawa.
Seorang perempuan muda yang duduk di ujung meja menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Perempuan itu tampak cerdas dan percaya diri. Namun cara beberapa orang memandangnya membuat suasana terasa aneh.
Salah satu tamu berbisik, cukup keras untuk terdengar oleh yang lain.
“Di kota ini, banyak hal bisa diatur. Proyek, jabatan, bahkan hubungan.”
Kalimat itu membuat laki-laki itu meletakkan sendoknya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya.
Setelah jamuan selesai, ia pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pagi itu, sekretarisnya mengetuk pintu.
“Boleh saya masuk?”
“Silakan.”
Seorang perempuan paruh baya masuk membawa map biru.
“Ini jadwal rapat hari ini,” katanya sambil meletakkan map di meja. “Ada pertemuan dengan investor siang nanti, lalu diskusi kebijakan sore hari.”
Laki-laki itu mengangguk.
Namun sebelum sekretarisnya keluar, ia berkata pelan, “Menurut Ibu, apa arti menjadi pemimpin?”
Perempuan itu tampak sedikit terkejut.
“Pertanyaan yang berat untuk pagi hari,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mendengar pendapat.”
Sekretaris itu berpikir sejenak.
“Pemimpin adalah orang yang dipercaya,” katanya akhirnya. “Kepercayaan itu bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal sikap.”
“Apa maksudnya?”
“Orang bisa memaafkan kesalahan. Tetapi sulit memaafkan pengkhianatan.”
Laki-laki itu terdiam.
Sekretarisnya kemudian menambahkan, “Kepercayaan itu seperti kaca. Sekali retak, sulit kembali utuh.”
Setelah mengatakan itu, ia keluar dari ruangan.
Laki-laki itu memandangi pintu yang tertutup.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada laporan pembangunan setebal apa pun.
Beberapa hari kemudian ia memutuskan pulang ke desa tempat ia dilahirkan.
Perjalanan menuju desa memakan waktu beberapa jam. Kota perlahan berganti dengan sawah luas dan rumah-rumah sederhana.
Di halaman rumah kayu yang sudah tua, seorang lelaki tua sedang duduk di kursi bambu. Rambutnya memutih, tetapi tubuhnya masih tegap.
“Sudah lama tidak pulang,” kata lelaki tua itu ketika melihatnya datang.
“Saya sibuk bekerja.”
“Semua orang juga sibuk,” jawab lelaki tua itu sambil tersenyum.
Mereka duduk berdampingan di teras. Angin sore bergerak pelan di antara pohon kelapa.
Setelah beberapa saat, laki-laki itu berkata, “Saya ingin bertanya sesuatu.”
“Tanyakan saja.”
“Menurut Bapak, apa arti menjadi laki-laki?”
Lelaki tua itu tertawa kecil.
“Kamu datang jauh-jauh hanya untuk menanyakan itu?”
“Saya serius.”
Lelaki tua itu memandang sawah di depan rumah sebelum menjawab.
“Menjadi laki-laki bukan soal kekuasaan,” katanya pelan. “Bukan juga soal siapa yang paling dihormati.”
“Lalu?”
“Menjadi laki-laki adalah soal tanggung jawab.”
Laki-laki itu mengerutkan kening.
“Banyak orang punya jabatan,” lanjut lelaki tua itu. “Tetapi tidak semua orang berani bertanggung jawab atas perbuatannya.”
“Di kota, semuanya terasa berbeda,” kata laki-laki itu.
“Berbeda bagaimana?”
“Orang berbicara tentang kehormatan, tetapi kadang bertindak sebaliknya.”
📚 Artikel Terkait
Lelaki tua itu mengangguk perlahan.
“Dunia memang penuh godaan. Tetapi setiap orang tetap punya pilihan.”
“Pilihan?”
“Ya. Pilihan untuk jujur atau tidak. Pilihan untuk menghormati orang lain atau tidak.”
Laki-laki itu terdiam.
Malam datang perlahan di desa. Lampu rumah menyala satu per satu. Tidak ada gedung tinggi atau suara kendaraan yang terus-menerus.
Di meja makan, mereka berbincang lagi.
“Di kota, banyak orang berkata bahwa kekuasaan adalah kesempatan,” kata laki-laki itu.
“Kesempatan untuk apa?”
“Untuk menikmati hidup.”
Lelaki tua itu menatapnya tajam.
“Jika kekuasaan hanya untuk menikmati hidup, berarti ada yang salah.”
“Kenapa?”
“Karena kekuasaan adalah amanah.”
“Amanah?”
“Orang memberikan kepercayaan kepada pemimpin agar ia menjaga mereka, bukan memanfaatkan mereka.”
Laki-laki itu mengangguk pelan.
“Bapak pernah menjadi kepala desa selama dua puluh tahun,” katanya. “Apa yang paling sulit selama itu?”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Menjaga diri sendiri.”
“Maksudnya?”
“Banyak orang datang membawa berbagai tawaran. Ada yang menawarkan uang, ada yang menawarkan bantuan, ada juga yang menawarkan hal lain.”
“Hal lain?”
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.
“Yang paling berbahaya bukanlah uang,” katanya akhirnya. “Yang paling berbahaya adalah ketika seseorang mulai merasa berhak atas orang lain.”
“Berhak?”
“Ya. Berhak atas tubuh orang lain, atas kehidupan orang lain, hanya karena ia memiliki kekuasaan.”
Kalimat itu membuat laki-laki itu teringat pada jamuan makan beberapa hari lalu.
Ia menunduk.
Keesokan paginya mereka berjalan menyusuri sawah.
Para petani sudah mulai bekerja sejak matahari terbit. Suara burung dan angin terdengar jelas.
“Lihat mereka,” kata lelaki tua itu. “Mereka tidak pernah muncul di berita. Tetapi tanpa mereka, kota tidak akan makan.”
Laki-laki itu memperhatikan para petani yang menanam padi dengan sabar.
“Kadang saya merasa kehidupan di kota terlalu jauh dari kenyataan,” katanya.
“Karena di kota orang sering lupa dari mana mereka berasal.”
“Bapak tidak pernah ingin hidup di kota?”
“Tidak,” jawab lelaki tua itu singkat.
“Kenapa?”
“Karena di sini saya tahu siapa diri saya.”
Laki-laki itu tersenyum kecil.
Mereka berjalan sampai ke tepi sawah yang luas.
“Jika suatu hari kamu merasa bingung,” kata lelaki tua itu, “ingat saja satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah memperlakukan orang lain sebagai alat.”
“Termasuk perempuan?”
“Terutama perempuan.”
Laki-laki itu menatap ayahnya.
Lelaki tua itu melanjutkan, “Perempuan bukan hadiah bagi kekuasaan. Mereka manusia yang harus dihormati.”
Angin pagi bergerak pelan melewati padi yang hijau.
Beberapa hari kemudian laki-laki itu kembali ke kota.
Gedung tinggi, lampu jalan, dan rapat panjang menantinya lagi.
Namun kali ini ia membawa sesuatu yang berbeda di dalam pikirannya.
Di sebuah rapat, seorang rekan berkata sambil tertawa, “Kadang saya heran. Mengapa orang begitu serius menjaga citra moral. Padahal yang penting hasilnya.”
Laki-laki itu menatapnya.
“Citra bisa dibuat,” jawabnya pelan. “Tetapi karakter tidak.”
Ruangan menjadi sedikit hening.
Seseorang mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
Namun kata-kata itu sudah terucap.
Setelah rapat selesai, sekretarisnya mendekat.
“Bapak terlihat berbeda hari ini.”
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih tenang.”
Laki-laki itu tersenyum.
“Mungkin saya hanya mengingat sesuatu yang penting.”
“Apa itu?”
“Bahwa kekuasaan bukan milik kita.”
“Lalu milik siapa?”
“Milik kepercayaan orang banyak.”
Sekretarisnya mengangguk.
Malam itu ia kembali berdiri di depan jendela kantornya.
Kota masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu berkilau, kendaraan bergerak tanpa henti, dan kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri.
Namun kali ini ia tidak merasa terjebak di dalamnya.
Ia tahu bahwa menjadi laki-laki dari Tanah Zamrud bukanlah soal jabatan atau kekayaan.
Menjadi laki-laki adalah tentang bagaimana seseorang memperlakukan kekuasaan yang diberikan kepadanya.
Tentang apakah ia memilih menghormati orang lain atau memanfaatkan mereka.
Tentang apakah ia berani menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Di kejauhan, lampu kota berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Laki-laki itu menarik napas panjang.
Ia tahu perjalanan masih panjang.
Tetapi setidaknya ia telah menemukan satu hal yang tidak boleh hilang dari dirinya.
Integritas.
Dan di negeri yang disebut Tanah Zamrud itu, integritas adalah kekayaan yang paling langka.
Namun justru karena itulah, ia harus dijaga.
Bukan hanya oleh satu orang.
Melainkan oleh setiap laki-laki yang ingin tetap layak disebut manusia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





