• Latest

Sudah 20 Tewas, 1.000 Demonstran Ditangkap di Iran, Trump Tebar Ancaman

Januari 6, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sudah 20 Tewas, 1.000 Demonstran Ditangkap di Iran, Trump Tebar Ancaman

Redaksiby Redaksi
Januari 6, 2026
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Kalau sudah menulis soal Iran, saya harus siap dengan serangan simpatisannya. Tuduhan tak lari dari: agen Israel, Mossad, CIA. Untung saja bukan dituduh agen gas melon. Info terkini soal demo besar di Iran, sudah 20 yang tewas, dan seribuan yang ditangkap. Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Teheran awal Januari 2026 terasa seperti Menara Azadi yang berdiri gagah, tapi retak di dalam. Dari jauh tampak kokoh, dari dekat terdengar bunyi patah. Kota itu berdenyut panas, bukan oleh matahari musim dingin, melainkan oleh kemarahan yang tumpah ke jalan-jalan. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, HRANA, melaporkan pada Minggu, 4 Januari 2026, sedikitnya 20 orang tewas dan hampir 1.000 demonstran ditangkap. Angka-angka ini jatuh ke publik seperti azan darurat, tak bisa diabaikan, tak bisa dipelankan.

Gelombang protes sudah berjalan delapan hari berturut-turut dan menyebar ke 222 lokasi di 78 kota dan 26 provinsi. Iran seolah berubah menjadi peta panas raksasa, titik-titik merah menyala dari kota besar hingga kota kecil. Mahasiswa turun ke jalan, buruh memogokkan tenaga, warga sipil ikut berteriak. HRANA mencatat sedikitnya 990 orang ditangkap, sambil mengingatkan, angka sebenarnya mungkin lebih besar, karena dalam situasi seperti ini, statistik sering kalah cepat dari borgol.

Tujuh belas universitas ikut bergolak. Kampus-kampus yang biasanya dipenuhi diskusi teori kini berubah seperti Taman Laleh saat badai pasir. Penuh orang berlari, berteriak, dan menghindar. Aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan. Peluru karet dan butiran plastik melayang seperti hujan dingin, melukai sedikitnya 51 orang. Korban tewas berasal dari mahasiswa, buruh, dan warga sipil berusia 16 hingga 45 tahun, usia produktif yang ironisnya kini “produktif” menambah daftar kematian.

Di Khorramabad, seorang pengacara bernama Nasser Rezaei Ahangarany dipukuli aparat pada 3 Januari. Di Malekshahi, kantor berita Kurdpa melaporkan sedikitnya 30 orang terluka. Penangkapan massal terjadi di Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan, dengan banyak tahanan dipindahkan ke penjara-penjara setempat. Sebagian ditangkap di jalan, sebagian lagi karena aktivitas media sosial, karena di Iran 2026, satu unggahan bisa lebih berisik dari satu toa.

Pemicunya bukan isu tunggal, melainkan paket komplit krisis ekonomi. Inflasi melonjak, daya beli jatuh, pasar tak stabil, dan ketidakamanan kerja merajalela. Nilai rial anjlok seperti lift tua di gedung apartemen Teheran, semua penumpang di dalamnya ikut panik. Slogan-slogan demonstran berputar di sekitar perut kosong, dompet tipis, kritik tata kelola, dan tuntutan kebebasan sipil. Ini bukan sekadar drama pusat kota; kota-kota kecil pun ikut bersuara, seolah gang-gang sempit akhirnya muak berbisik.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, angkat bicara dengan gaya dua lapis. Ia mengakui keluhan rakyat, terutama pedagang yang terpukul jatuhnya nilai rial, sebagai sah dan wajar. Namun di kalimat berikutnya, ia menunjuk adanya “tangan musuh” yang memanfaatkan krisis, sekaligus memberi sinyal keras agar aparat menindak tegas demonstran yang dianggap perusuh. Pedagang disebut loyal terhadap sistem Islam, seakan Grand Bazaar adalah benteng kesetiaan terakhir, sementara jalanan di luar lengkungan Azadi dicurigai sebagai pintu masuk konspirasi.

Media pro-pemerintah segera menyusun narasi seperti karpet Persia. Rapi, berpola, dan penuh simbol. Protes digambarkan sebagai hasil provokasi asing, sanksi Barat dijadikan biang keladi krisis, demonstran dilabeli perusuh atau agen luar, aparat dipotret sebagai pahlawan penjaga ketertiban. Politik dua wajah bekerja mulus: ke dalam negeri citra negara kuat, ke luar negeri laporan independen menampilkan korban jiwa dan penangkapan massal.

Lalu dari seberang dunia, Donald Trump masuk panggung dengan gaya sirene. Ia mengancam akan “menghantam sangat keras” Iran jika aparat terus menewaskan demonstran. Washington, katanya, “locked and loaded”, siap siaga. Ancaman ini disampaikan pada 2–5 Januari 2026, tepat ketika protes memasuki minggu kedua, menambah ketegangan seperti kabel listrik terbuka di tengah hujan geopolitik.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Akhirnya, Iran awal 2026 adalah lukisan penuh ikon yang saling bertabrakan. Menara Azadi yang bergetar, Bazaar yang gelisah, kampus yang mendidih, mimbar yang keras, dan ancaman dari seberang samudra. Di antaranya, 20 nyawa melayang dan hampir 1.000 orang ditangkap. Bukan sekadar angka, melainkan denyut tragedi yang membuat pembaca dunia tak sekadar membaca berita, tapi ikut menahan napas.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyaa

JYM

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Romansa Cinta — Membaca Luka, Literasi dan Peran Kemanusiaan 

Romansa Cinta — Membaca Luka, Literasi dan Peran Kemanusiaan 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com