POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketika Mahkota Lebih Fasih Melangkah daripada Pikiran:

RedaksiOleh Redaksi
December 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Pernyataan seorang queen internasional bahwa “kami tidak berbicara, tetapi berjalan” disampaikan dengan keyakinan yang nyaris khidmat. Kalimat itu mengalir lembut, tidak menyinggung siapa pun, dan dengan mudah diterima sebagai bentuk kebijaksanaan modern. Namun justru karena kelembutannya itulah pernyataan tersebut layak direnungkan lebih jauh. Sebab di balik keanggunan kata-kata, tersembunyi sebuah pengakuan yang, bila dicermati dengan jujur, menyiratkan kekalahan pikiran di hadapan tubuh.

Saya termenung cukup lama mendengar pernyataan itu. Bukan karena terpesona, melainkan karena ia terasa terlalu selesai. Seolah-olah manusia telah diringkas menjadi postur, langkah, dan sorot mata. Padahal, dalam hampir seluruh kajian psikologi kognitif dan filsafat komunikasi, berbicara adalah tindakan yang paling manusiawi. Ketika seseorang berbicara, ia sedang membuka isi kepalanya kepada dunia, dengan segala risiko disalahpahami, disanggah, atau bahkan ditertawakan. Berbicara menuntut keberanian, karena di sanalah pikiran dipertaruhkan.

Berjalan, sebaliknya, adalah tindakan yang aman. Ia tidak dapat diperdebatkan. Ia tidak bisa diuji kebenarannya. Ia hanya bisa dinilai secara estetis. Dalam dunia yang semakin lelah berpikir, estetika menjadi jalan pintas yang menenangkan. Tidak perlu argumen, cukup impresi. Tidak perlu makna, cukup citra.

Dalam psikologi komunikasi, berjalan di panggung entah disebut catwalk, carriage, atau presence memang diakui sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Ia menyampaikan pesan tentang kepercayaan diri, disiplin, dan kendali diri. Namun persoalan muncul ketika komunikasi nonverbal diangkat menjadi pengganti total komunikasi verbal. Ketika tubuh diberi mandat penuh untuk mewakili keseluruhan manusia, pikiran pun perlahan dipinggirkan sebagai beban yang tidak efisien.

Ironisnya, pada saat yang hampir bersamaan, dunia pageantry juga menggemakan pentingnya public speaking. Seorang pengajar dengan yakin menyatakan bahwa public speaking adalah ilmu komunikasi dengan manusia. Pernyataan ini sepintas terdengar mulia. Namun seperti banyak slogan indah lainnya, ia menjadi bermasalah ketika maknanya dipersempit. Yang diajarkan kemudian bukanlah komunikasi yang mendidik, melainkan teknik menata kata agar terdengar tepat, aman, dan mengesankan.

Di sinilah letak perbedaannya. Komunikasi edukatif berangkat dari pemikiran yang hidup. Ia lahir dari proses membaca, mengamati, dan berani mengambil sikap. Sementara komunikasi yang sekadar menata kata berangkat dari strategi citra. Kata-kata dipilih bukan karena kebenarannya, melainkan karena keamanannya. Kalimat dirangkai bukan untuk menyampaikan gagasan, tetapi untuk menghindari kesalahan.

Perbedaan ini tampak sepele, tetapi dampaknya serius. Ketika public speaking direduksi menjadi seni menyenangkan audiens, ia berubah menjadi permainan psikologis. Pikiran tidak lagi dikembangkan, melainkan dikendalikan. Kontestan tidak didorong untuk berpikir kritis, tetapi untuk terdengar kritis. Kebenaran tidak dicari, melainkan disesuaikan.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai impression management. Individu mengatur perilaku dan bahasa untuk membentuk kesan tertentu. Dalam batas tertentu, hal ini adalah keterampilan sosial yang wajar. Namun ketika impression management menggantikan kejujuran intelektual, ia menjadi manipulasi halus. Seseorang tampak cerdas tanpa harus berpikir mendalam, tampak peduli tanpa perlu memahami persoalan.

📚 Artikel Terkait

Guru Bahasa Inggris di Aceh: Menjadi Lentera Perubahan Ilmiah dan Ruhani

Peluru di Jalan Raya

İbuku  yang Tangguh

Aktivis Gerebek Komisi I lagi “Indehoy” Rakyat di Hotel

Di titik inilah pernyataan “kami tidak berbicara, tetapi berjalan” menemukan makna satirnya yang paling tajam. Ia bukan sekadar metafora tentang kehadiran, melainkan pengakuan tentang penghindaran. Berjalan memungkinkan seseorang hadir tanpa berpendapat. Ia memberi ruang bagi pujian tanpa membuka peluang kritik.

Dunia pageantry sering mengklaim dirinya sebagai ruang pemberdayaan perempuan. Namun pemberdayaan seperti apa yang lebih menghargai keindahan langkah daripada keberanian berpikir? Jika pemberdayaan berarti otonomi intelektual, maka sistem yang membatasi pikiran demi citra sejatinya adalah sistem penjinakan yang dibungkus keanggunan.

Aristoteles, berabad-abad sebelum istilah personal branding ditemukan, telah merumuskan tiga pilar retorika: logos, ethos, dan pathos. Logos adalah nalar, ethos adalah karakter, dan pathos adalah emosi. Dalam praktik pageantry modern, pathos dirawat dengan serius. Air mata dilatih, empati dikurasi, dan emosi ditampilkan dengan presisi. Ethos dipoles melalui narasi diri yang rapi. Namun logos kerap menjadi elemen paling rapuh.

Tidak mengherankan jika jawaban-jawaban yang muncul terdengar sempurna tetapi terasa kosong. Semua berbicara tentang perdamaian, pendidikan, dan kemanusiaan, tanpa satu pun posisi yang berani. Dunia digambarkan seolah-olah tanpa konflik, tanpa ketidakadilan, dan tanpa korban. Bukan karena para queen tidak peduli, melainkan karena mereka diajarkan bahwa berpikir terlalu jauh adalah risiko reputasi.

Dalam situasi ini, public speaking kehilangan fungsi etiknya. Ia tidak lagi menjadi sarana dialog, melainkan alat bertahan. Kata-kata digunakan untuk melindungi citra, bukan untuk menguji gagasan. Keindahan bahasa menutupi ketiadaan keberpihakan.

Satire ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan individu. Ia ditujukan pada sistem yang lebih mencintai kepatuhan yang indah daripada kecerdasan yang jujur. Sistem yang lebih nyaman dengan kalimat aman daripada kebenaran yang mengganggu. Dalam sistem seperti ini, queen tidak disiapkan sebagai pemikir publik, melainkan sebagai simbol estetika.

Padahal, jika peran queen ingin dimaknai lebih dari sekadar dekorasi global, ia sejatinya adalah diplomat budaya. Seorang diplomat tidak hanya hadir dengan postur yang tepat, tetapi dengan argumen yang jernih. Jalannya adalah simbol martabat, tetapi bicaranya adalah ukuran integritas. Tanpa pikiran, martabat hanyalah ornamen.

Jika seseorang hanya berjalan, ia menggunakan tubuhnya untuk menarik perhatian. Namun ketika seseorang berbicara dengan pikiran yang jujur, ia mengundang orang lain untuk berpikir. Di antara keduanya, sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani berbicara, meski dengan risiko.

Keanggunan sejati tidak lahir dari kesenyapan intelektual, melainkan dari keberanian menyatukan tubuh dan pikiran dalam satu garis integritas. Di sanalah mahkota menemukan maknanya, bukan sebagai hiasan kepala, melainkan sebagai simbol tanggung jawab berpikir.

Daftar Pustaka

  1. Aristoteles. (2007). On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse. New York: Oxford University Press.
  2. Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
  3. Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of Human Communication. Long Grove: Waveland Press.
  4. Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person. Boston: Houghton Mifflin.
  5. DeVito, J. A. (2019). The Interpersonal Communication Book. Boston: Pearson Education.
  6. Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action. Boston: Beacon Press.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

"Pajan Lom" Sebagai Legitimasi Harga

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00