POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Pasca Segalanya

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 3, 2026
Bisakah Aceh ‘Merdeka’ Secara Struktural di Bawah NKRI?
🔊

Dengarkan Artikel

Dari Kolonialisme, Konflik, Tsunami, hingga Luka Ekologi

Oleh: Dayan Abdurrahman

Aceh adalah tanah yang terlalu lama hidup di bawah kata pasca. Pasca-kolonialisme, pasca-konflik, pasca-tsunami. Setiap fase besar sejarah selalu ditandai oleh kata “setelah”, seakan-akan Aceh terus bergerak maju tanpa sempat benar-benar berhenti untuk memaknai apa yang telah terjadi. Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang telah Aceh lewati, melainkan: apa arti semua pengalaman itu bagi masa depan Aceh sendiri?

Sebagai bangsa yang pernah memimpin dirinya sendiri, Aceh tidak lahir dari kekosongan sejarah. Kesultanan Aceh Darussalam pernah menjadi pusat politik, perdagangan, dan keilmuan di kawasan Samudra Hindia. Nama-nama seperti Sultan Iskandar Muda bukan sekadar simbol kejayaan, tetapi penanda bahwa Aceh pernah berdiri sebagai subjek penuh dalam pergaulan dunia. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk watak perlawanan Aceh ketika kolonialisme datang.

Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda bukan hanya perlawanan senjata, tetapi perlawanan martabat. Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan ratusan nama lain—yang sebagian besar bahkan tidak tercatat sejarah resmi—mewakili satu gerakan besar: gerakan rakyat Aceh untuk tetap berdaulat atas tanah dan hidupnya sendiri. Ulama seperti Teungku Chik di Tiro menjahit perlawanan itu dengan etika dan keyakinan, menjadikannya bukan sekadar perang, tetapi perjuangan bermakna.

Kolonialisme memang berakhir secara formal, tetapi warisannya tidak pernah benar-benar pergi. Pola relasi pusat–daerah, logika penguasaan sumber daya, dan cara pandang terhadap Aceh sebagai wilayah yang “harus dikendalikan” terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Pada masa Indonesia merdeka, dari era Soekarno, Soeharto, hingga presiden-presiden setelah reformasi, Aceh kerap ditempatkan dalam kerangka stabilitas nasional—sering kali lebih sebagai objek kebijakan ketimbang mitra dialog.

Konflik bersenjata yang panjang pada akhirnya bukan hanya konflik politik, tetapi konflik kepercayaan. Ia meninggalkan luka yang dalam pada masyarakat: trauma, ketidakpastian, dan kehati-hatian berlebih terhadap kekuasaan. Perjanjian damai Helsinki pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah titik balik penting—sebuah pengakuan bahwa pendekatan kekerasan tidak pernah menyelesaikan persoalan Aceh. Namun damai bukan berarti selesai. Damai hanya membuka pintu; perjalanan setelahnya jauh lebih rumit.

Tsunami 26 Desember 2004 datang sebagai tragedi yang mengubah segalanya. Dalam satu pagi, puluhan ribu nyawa hilang, kota-kota runtuh, dan Aceh masuk ke ingatan kolektif dunia. Namun tsunami juga memperlihatkan wajah lain Aceh: keteguhan warganya, solidaritas lintas desa, dan kemampuan bangkit di tengah kehancuran. Untuk sesaat, pembangunan dilakukan dengan kehati-hatian, partisipasi, dan rasa hormat terhadap konteks lokal.

📚 Artikel Terkait

Sesuatu Yang Berbeda

Mawah Memudar, Kapitalis Muncul

Narkoba Melenyapkan Anak Negeri

TIGA KUNCI SURGA VERSI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Dua dekade berlalu, pertanyaan penting mulai mengemuka: apakah Aceh sungguh belajar dari semua luka itu? Ataukah kita hanya mengganti bentuk luka dari yang kasat mata menjadi yang lebih senyap?

Di sinilah luka ekologi Aceh hari ini harus dibaca. Kerusakan hutan, degradasi wilayah pesisir, konflik agraria, dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah kelanjutan dari sejarah panjang relasi kuasa yang tidak pernah sepenuhnya disembuhkan. Alam Aceh—yang dulu menjadi pelindung, sumber hidup, dan bagian dari identitas—perlahan direduksi menjadi komoditas.

Ironisnya, luka ekologi ini muncul justru pada masa damai. Ketika senjata sudah lama diletakkan, ancaman datang dalam bentuk izin, konsesi, dan proyek yang sering kali jauh dari musyawarah rakyat. Ini bukan tudingan pada satu pemerintahan atau satu aktor. Ini adalah kritik terhadap cara berpikir pembangunan yang belum sepenuhnya beranjak dari logika lama: cepat, ekstraktif, dan elitis.

Aceh pasca-segalanya seharusnya menjadi Aceh yang paling matang secara historis. Rakyatnya telah membayar harga mahal: penjajahan, konflik, dan bencana. Karena itu, Aceh berhak atas masa depan yang lebih berhati-hati, lebih adil, dan lebih berdaulat. Berdaulat bukan dalam arti memisahkan diri, melainkan mampu menentukan arah hidupnya sendiri secara bermartabat.

Gerakan Aceh yang paling autentik sejatinya bukan milik satu kelompok atau satu periode sejarah. Ia adalah gerakan panjang rakyat Aceh—petani, nelayan, ulama, perempuan, intelektual—yang terus berusaha menjaga keseimbangan antara identitas, keadilan, dan kehidupan. Inilah gerakan yang harus dibaca ulang hari ini, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai etika masa depan.

Aceh tidak kekurangan pengalaman. Yang sering kurang adalah ruang refleksi yang jujur dan berani. Aceh pasca-kolonial, pasca-konflik, dan pasca-tsunami seharusnya melahirkan cara pandang baru terhadap alam, kekuasaan, dan pembangunan. Jika tidak, semua “pasca” itu hanya akan menjadi jeda sebelum luka berikutnya.

Mungkin, makna terdalam dari Aceh pasca segalanya adalah ini: Aceh tidak lagi diuji oleh sejarah besar, tetapi oleh kebijaksanaannya sendiri dalam mengelola damai, ingatan, dan tanahnya.

Dan di situlah masa depan Aceh sesungguhnya dipertaruhkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 183x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 167x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 151x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 133x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 120x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
181
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Serumpun Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Serumpun Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00