• Latest
Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Januari 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Januari 31, 2026
Reading Time: 3 mins read
Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Malam minggu. Di luar sana, anak muda sedang negosiasi antara kopi susu gula aren dan janji setia yang belum tentu ditepati. Di rumah kakak, saya beserta keluarga besar menggelar tahlilan untuk wafatnya ayah dan ibu. Dari pihak istri, untuk ibu mertua yang sudah lama wafat. Dari pihak kakak, mama mertuanya. Inilah malam haul. Malam ketika dunia fana kami pause sejenak, lalu akhirat diajak duduk bareng, ngopi, dan ikut tahlilan.

Datanglah jamaah masjid, tetangga kiri-kanan, handai taulan, lengkap dengan segala variannya. Ada yang suaranya merdu seperti muazin istana, ada yang bacaannya ngos-ngosan tapi penuh kejujuran. Semua larut dalam yasin, tahlil, dan doa. Lalu klimaksnya tiba, besek. Nasi kotak yang dibungkus plastik untuk dijinjing. Jangan remehkan besek. Dalam filsafat sosial Nusantara, besek adalah simbol teologi praktis. Iman bertemu nasi, zikir bersalaman dengan lauk. Di situlah Islam membumi, tidak melayang-layang di awang-awang.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Di tengah kekhidmatan itu, muncul pertanyaan legendaris, pertanyaan yang diwariskan turun-temurun seperti golongan darah. “Emang doanya sampai ke almarhum?” Ini pertanyaan serius, tapi sering dibungkus nada sok rasional. Kalau mau jujur, ini pertanyaan yang salah alamat. Doa bukan sinyal WiFi yang tergantung kekuatan router dan jarak kuburan. Doa itu wilayah ketuhanan, bukan wilayah teknisi jaringan.

Kalau didekati secara ilmiah, tentu buntu. Tidak ada alat ukur untuk mendeteksi pahala. Tidak ada sensor untuk mengukur luas kubur setelah dibacakan tahlil. Ilmu pengetahuan berhenti di depan gerbang ghaib sambil angkat tangan, “Maaf, ini di luar silabus kami.” Tapi justru di situlah iman bekerja. Islam sejak awal sudah mengakui keterbatasan rasio manusia. Ada wilayah yang harus diterangi wahyu, bukan disenter logika saja.

Dalam Islam, doa untuk orang yang telah wafat itu bukan barang baru. Nabi mengajarkan doa untuk jenazah, para sahabat mendoakan yang meninggal, dan Alquran sendiri merekam doa orang-orang beriman untuk generasi sebelum mereka. Ide dasarnya jelas, yang hidup boleh dan dianjurkan mendoakan yang wafat. Soal apakah doa itu “sampai” atau “tidak”, itu hak prerogatif Allah, bukan hak voting netizen.

Lalu datanglah bab paling panas, “Bang, itukan bid’ah.” Kata ini memang sakti. Sekali diucap, langsung bikin sebagian orang merasa paling lurus se-RT. Padahal dalam khazanah Islam, bid’ah itu bukan sekadar “tidak pernah dilakukan Nabi”, tapi perkara baru yang bertentangan dengan prinsip agama. Tradisi tahlilan bagi NU justru dipandang sebagai wadah, bukan ibadah baru yang mengganti syariat. Isinya? Zikir, doa, sedekah, silaturahmi. Semua ini barang lama, cuma dikemas dengan budaya lokal.

Di titik ini, kita belajar hal yang jarang disadari. Islam tidak turun di ruang hampa. Ia bertemu manusia, tradisi, dan kebudayaan. Maka lahirlah Islam yang bisa menyatu dengan desa, masjid, dapur, dan tikar. Haul bukan cuma soal almarhum, tapi juga pendidikan sosial. Anak-anak belajar, kematian bukan alasan untuk lupa, tapi alasan untuk lebih banyak berbuat baik. Tetangga yang jarang sapa jadi duduk semajlis. Yang kaya berbagi, yang sederhana ikut mendoakan.

Bagi kami, haul bukan ritual mistik yang memaksa langit bekerja lembur. Ini ekspresi cinta yang rasional dengan cara iman. Tidak ada yang merasa terbebani, tidak ada yang merasa disedot. Yang ada justru rasa lapang. Kalau pun ternyata di alam sana hitung-hitungan pahala tidak seperti dugaan manusia, kami sudah untung di dunia, hubungan sosial terawat, sedekah berjalan, dan hati menjadi lebih lembut.

Maka kalau malam haul masih dipersoalkan dengan kacamata hitam-putih, mungkin yang perlu dilapangkan bukan kuburan almarhum, tapi cara berpikir kita sendiri. Islam itu bukan agama yang kering dan galak. Ia bisa tertawa, bisa hangat, bisa sangat manusiawi. Di malam haul itu, di antara doa, tahlil, dan besek, kami belajar satu hal baru, iman yang hidup selalu menemukan jalan, bahkan lewat besek.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

DeepSeek AI’s Latest Model Raises Global Free Speech Concerns

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com