POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Berbuka Puasa Bersama

Aswan NasutionOleh Aswan Nasution
March 9, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Ramadan kembali menyapa. Dan seperti biasa, sebuah fenomena tahunan kembali mekar lebih subur, malah menjadi trend : Bukber atau Berbuka bersama. Bagi sebagian orang, kalender Ramadan bukan lagi berisi jadwal tadarus, melainkan deretan koordinat lokasi restoran yang sudah dipesan sejak Nisfu Sya’ban.

Ada semacam urgensi eksistensial bahwa jika Anda tidak muncul di satu foto bersama circle sekolah atau rekan kantor, maka kesalehan sosial Anda dianggap cacat permanen.

Dulu, esensi berbuka itu sederhana. Membatalkan puasa, syukur-syukur ada kurma, lalu salat Magrib. Selesai. Sekarang? Bukber berubah menjadi operet keruwetan.
Mulai dari menentukan lokasi yang harus “strategis” (yang artinya macetnya sama rata dari segala arah), tempatnya harus “estetik” (biar kalau di-post di Instagram tidak memalukan silsilah keluarga), sampai menu yang harus mewah.

Kita terjebak dalam pusaran diskusi grup WhatsApp yang lebih alot dari negosiasi gencatan senjata. Ironis, bukan? Ramadan yang seharusnya menjadi madrasah untuk menahan diri, malah berubah menjadi festival mengobral nafsu. Kita dilatih sederhana selama belasan jam, namun mendadak berubah menjadi monster kelaparan saat azan berkumandang.


Cobalah di perhatikan paket All You Can Eat (AYCE) saat Ramadan? Rumah makan atau Cafe yang biasanya sepi, mendadak memasang spanduk besar-besar: “Paket Berkah Ramadan”. Berkah bagi pemilik modal, tentunya, tapi bagi perut kita? Itu musibah yang tersamar.

Otak kita ini penipu ulung saat lapar. Saat perut kosong, ia berbisik: “Kamu sanggup makan kambing guling satu ekor, tujuh macam takjil, dan tiga porsi nasi goreng.” Maka kita pun kalap. Kita pesan tujuh macam takjil hanya untuk membatalkan puasa yang sebenarnya cukup dengan segelas air putih.

Saat bukber di luar rumah, perhatian kita dipaksa beralih pada parade penganan yang menggoda mata. Kita mengoleksi piring di meja seolah-olah sedang menabung untuk masa depan, padahal setelah tiga suapan nasi, perut sudah menyerah. Hasilnya? Mubazir.

📚 Artikel Terkait

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Puisi-Puisi Alkhair Aljohore@ Untuk Aceh

Bangsa Pecundangkah Kita?

HABA Si PATok

Kita membuang makanan atas nama “merayakan kemenangan” seharian berpuasa. Di rumah, hal ini mungkin terjadi, tapi di tempat bukber, potensinya naik 500 persen karena ada faktor gengsi dan “mumpung”.
Mari kita jujur: Kapitalisme itu cerdas. Ia tidak melarang kita beribadah. Ia justru senang kalau kita rajin ibadah, asal setiap sujud dan puasa kita ada versi komersialnya.


Kapitalisme menggunakan senjata paling mematikan abad ini: FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan tren. Bukber bukan lagi soal silaturahmi, tapi soal ritual wajib “fotbar” (foto bareng) lalu segera diunggah ke Story. Ini adalah panggung pembuktian sosial. Kalau Anda tidak ikut, Anda dianggap tidak solid. Kalau menolak, dibilang ansos (antisosial).


Akhirnya, banyak orang datang ke acara bukber bukan karena rindu dengan kawan lamanya, tapi karena takut dianggap “hilang dari peredaran”. Kita rela menguras dompet demi status sosial yang—kalau mau jujur—tidak penting-penting amat bagi keselamatan di akhirat. Kita membayar mahal hanya untuk duduk satu meja, lalu masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri setelah makanan habis.


Lalu ada masalah teknis yang lebih filosofis: Waktu. Waktu berbuka ke Magrib itu sempit sekali. Ibarat napas pendek setelah lari maraton. Di tempat bukber, kita sering dihadapkan pada pilihan simalakama. Mau salat Magrib dulu? Kursi yang susah payah Anda pesan bisa jadi raib atau “dijajah” piring orang lain. Mau makan dulu? Kita cenderung makan dengan terburu-buru, menyiksa kerongkongan dengan nasi berat demi mengejar waktu salat.


Padahal, pola makan yang benar itu ada seninya. Rasulullah mengajarkan yang ringan dulu—takjil, air putih—lalu salat. Makan nasi? Nanti saja setelah tarawih. Tapi di panggung bukber kapitalis, pola ini rusak total. Kita menghajar nasi secepat kilat karena takut waktu Magrib habis atau takut kehilangan momen mengobrol. Perut kembung, salat pun jadi tidak khusyuk karena napas terasa sesak oleh rendang yang belum sempat dikunyah sempurna.


Bukber sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah ketika kita membiarkan dompet dan esensi ibadah kita didekte oleh tren dan rasa takut akan penilaian manusia. Kita tidak perlu membuktikan hubungan sosial yang baik lewat tagihan restoran yang membengkak.


Silaturahmi yang sejati tidak butuh cahaya lampu chandelier atau paket AYCE yang mahal. Ia hanya butuh hati yang hadir dan telinga yang mau mendengar, bahkan jika itu hanya ditemani segelas teh hangat dan gorengan di teras rumah.


Sudah saatnya kita berhenti menjadi pion dalam papan catur komersialisasi agama. Kembalikan meja buka puasa menjadi tempat sujudnya syukur, bukan mimbar pamer kemewahan. Karena pada akhirnya, yang dicatat oleh malaikat bukanlah berapa banyak “like” di foto bukber Anda, melainkan seberapa tulus Anda berbagi rasa syukur tanpa harus membuat dompet menjerit ketakutan. Selamat berbuka, dengan sadar dan sederhana.


Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 74x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Arsip Nestapa di Panggung Malam

Arsip Nestapa di Panggung Malam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00