Dengarkan Artikel
Oleh Aziz
untuk seorang Ksatria
Di belantara sunyi bernama asrama
Seorang lelaki muda menapakkan takdirnya
Dengan langkah yang masih gamang
Lorong-lorong panjang bergaung lirih
Menyimpan gema rindu yang tak sempat pulang
Pada malam-malam mula,
Ia menekuri jendela langit yang jauh
Menitipkan doa pada gugus bintang yang pucat
Di lembar buku yang sepi
Ia mengarsipkan nestapa
Tentang rumah yang tertinggal di belakang waktu
Tentang ibu yang kini hanya hadir dalam ingatan hangat
Tentang ayah yang suaranya hidup
Di sela-sela desir angin malam
Hari-hari menjelma labirin yang melelahkan
Disiplin berdiri seperti tembok batu
Dan hatinya sering hampir runtuh
seperti lilin rapuh di hadapan angin takdir
Putus asa pernah singgah
seperti hujan panjang di musim batin
Pelan-pelan ia menumbuhkan keberanian
Mengikat tekad pada tiap halaman buku
Menyulut pikirannya di meja belajar yang panjang
Menjadikan malam sebagai saksi
Bahwa kegigihan adalah doa yang bekerja diam-diam
Waktu pun bergulir seperti sungai yang tabah
Pada suatu pagi yang penuh gema
Namanya dipanggil di hadapan banyak wajah
Sebuah amanah disematkan di pundaknya
ketua OSIM
Panggung besar baginya mimpi yang pernah hampir tenggelam.
Di ruang debat
Kata-katanya menjelma bara yang menyala
Di medan olimpiade
Akalnya menari lincah melampaui keraguan
Prestasi demi prestasi tumbuh perlahan
Seperti konstelasi bintang
Yang lahir dari malam paling gelap
📚 Artikel Terkait
Dan tibalah suatu malam yang gemilang
Panggung cahaya membuka tirainya
Ia berdiri tegak di sana
Bukan lagi anak yang menyimpan luka di dada
Melainkan pemuda yang mengubah nestapa
menjadi mahkota ksatria
Di kejauhan
Sepasang mata orang tuanya berkilau haru
Mereka membaca kisahnya tanpa kata
Bahwa dari arsip nestapa yang pernah ditulis malam
Lahir cahaya yang kini mereka banggakan
Dan kini
Gerbang sekolah itu telah ia lewati
Dengan langkah yang matang
Ijazah di tangannya
laksana peta menuju cakrawala yang lebih luas
Ia akan berlayar ke negeri orang
Menggapai mimpi yang menjulang di ufuk masa depan
Dalam dadanya bersemayam keyakinan sunyi
Bahwa tanah asing itu
akan menjadi taman bagi cita-citanya berbunga
Sebab ia telah belajar
Dari malam-malam panjang dan lorong-lorong sepi
bahwa mereka yang pernah retak oleh luka
Namun bangkit dengan keteguhan
Adalah mereka
Yang kelak menulis takdirnya sendiri di langit dunia
Dari arsip nestapa
Yang dahulu disimpan rapat oleh malam
Telah lahir cahaya
Yang kini berlayar menuju cita cita yang gemilang
Demikian puisi ini ditulis untuk seorang ksatri tangguh yang kisah hidupnya di abadikan dalam puisi ini.
Naufal Aziz, seorang pemuda yang akrab dipanggil Nopallahir di kota Langsa pada tanggal 19 Februari 2006. Ia merupakan salah seorang mahasiswa aktif di Universitas Syiah Kuala. Ia saat ini sedang menempuh S1 Pendidikan Bahasa Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Ia Dilahirkan dari rahim seorangWanita yang sangat hebat bernama Nurmaiah Harahap, berpasangan dengan seorang pria bernama Mahlil Sadli S.pd. Ia merupakan alumni MAN INSAN CENDEKIA Aceh Timur (2024), MTSs MUQ Langsa (2021), dan SDN Alue Merbau(2018).
Menulis bukanlah keahlian yang dimiliki, namun kalautidak mencoba takkan tahu hasilnya. Karena “takutmu adalahkemenanganmu”. Beberapa buku yang telah ditulis dan terbitdiantaranya: Antologi Puisi: Nelangsa Di Bawah Senja (dalambuku simfoni tahun 2023), Serenade Moderasi (dalam bukukanvas rencong tahun 2024), Sang Penguasa Jenaka (dalambuku antalogi puisi serumpun 2024.4). Senyap DOM RintihanBumi Aceh yang diterbitkan di dalam website milik Negeri Kertas (https://www.negerikertas.com/2024/02/puisi-puisi-naufal-aziz.html). Ia bisa dihubungi melalui narahubungWA/HP: 081263191975 dan dapat dijumpai pada akun media sosial, Instagram: @nopalazxz__, Facebook: Naufal aziz, dan email: na1296711@gmail.com.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






