• Latest
Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

Februari 28, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Februari 28, 2026
Reading Time: 3 mins read
Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Kita lanjutkan polemik mobil pikap impor dari India. Makin panas, jelas. Karena membeli pikap itu gunakan uang rakyat. Semakin membara, partai koalisi justru ikut menyerang kebijakan Prabowo itu. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!

Kalau PDIP mengkritik, itu biasa. Refleks politik. Otot oposisi memang dilatih untuk itu. Namun ketika partai-partai koalisi sendiri mulai angkat suara, di situlah publik mendadak berhenti mengunyah gorengan dan menatap layar lebih serius. Kebijakan impor 105.000 unit pikap dan truk ringan senilai Rp 24,66 triliun oleh PT Agrinas Pangan Nusantara mendadak bukan cuma soal kendaraan, melainkan soal keberanian politik.

Di tengah visi Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian industri dan penguatan produksi dalam negeri, kontrak impor dari India yang mencakup 35.000 Mahindra Scorpio Pick-Up, 35.000 Tata Yodha Pick-Up, dan 35.000 Ultra T.7, terasa seperti adegan yang tidak sinkron dengan soundtrack nasionalisme ekonomi. Uang muka sudah dibayar 30% atau Rp 7,39 triliun. Klaim penghematan disebut mencapai Rp 46 triliun dibanding membeli produk lokal. Namun di sisi lain, ada proyeksi potensi gerusan PDB hingga Rp 39 triliun jika industri dalam negeri terdampak.

PDIP melalui Ketua Banggar DPR Said Abdullah terang-terangan meminta pembatalan. Ia menilai kebijakan ini berpotensi menggerus ekonomi nasional dan menunjukkan manajemen Agrinas belum sepenuhnya memahami arah besar presiden. Bagi oposisi, kritik semacam ini wajar. Itulah fungsi kontrol.

Yang membuat situasi berubah nada adalah suara dari partai koalisi sendiri. Dari Partai Golkar, Idrus Marham menyatakan dukungan terhadap penundaan kebijakan. Ia sejalan dengan seruan agar keputusan besar seperti ini dikaji ulang. Rekannya sesama kader Golkar di Komisi IV, Firman Soebagyo, bahkan menyindir agar pidato tentang kemandirian industri tidak berhenti sebagai slogan. Golkar bukan partai kecil dalam koalisi. Suara mereka biasanya identik dengan stabilitas dukungan.

Dari Partai Demokrat, anggota Komisi VI Herman Khaeron mengaku terkejut karena rencana impor jumbo ini tidak pernah dibahas detail dalam rapat dengar pendapat. Ia merasa DPR seperti mengetahui kabar ini justru dari media. Rasa “kecolongan” yang diungkap Demokrat menambah daftar panjang keganjilan komunikasi politik dalam kebijakan ini.

Gerindra sendiri, sebagai partai presiden, juga tidak menampilkan sikap serba membela. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad meminta agar keputusan final menunggu kepulangan presiden dari luar negeri. Pernyataan itu memang diplomatis, tetapi tetap menunjukkan bahwa kebijakan ini belum solid di lingkar dalam koalisi.

Di Komisi VI, Wakil Ketua Nurdin Halid menegaskan, impor harus sesuai UUD 1945 dan kepentingan nasional. Kalimat normatif, tetapi dalam konteks ini terasa sebagai alarm. Jika semua baik-baik saja, biasanya tidak perlu ada pengingat konstitusional.

Fakta di lapangan menambah tekanan. Sekitar 1.000 unit sudah tiba di Tanjung Priok, dengan laporan hampir 1.000 Mahindra Scorpio dan 552 unit telah keluar dari TPS setelah clearance. Barangnya sudah nyata. Jika dibatalkan, ada potensi penalti bisnis. Jika dilanjutkan, kritik politik membesar.

Inilah yang membuat judul ini terasa relevan. Partai pendukung mulai berani menyerang kebijakan presiden. Serangan itu mungkin masih dibungkus kata “evaluasi”, “penundaan”, atau “kajian ulang”, tetapi substansinya jelas, keberatan. Dalam politik koalisi, keberanian semacam ini bukan hal lumrah, terutama di awal pemerintahan yang biasanya masih dalam fase konsolidasi.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Publik kini menyaksikan dinamika yang jarang terjadi. Oposisi bersuara keras, koalisi ikut mengerem, dan kebijakan bernilai triliunan berada di persimpangan. Apakah ini pertanda koalisi yang kritis dan sehat? Atau sinyal adanya retakan komunikasi di tingkat elite? Yang pasti, kebijakan impor pikap ini telah berubah menjadi panggung ujian solidaritas politik.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Sigupai Mambaco, hadir di Ramadan Fair

Sigupai Mambaco, hadir di Ramadan Fair

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com