Dengarkan Artikel
- Pengantar Buku 50 Pemenang Festival Puisi Esai 2025
Oleh Denny JA
Pagi itu hujan turun seperti tidak pernah ingin berhenti.
Di sebuah desa kecil di kaki bukit Sumatra, seorang ibu terbangun oleh suara yang tidak biasa. Bukan petir. Bukan angin. Melainkan gemuruh panjang, seperti gunung yang bergerak pelan di dalam gelap.
Beberapa detik kemudian tanah bergetar.
Air datang bukan sebagai hujan, tetapi sebagai dinding lumpur yang berlari dari hulu. Pohon-pohon tumbang terbawa arus. Batu-batu besar saling menghantam. Rumah-rumah yang selama puluhan tahun berdiri tiba-tiba rapuh seperti mainan kayu.
Orang-orang berteriak memanggil nama keluarga mereka.
Seorang ayah mencoba menyelamatkan anaknya. Seorang nenek berdiri terpaku melihat halaman rumahnya berubah menjadi sungai coklat yang ganas. Dalam hitungan menit, jalan desa hilang. Lampu padam. Dan malam terasa lebih gelap dari biasanya.
Ketika pagi datang, desa itu tidak lagi sama.
Yang tersisa hanyalah lumpur, potongan kayu, dan kesunyian yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Di berbagai tempat di Sumatra pada tahun 2025, kisah seperti ini berulang. Banjir bandang. Longsor. Sungai yang meluap melampaui batasnya. Alam seolah sedang berbicara dengan bahasa yang keras.
Namun di tengah semua itu, yang paling sunyi justru satu hal: ingatan manusia.
Karena dunia modern sering kali hanya mengingat bencana melalui angka.
-000-
Di dunia yang dipenuhi statistik, tragedi kemanusiaan sering kehilangan wajahnya. Kita membaca laporan korban. Ratusan meninggal, ribuan rumah rusak, puluhan ribu mengungsi. Tetapi angka tidak pernah menangis.
Antologi ini hadir untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia memberi wajah pada statistik itu.
Banjir ini bukan sekadar kiriman langit, melainkan keputusan manusia: izin yang dilonggarkan, hutan yang dibiarkan licin, dan kebijakan yang memilih keuntungan jangka pendek, bukan keselamatan warga dan sungai.
Buku ini merupakan kumpulan karya pemenang lomba puisi esai dalam Festival Puisi Esai 2025 yang diikuti oleh 1.212 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 844 karya lolos seleksi administrasi dan kemudian disaring hingga menjadi karya terbaik yang dibukukan.
Festival ini dikoordinasikan oleh Nita Lusaid, yang memimpin penyelenggaraan lomba sekaligus mengawal proses editorial buku ini. Melalui kerja panjang tersebut, ratusan suara dari berbagai daerah akhirnya bertemu dalam satu antologi yang sama.
Tema besar yang menyatukan karya-karya ini dirangkum dalam satu kalimat yang sederhana namun mengguncang:
“Kembali mencintai bumi setelah Sumatra menangis.”
-000-
Antologi ini mengangkat satu peristiwa besar: banjir bandang, longsor, dan bencana ekologis yang melanda Sumatra pada 2025.
Di tengah runtuhnya rumah dan rubuhnya bukit, yang masih dapat kita selamatkan adalah cara bercerita. Melalui puisi esai, kita menyusun kembali makna dari puing-puing itu.
Namun buku ini tidak sekadar menggambarkan bencana. Ia membuka tiga lapisan tragedi yang saling berkelindan.
Pertama, tragedi manusia.
Keluarga yang hilang. Anak-anak yang menjadi yatim. Rumah yang lenyap dalam satu malam.
Kedua, tragedi ekologis.
Hutan yang gundul. Sungai yang kehilangan batasnya. Tanah yang tak lagi mampu menahan hujan.
Ketiga, tragedi moral.
Keserakahan manusia yang terlalu lama memperlakukan alam hanya sebagai komoditas.
Dengan kata lain, buku ini tidak hanya bertanya mengapa banjir terjadi. Ia mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi tetapi lebih mendasar.
Mengapa manusia membiarkan banjir itu lahir.
-000-
Apa Itu Puisi Esai?
Puisi esai adalah bentuk sastra yang relatif baru di Indonesia. Ia lahir dari satu kegelisahan: bagaimana puisi tetap indah, tetapi juga mampu berbicara langsung kepada kenyataan sosial yang sering terlalu pahit untuk diabaikan.
Dalam bentuknya, puisi esai merupakan perpaduan antara puisi, jurnalisme, dan refleksi sosial. Ia memadukan emosi puitik dengan fakta yang dapat diverifikasi.
Ciri utamanya ada tiga.
Pertama, puisi ini berbasis peristiwa nyata.
Kedua, ia sering dilengkapi catatan kaki atau referensi.
Ketiga, ia mengangkat isu sosial seperti diskriminasi, ketidakadilan, kemiskinan, atau tragedi kemanusiaan.
Dalam puisi biasa, penyair bebas menciptakan dunia imajinasi yang sepenuhnya subjektif. Dalam puisi esai, imajinasi tetap hadir, tetapi kakinya tetap menjejak realitas.
Karena itu puisi esai sering disebut sebagai puisi yang berjalan bersama sejarah.
Puisi esai pertama kali saya gagas pada tahun 2012 melalui buku Atas Nama Cinta: Kisah-Kisah Diskriminasi yang Dituturkan Lewat Puisi.
Buku tersebut mengangkat kisah nyata diskriminasi sosial, tetapi disampaikan dalam bentuk puisi yang tetap berpijak pada fakta. Dengan cara ini tragedi sosial tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga dirasakan secara emosional.
Sejak saat itu puisi esai berkembang menjadi sebuah gerakan sastra baru di Indonesia.
Dalam lebih dari satu dekade, puisi esai melampaui batas Indonesia. Gerakan ini kini menjangkau Asia Tenggara melalui Festival Puisi Esai ASEAN yang telah diselenggarakan hingga edisi kelima di Malaysia.
Inovasi ini juga mendapat pengakuan internasional. Pada tahun 2025 saya menerima BRICS Literature Award atas kontribusi menciptakan bentuk sastra yang memadukan keindahan puisi dengan kesaksian sosial.
Keunggulan puisi esai terletak pada kemampuannya:
- menyentuh emosi pembaca
- menghadirkan konteks sosial yang faktual
- menjadikan sastra sebagai medium kesadaran atas luka sosial
Dalam puisi esai, kata-kata bukan sekadar metafora. Ia menjadi dokumen kemanusiaan.
Ia memberi suara kepada mereka yang sering tidak terdengar.
Dan ia mengingatkan kita bahwa sastra tidak hanya diciptakan untuk keindahan bahasa, tetapi juga untuk menjaga ingatan moral sebuah zaman.
-000-
📚 Artikel Terkait
Ada lima puluh puisi esai yang menang lomba Festival Puisi Esai 2025 dan didokumentasikan dalam buku ini. Dari sekian banyak karya yang menggugah, saya menyinggung tiga puisi yang paling dramatis.
1. “Biji Mahoni di Saku Celana Ayah”
Penulis: Gita Utami
Puisi ini menceritakan seorang anak bernama Nurmina yang kehilangan ayahnya dalam banjir bandang. Ketika jasad ayahnya ditemukan, yang tersisa di saku celana sang ayah bukan sepatu baru yang dijanjikan, melainkan biji mahoni. Benih pohon yang ingin ia tanam untuk menjaga tanah dari longsor.
Simbol ini sangat kuat.
Biji mahoni menjadi metafora bahwa harapan manusia sering kali lebih kecil dari bencana, tetapi tetap lebih kuat daripada keputusasaan.
-000-
2. “Jejak Cuak di Lumpur Sawang”
Penulis: Yesrun Eka Setyobudi
Puisi ini mengangkat konflik batin seorang warga yang pernah membantu penebang liar membuka jalan ke hutan. Ketika banjir bandang datang dan membunuh pemimpin adat penjaga hutan, ia menyadari bahwa bencana itu tidak sepenuhnya alami.
Ia adalah akibat dari pengkhianatan manusia terhadap alam.
Puisi ini dramatis karena menggambarkan satu perasaan yang paling berat dipikul manusia. Rasa bersalah yang datang terlambat.
-000-
3. “Derai Pilu Si Kecil”
Penulis: Dewi Arimbi
Puisi ini terinspirasi dari kisah nyata bayi bernama Fathan yang selamat dari banjir bandang sementara seluruh keluarganya meninggal dunia.
Ia hanyut semalaman di antara lumpur dan kayu.
Yang menyelamatkannya adalah akar pohon yang masih tersisa di tanah.
Puisi ini menyampaikan pesan yang sederhana tetapi menghantam.
Alam yang rusak masih mencoba menyelamatkan manusia yang merusaknya.
-000-
Mengapa Buku Ini Penting
Ada tiga alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bukan sekadar karena ia menghadirkan puisi, tetapi karena ia menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ingatan, kesadaran, dan suara hati zaman.
Pertama, ia menyimpan memori bencana.
Statistik sering dicatat dengan rapi, tetapi mudah dilupakan. Angka korban, luas hutan yang hilang, tinggi banjir yang tercatat dalam laporan resmi.
Namun angka jarang tinggal lama di hati manusia.
Yang tinggal justru rasa. Rasa kehilangan. Rasa takut. Rasa duka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di sinilah puisi bekerja.
Puisi tidak hanya mencatat apa yang terjadi, tetapi menyimpan bagaimana sebuah peristiwa dirasakan.
Melalui bahasa yang peka dan imajinasi yang jujur, buku ini menjadi arsip moral dari tragedi ekologis. Ia memastikan bahwa bencana tidak hanya tercatat sebagai peristiwa, tetapi juga dikenang sebagai luka bersama bangsa.
-000-
Kedua, ia menghubungkan sastra dengan realitas sosial.
Sebagian karya sastra berbicara tentang perasaan individu. Tetapi dunia kita hari ini menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.
Kita hidup di masa ketika hutan menyusut, sungai tercemar, dan iklim berubah. Keputusan politik dan ekonomi menentukan nasib bumi yang kita tinggali bersama.
Antologi ini berbicara tentang
- hutan yang ditebang tanpa jeda
- sungai yang kehilangan kejernihannya
- kebijakan yang sering melupakan alam
- masa depan bumi yang sedang dipertaruhkan
Dengan cara itu sastra tidak lagi berdiri jauh dari kenyataan. Ia masuk ke dalam percakapan publik dan menjadi ruang refleksi sosial.
-000-
Ketiga, ia menghidupkan kembali fungsi moral sastra.
Sejak dahulu sastra tidak hanya diciptakan untuk hiburan. Ia adalah suara hati masyarakat.
Dalam sejarah panjang peradaban, penyair sering menjadi saksi zaman. Mereka menyuarakan kegelisahan ketika kekuasaan terlalu keras, ketika ketidakadilan terlalu lama dibiarkan, atau ketika manusia mulai lupa pada batas-batasnya sendiri.
Tradisi itu hidup kembali dalam buku ini.
Puisi-puisi di dalamnya tidak hanya meratap atas bencana. Ia juga menegur dengan lembut tetapi tegas.
Ia mengingatkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dihitung dalam angka ekonomi.
Alam adalah rumah bersama. Tempat manusia, hewan, sungai, dan hutan saling bergantung dalam jaringan kehidupan yang rapuh.
Ketika rumah itu terluka, pada akhirnya manusialah yang akan merasakan lukanya.
Karena itulah buku ini penting. Bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk diingat.
-000-
Berikut dua buku puisi dunia yang kuat menggambarkan drama manusia sekaligus kerusakan ekologis. Keduanya menunjukkan bagaimana sastra mampu menjadi saksi ketika alam dan manusia sama-sama terluka.
1. Field Work
Penulis: Seamus Heaney
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun terbit: 1979
Buku puisi ini lahir dari tanah Irlandia yang penuh luka. Dalam Field Work, Seamus Heaney menulis tentang ladang, rawa, sungai, dan tanah yang tampak tenang tetapi menyimpan sejarah kekerasan manusia.
Alam tidak digambarkan sekadar latar, melainkan saksi bisu penderitaan. Lumpur dan tanah basah menjadi metafora tentang ingatan yang tidak pernah benar-benar terkubur.
Puisi-puisi Heaney terasa seperti percakapan sunyi antara manusia dan bumi. Ia mengingatkan bahwa ketika manusia melukai sesamanya, ia juga sedang melukai tanah tempat ia berpijak.
2. The Carrying
Penulis: Ada Limón
Penerbit: Milkweed Editions
Tahun terbit: 2018
Dalam buku ini Ada Limón menulis dengan suara yang sangat personal sekaligus kosmik. The Carrying berbicara tentang tubuh manusia, kesedihan, harapan, dan alam yang terus berubah di sekitar kita.
Di tengah kecemasan zaman tentang krisis iklim, Limón menatap dunia dengan kepekaan yang hampir spiritual. Burung bermigrasi, ladang mengering, musim terasa tidak lagi sama.
Puisi-puisinya menghadirkan pertanyaan yang lembut tetapi menghantam. Bagaimana manusia tetap mencintai dunia yang perlahan ia rusak sendiri.
-000-
Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah kesaksian zaman.
Di dalamnya kita menemukan anak yang kehilangan ayah, ibu yang kehilangan rumah, hutan yang kehilangan pohon, dan bumi yang kehilangan kesabaran.
Namun di tengah semua luka itu, buku ini tetap menyisakan harapan.
Harapan bahwa manusia masih bisa belajar.
Bahwa setelah Sumatra menangis, manusia masih punya kesempatan untuk kembali mencintai bumi.
Pada akhirnya, pengantar ini menegaskan bahwa sastra adalah benteng terakhir ingatan. Ia mengubah jerit sunyi Sumatra menjadi komitmen kolektif, memastikan bahwa air mata korban tidak menguap sia-sia tanpa perubahan.
Dan mungkin di situlah makna terdalam puisi esai.
Menjadikan luka sebagai pengingat, agar kesalahan tidak diulang oleh generasi berikutnya.***
Jakarta, 8 Maret 2026
REFERENSI
1. Field Work, Seamus Heaney
Farrar, Straus and Giroux, 1979
2. The Carrying, Ada Limón
Milkweed Editions, 2018
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






