POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 31, 2026
Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Malam minggu. Di luar sana, anak muda sedang negosiasi antara kopi susu gula aren dan janji setia yang belum tentu ditepati. Di rumah kakak, saya beserta keluarga besar menggelar tahlilan untuk wafatnya ayah dan ibu. Dari pihak istri, untuk ibu mertua yang sudah lama wafat. Dari pihak kakak, mama mertuanya. Inilah malam haul. Malam ketika dunia fana kami pause sejenak, lalu akhirat diajak duduk bareng, ngopi, dan ikut tahlilan.

Datanglah jamaah masjid, tetangga kiri-kanan, handai taulan, lengkap dengan segala variannya. Ada yang suaranya merdu seperti muazin istana, ada yang bacaannya ngos-ngosan tapi penuh kejujuran. Semua larut dalam yasin, tahlil, dan doa. Lalu klimaksnya tiba, besek. Nasi kotak yang dibungkus plastik untuk dijinjing. Jangan remehkan besek. Dalam filsafat sosial Nusantara, besek adalah simbol teologi praktis. Iman bertemu nasi, zikir bersalaman dengan lauk. Di situlah Islam membumi, tidak melayang-layang di awang-awang.

Di tengah kekhidmatan itu, muncul pertanyaan legendaris, pertanyaan yang diwariskan turun-temurun seperti golongan darah. “Emang doanya sampai ke almarhum?” Ini pertanyaan serius, tapi sering dibungkus nada sok rasional. Kalau mau jujur, ini pertanyaan yang salah alamat. Doa bukan sinyal WiFi yang tergantung kekuatan router dan jarak kuburan. Doa itu wilayah ketuhanan, bukan wilayah teknisi jaringan.

Kalau didekati secara ilmiah, tentu buntu. Tidak ada alat ukur untuk mendeteksi pahala. Tidak ada sensor untuk mengukur luas kubur setelah dibacakan tahlil. Ilmu pengetahuan berhenti di depan gerbang ghaib sambil angkat tangan, “Maaf, ini di luar silabus kami.” Tapi justru di situlah iman bekerja. Islam sejak awal sudah mengakui keterbatasan rasio manusia. Ada wilayah yang harus diterangi wahyu, bukan disenter logika saja.

📚 Artikel Terkait

RENUNGAN PERINGATAN HARI TSUNAMI ACEH:

Dari Sekolah Menuju Jalan Raya

Puisi Mustiar Ar

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Dalam Islam, doa untuk orang yang telah wafat itu bukan barang baru. Nabi mengajarkan doa untuk jenazah, para sahabat mendoakan yang meninggal, dan Alquran sendiri merekam doa orang-orang beriman untuk generasi sebelum mereka. Ide dasarnya jelas, yang hidup boleh dan dianjurkan mendoakan yang wafat. Soal apakah doa itu “sampai” atau “tidak”, itu hak prerogatif Allah, bukan hak voting netizen.

Lalu datanglah bab paling panas, “Bang, itukan bid’ah.” Kata ini memang sakti. Sekali diucap, langsung bikin sebagian orang merasa paling lurus se-RT. Padahal dalam khazanah Islam, bid’ah itu bukan sekadar “tidak pernah dilakukan Nabi”, tapi perkara baru yang bertentangan dengan prinsip agama. Tradisi tahlilan bagi NU justru dipandang sebagai wadah, bukan ibadah baru yang mengganti syariat. Isinya? Zikir, doa, sedekah, silaturahmi. Semua ini barang lama, cuma dikemas dengan budaya lokal.

Di titik ini, kita belajar hal yang jarang disadari. Islam tidak turun di ruang hampa. Ia bertemu manusia, tradisi, dan kebudayaan. Maka lahirlah Islam yang bisa menyatu dengan desa, masjid, dapur, dan tikar. Haul bukan cuma soal almarhum, tapi juga pendidikan sosial. Anak-anak belajar, kematian bukan alasan untuk lupa, tapi alasan untuk lebih banyak berbuat baik. Tetangga yang jarang sapa jadi duduk semajlis. Yang kaya berbagi, yang sederhana ikut mendoakan.

Bagi kami, haul bukan ritual mistik yang memaksa langit bekerja lembur. Ini ekspresi cinta yang rasional dengan cara iman. Tidak ada yang merasa terbebani, tidak ada yang merasa disedot. Yang ada justru rasa lapang. Kalau pun ternyata di alam sana hitung-hitungan pahala tidak seperti dugaan manusia, kami sudah untung di dunia, hubungan sosial terawat, sedekah berjalan, dan hati menjadi lebih lembut.

Maka kalau malam haul masih dipersoalkan dengan kacamata hitam-putih, mungkin yang perlu dilapangkan bukan kuburan almarhum, tapi cara berpikir kita sendiri. Islam itu bukan agama yang kering dan galak. Ia bisa tertawa, bisa hangat, bisa sangat manusiawi. Di malam haul itu, di antara doa, tahlil, dan besek, kami belajar satu hal baru, iman yang hidup selalu menemukan jalan, bahkan lewat besek.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Tradisi Teut Leumang di Barsela (Barat Selatan Aceh)

Tradisi Teut Leumang di Barsela (Barat Selatan Aceh)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00