POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Negara Kita Pernah Lho Menjadi Negara Judi, Simak Sejarahnya!

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
December 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sebelumnya saya sudah mengupas negara Uni Emirat Arab (UEA) akan menjadi negara judi pertama di jazirah Arab. Luar biasa reaksi netizen. Tak sedikit mengucapkan “astaghfirullah.” Perlu diketahui, negara kita ini pernah lho menjadi negara judi. Simak sejarahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia kerap diposisikan sebagai negara religius. Ada sekitar 800 ribu masjid, 68 ribu gereja, 15 ribu pura, dan kurang lebih 400 klenteng berdiri di seluruh wilayahnya. Namun di balik lanskap keagamaan itu, sejarah mencatat satu paradoks besar yang jarang dibicarakan secara jernih. Negeri ini pernah melegalkan praktik yang secara substansi adalah perjudian, dengan dasar hukum resmi dan pengelolaan negara. Bukan dalam skala kecil, melainkan nasional, terstruktur, dan bernilai ratusan miliar rupiah per tahun.

Praktik itu dikenal sebagai Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB), puncak dari rangkaian panjang kebijakan undian berhadiah yang dimulai sejak akhir 1970-an. Awalnya adalah Undian Harapan, dilegalkan melalui Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor B.A.5-4-76/169, dengan dalih pembiayaan rehabilitasi sosial. Program ini memicu penolakan luas karena dianggap tidak berbeda dari judi, sehingga dihentikan. Namun kebijakan tersebut tidak benar-benar ditinggalkan, melainkan direbranding menjadi Sumbangan Sosial Berhadiah (SSB), lalu pada 1979 berkembang menjadi Kupon Sumbangan Sosial Berhadiah (KSSB) dengan empat juta kupon dicetak dan diedarkan.

Fase berikutnya justru memperjelas watak spekulatifnya. Tahun 1985, pemerintah meluncurkan Pekan Olahraga dan Ketangkasan (Porkas) melalui SK Menteri Sosial Nomor BBS-10-12/85. Mekanismenya sederhana. Masyarakat menebak hasil pertandingan olahraga dan memperoleh hadiah uang jika benar. Program ini dikelola oleh Yayasan Dana Bakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS), dengan figur sentral Robby Sumampow (Le Kian Tiong) dan Robby Tjahyadi. Keduanya melakukan studi banding ke Inggris untuk mempelajari sistem lotre. Kedekatan pengelola dengan elite kekuasaan menjadi pembicaraan luas pada masa itu.

Penolakan keras datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1986, yang secara resmi menyatakan Porkas sebagai bentuk perjudian terselubung dan meminta evaluasi. Namun negara memilih melanjutkan kebijakan tersebut. Porkas kemudian berganti nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB) atau Sumbangan Olahraga Berhadiah (SOB) pada 1987, dan dalam satu tahun berhasil menghimpun dana sekitar Rp221 miliar, angka yang sangat besar pada masa itu.

Transformasi berlanjut menjadi Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB), dan akhirnya mencapai bentuk paling masifnya: SDSB, sekitar 1989–1993. Kupon SDSB dijual seharga Rp1.000 per lembar, nilai yang setara 2–3 kilogram beras, atau kebutuhan makan satu keluarga selama hampir satu minggu. Undian dilakukan rutin dan diumumkan melalui siaran radio nasional dari Jakarta pada pukul 23.00, menciptakan ritual kolektif di desa-desa dan kota-kota. SDSB secara terbuka disponsori negara, diawasi Menko Polkam Soedomo, serta mendapat ruang promosi di TVRI, termasuk dalam siaran olahraga. Dasar hukumnya antara lain UU Nomor 22 Tahun 1954 tentang Undian dan Keputusan Menteri Sosial Nomor 21/BSS/XII/1988.

📚 Artikel Terkait

Kepemimpinan Visioner dalam Pembinaan Generasi Islami dan Modern di SMAN 5 Kota Langsa

Merdeka Adalah Merdeka

Poo Makna

Rumah Sahroni pun Jadi Amukan Rakyat

Dari sisi keuangan, mekanismenya relatif jelas namun minim transparansi. Dana dari penjualan kupon masuk ke rekening YDBKS. Sekitar 30–50 persen dialokasikan untuk hadiah, 10–15 persen untuk komisi agen dan operasional, 10 persen disetor langsung ke dana sosial Kementerian Sosial, dan pemenang dikenai pajak penghasilan 25 persen yang masuk ke kas negara melalui Direktorat Pajak. Sisa dana, sekitar 40–60 persen, diklaim digunakan untuk pembinaan olahraga (melalui KONI dan PSSI) serta program kesejahteraan sosial.

Skalanya luar biasa. Omzet SDSB tahun 1989 mencapai sekitar Rp904,8 miliar, sementara pada 1988 bahkan menyentuh Rp962 miliar. Kritik menyebut sistem ini sebagai money game tanpa aset dasar yang rawan kebocoran ke elite, dengan pengawasan yang secara struktural lemah dalam konteks politik Orde Baru.

Daya tarik utama SDSB tentu hadiah. Dua digit terakhir bisa menghasilkan Rp60.000, tiga digit Rp350.000, empat digit Rp2,5 juta, dan enam digit penuh Rp1 miliar (sekitar Rp750 juta setelah pajak). Pada Mei 1990, seorang tukang becak di Magelang, Raden Sayadi, memenangkan hadiah utama Rp1 miliar, kisah yang kemudian menjadi legenda nasional. Namun peluang menang secara statistik diperkirakan sekitar 1 banding 10 juta, sebuah fakta yang tidak mengurangi antusiasme publik.

Dampak sosialnya luas. Euforia massal, perubahan pola konsumsi, konflik keluarga, hingga perilaku irasional berbasis mistik demi “nomor keberuntungan”. SDSB menjadi fenomena budaya, bukan sekadar kebijakan fiskal.

Negara kerap membela diri dengan capaian olahraga. Indonesia menjadi juara umum SEA Games 1987, 1989, 1991, 1993, dan 1997, meraih emas sepak bola pada 1987 dan 1991, serta mengembangkan kompetisi Galatama secara agresif. Dana SDSB disebut berkontribusi pada infrastruktur, bonus atlet, dan persiapan nasional. Namun para pengamat menilai keberhasilan tersebut juga dipengaruhi faktor lain, status tuan rumah, banyaknya cabang yang dipertandingkan, serta pembinaan jangka panjang sejak 1977.

Tekanan moral dan politik akhirnya mencapai titik puncak. MUI mengeluarkan fatwa haram, mahasiswa melakukan aksi pembakaran kupon, dan musisi seperti Rhoma Irama mengkritik SDSB lewat lagu yang kemudian dicekal. Pada 24 November 1993, Menteri Sosial Endang Kusuma Inten Soeweno secara resmi mencabut izin SDSB di hadapan DPR.

SDSB berakhir, tetapi jejaknya tertinggal sebagai pelajaran penting. Negara pernah menjadi aktor utama dalam normalisasi perjudian, dengan dalih pembangunan sosial dan olahraga. Dalam konteks 2025, ketika judi daring merajalela dan negara mengklaim perang terhadap praktik tersebut, sejarah SDSB menjadi cermin yang tidak nyaman, namun perlu untuk dihadapi secara jujur dan rasional.

Sekarang, negara kita memang mengharamkan judi. Namun, bentuk judi sudah mengikuti zaman. Tidak lagi beli kupon kayak dulu, melainkan lewat online. Saat ini jumlah gamer di Indonesia mencapai lebih dari 185 juta orang pada awal 2025, dan diperkirakan akan tembus 192,1 juta pemain sepanjang tahun ini. Artinya, hampir seluruh pengguna internet di Indonesia (sekitar 95%) bermain game online. Mereka tahu judi itu haram, namun sudah tidak peduli. Kecuali yang benar-benar haram di negeri ini, daging babi saja. Judi memang haram, tapi backingnya halal.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Aceh Kembali Menangis: Pengkhianatan Ekologis di Tanah Rencong

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00