Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Kalau sudah menulis soal Iran, saya harus siap dengan serangan simpatisannya. Tuduhan tak lari dari: agen Israel, Mossad, CIA. Untung saja bukan dituduh agen gas melon. Info terkini soal demo besar di Iran, sudah 20 yang tewas, dan seribuan yang ditangkap. Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Teheran awal Januari 2026 terasa seperti Menara Azadi yang berdiri gagah, tapi retak di dalam. Dari jauh tampak kokoh, dari dekat terdengar bunyi patah. Kota itu berdenyut panas, bukan oleh matahari musim dingin, melainkan oleh kemarahan yang tumpah ke jalan-jalan. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, HRANA, melaporkan pada Minggu, 4 Januari 2026, sedikitnya 20 orang tewas dan hampir 1.000 demonstran ditangkap. Angka-angka ini jatuh ke publik seperti azan darurat, tak bisa diabaikan, tak bisa dipelankan.
Gelombang protes sudah berjalan delapan hari berturut-turut dan menyebar ke 222 lokasi di 78 kota dan 26 provinsi. Iran seolah berubah menjadi peta panas raksasa, titik-titik merah menyala dari kota besar hingga kota kecil. Mahasiswa turun ke jalan, buruh memogokkan tenaga, warga sipil ikut berteriak. HRANA mencatat sedikitnya 990 orang ditangkap, sambil mengingatkan, angka sebenarnya mungkin lebih besar, karena dalam situasi seperti ini, statistik sering kalah cepat dari borgol.
Tujuh belas universitas ikut bergolak. Kampus-kampus yang biasanya dipenuhi diskusi teori kini berubah seperti Taman Laleh saat badai pasir. Penuh orang berlari, berteriak, dan menghindar. Aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan. Peluru karet dan butiran plastik melayang seperti hujan dingin, melukai sedikitnya 51 orang. Korban tewas berasal dari mahasiswa, buruh, dan warga sipil berusia 16 hingga 45 tahun, usia produktif yang ironisnya kini “produktif” menambah daftar kematian.
Di Khorramabad, seorang pengacara bernama Nasser Rezaei Ahangarany dipukuli aparat pada 3 Januari. Di Malekshahi, kantor berita Kurdpa melaporkan sedikitnya 30 orang terluka. Penangkapan massal terjadi di Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan, dengan banyak tahanan dipindahkan ke penjara-penjara setempat. Sebagian ditangkap di jalan, sebagian lagi karena aktivitas media sosial, karena di Iran 2026, satu unggahan bisa lebih berisik dari satu toa.
Pemicunya bukan isu tunggal, melainkan paket komplit krisis ekonomi. Inflasi melonjak, daya beli jatuh, pasar tak stabil, dan ketidakamanan kerja merajalela. Nilai rial anjlok seperti lift tua di gedung apartemen Teheran, semua penumpang di dalamnya ikut panik. Slogan-slogan demonstran berputar di sekitar perut kosong, dompet tipis, kritik tata kelola, dan tuntutan kebebasan sipil. Ini bukan sekadar drama pusat kota; kota-kota kecil pun ikut bersuara, seolah gang-gang sempit akhirnya muak berbisik.
📚 Artikel Terkait
Di tengah hiruk-pikuk itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, angkat bicara dengan gaya dua lapis. Ia mengakui keluhan rakyat, terutama pedagang yang terpukul jatuhnya nilai rial, sebagai sah dan wajar. Namun di kalimat berikutnya, ia menunjuk adanya “tangan musuh” yang memanfaatkan krisis, sekaligus memberi sinyal keras agar aparat menindak tegas demonstran yang dianggap perusuh. Pedagang disebut loyal terhadap sistem Islam, seakan Grand Bazaar adalah benteng kesetiaan terakhir, sementara jalanan di luar lengkungan Azadi dicurigai sebagai pintu masuk konspirasi.
Media pro-pemerintah segera menyusun narasi seperti karpet Persia. Rapi, berpola, dan penuh simbol. Protes digambarkan sebagai hasil provokasi asing, sanksi Barat dijadikan biang keladi krisis, demonstran dilabeli perusuh atau agen luar, aparat dipotret sebagai pahlawan penjaga ketertiban. Politik dua wajah bekerja mulus: ke dalam negeri citra negara kuat, ke luar negeri laporan independen menampilkan korban jiwa dan penangkapan massal.
Lalu dari seberang dunia, Donald Trump masuk panggung dengan gaya sirene. Ia mengancam akan “menghantam sangat keras” Iran jika aparat terus menewaskan demonstran. Washington, katanya, “locked and loaded”, siap siaga. Ancaman ini disampaikan pada 2–5 Januari 2026, tepat ketika protes memasuki minggu kedua, menambah ketegangan seperti kabel listrik terbuka di tengah hujan geopolitik.
Akhirnya, Iran awal 2026 adalah lukisan penuh ikon yang saling bertabrakan. Menara Azadi yang bergetar, Bazaar yang gelisah, kampus yang mendidih, mimbar yang keras, dan ancaman dari seberang samudra. Di antaranya, 20 nyawa melayang dan hampir 1.000 orang ditangkap. Bukan sekadar angka, melainkan denyut tragedi yang membuat pembaca dunia tak sekadar membaca berita, tapi ikut menahan napas.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyaa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





