Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan*
Maraknya merubah foto menjadi kartun menggunakan kecerdasan buatan lalu meng-upload-nya ke media sosial menjadi mainan baru bagi guru, terutama bagi guru yang haus teknologi. Seolah-olah terprovokasi dengan hasil kreasi teman-teman guru, penulis pun mencoba membuat pemanfaatan kecerdasan buatan. Asyik memang belajar sesuatu yang baru apalagi berbasis tehnologi.
Menurut Jon Darmawan, doktor dari Unimed, dalam penjelasannya saat saya mengadakan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk guru di sekolah pertengahan September 2025, teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan saat ini menjadi salah satu inovasi paling penting dalam dunia teknologi.
AI telah membawa transformasi yang mengesankan dalam berbagai sektor kehidupan kita. Dengan kemampuannya untuk memproses data besar-besaran dan belajar dari pengalaman, AI telah mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kini banyak Alat kecerdasan buatan generatif yang canggih memungkinkan siapa pun membuat gambar, video, audio, dan kloning suara manusia yang sangat realistis dalam hitungan detik, dengan biaya minimal.
Menurutnya, AI adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Menekankan pengembangan intelijen mesin, pola berpikir dan bekerja seperti manusia. Misalnya, pengenalan suara, pemecahan masalah, pembelajaran, dan perencanaan.
Secara harfiah AI adalah kecerdasan atau teknologi yang dibuat dan diciptakan oleh manusia di dalam suatu mesin yang hakikatnya mempermudah kerja manusia.
Sebagai contoh, Deutch Bank melakukan PHK ribuan karyawannya dan mengganti dengan mesin AI. Drone-drone militer dibuat dengan kandungan AI. Di dalam Google Maps dan game on line juga memiliki AI.
Seperti teknologi lainnya, AI dapat digunakan untuk tujuan yang sah dan tidak sah. Oleh sebab itu, teknologi AI juga perlu disikapi dengan bijak, tanggung jawab dan beretika, sehingga dampaknya tidak saling berbenturan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Penting bagi masyarakat dan regulator untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan ini dan memastikan bahwa AI digunakan untuk kebaikan bersama.
Sebagai contoh, AI bisa meretakkan hubungan kekeluargaan yang merupakan sendi dasar sosial Islam. Di tempat tidur suami-istri saling membelakangi sambil larut dalam HP masing-masing. Satu keluarga di ruang tamu tanpa berbincang karena semuanya asyik dengan HP masing-masing. AI bisa mendorong individualisme. Dan individualisme merupakan embrio liberalisme.
Kehilangan Keterampilan
📚 Artikel Terkait
Kehadiran teknologi AI telah membawa dampak negatif yang signifikan, yaitu kemampuan manusia untuk dengan mudah melewati hambatan pertanyaan dan bentuk kesulitan apa pun.
Saat kita memiliki akses mudah ke AI yang dapat memberikan jawaban instan, tentu ini mengancam kreativitas, kehilangan motivasi, dan kemampuan berpikir kritis serta kemandirian dalam membuat sesuatu.
Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengevaluasi informasi dengan kritis, mengidentifikasi argumen yang valid, dan membuat keputusan yang berdasarkan pada bukti yang kuat.
Selain itu, teknologi AI juga dapat dengan mudah digunakan untuk menghasilkan konten yang menyesatkan atau merugikan. Banyak orang telah memanfaatkan kemampuan AI untuk menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi opini publik dengan cepat.
Apalagi jelang pemilu 2024, banyak konten palsu dibuat secara digital menyebar jauh dan cepat sehingga berpotensi membawa tipu muslihat kampanye ke titik terendah
Ketika mencari jawaban dari berbagai persoalan, seseorang tidak lagi bertemu dengan pakar atau ahli dalam bidang tertentu, tapi jawabannya datang dari mesin, hal inilah yang sangat penting untuk kita sikapi bersama. Hal ini dapat merusak kepercayaan masyarakat pada informasi yang diterima dan mengganggu proses pengambilan keputusan yang rasional.
Namun dibalik itu, AI memiliki sejumlah dampak positif. Berbeda dengan manusia, AI dapat bekerja tanpa henti 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Dengan AI, keputusan diambil berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya dengan menggunakan algoritma tertentu dapat mengurangi kesalahan, meningkatkan akurasi (mengurangi human error), lebih efisiensi dan produktivitas.
Selain itu, AI telah membuktikan kemampuannya menganalisis data dalam jumlah besar dan dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih akurat di berbagai bidang (pengambilan keputusan yang cepat)
Oleh karena itu, untuk melindungi pekerjaan dan kreatvitas, serta tetap relevan di tengah perkembangan AI yang sangat pesat, kita perlu inovatif, terus belajar, dan beradaptasi.
AI sebagai Teman
Tak lupa, penting juga untuk memahami AI itu sendiri dan berpikir kreatif dalam memaksimalkan penggunaan AI. Jangan jadikan AI sebagai lawan, namun jadikanlah sebagai teman. Sebagai manusia, kita memiliki keunggulan dalam kreativitas, pemikiran strategis, dan kemampuan beradaptasi yang sulit ditiru oleh AI. Mengapa demikian? Karena mesin paling cerdas di dunia adalah otak manusia dan kita tidak akan membangun AI yang lebih pintar dari otak manusia.
AI bukanlah makhluk hidup, ia tidak sadar, dan ia tidak akan menjadi lebih pintar dari kita. Tidak ada kecerdasan buatan tanpa manusia. Orang-orang yang menciptakan algoritma dan informasi yang membentuk AI untuk mengambil keputusan lebih cepat dibandingkan manusia. Ini tidak berarti keputusan yang diambil selalu benar atau bijaksana atau selalu memberikan hasil yang benar.
Secara keseluruhan, teknologi AI memiliki potensi besar sebagai sebuah peluang dan juga menghadirkan tantangan yang perlu diatasi. Kendati beberapa pekerjaan mungkin akan tergantikan oleh AI, tetapi peluang profesi baru juga akan muncul.
Dalam menghadapi tantangan di masa depan, kolaborasi antara manusia dan AI menjadi kunci keberhasilan. Dengan sikap yang positif, kemauan untuk terus belajar, dan kemampuan beradaptasi, kita dapat memanfaatkan potensi AI dengan bijak dan membangun masa depan yang lebih baik.
Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






