POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bendera GAM, PBB, sampai Bendera Putih Berkibar di Aceh

RedaksiOleh Redaksi
December 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan ini agak panjang. Yang tak suka membaca, sebaiknya skip saja. Ini lanjutan kisah bencana tanda tangan di tanah Sumatera. Makin ke sini, bukan sekadar angka korban yang terus berjatuhan, melainkan ada kisah lain. Bendera GAM, PBB, sampai bendera putih banyak berkibar di sana. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Aceh, Desember 2025, terasa seperti lukisan raksasa yang dikerjakan alam dengan kuas banjir dan tinta longsor, lalu dipamerkan di depan Masjid Raya Baiturrahman. Kubah hitam-putih itu berdiri seperti penonton VIP yang sudah terlalu sering menyaksikan tragedi, dari tsunami 2004 sampai air bah yang kini datang lagi. Kali ini sambil membawa bonus drama politik dan festival bendera. Jika Aceh adalah secangkir kopi Gayo, maka Desember ini rasanya pahit, kental, dan diminum tanpa gula, langsung ke ulu hati.

Air bah turun dari Seulawah Agam seperti kisah lama yang diulang dengan volume lebih keras. Sungai meluap, tanah longsor, Rumoh Aceh hanyut seperti perahu kertas. Di tengah lumpur yang lengketnya setara janji kampanye, bendera Bulan Bintang GAM berkibar di Aceh Tamiang dan Lhokseumawe. Milad ke-49 GAM dirayakan dengan konvoi, persis ketika warga lain sedang menghitung berapa tikar yang masih kering. Pemandangannya epik sekaligus absurd, rencong sejarah diangkat tinggi, sementara air setinggi pinggang sedang menguji keseimbangan kaki. Ini bukan kejadian mendadak. Sejak 4 Desember 2025, peringatan sudah digelar. Alam datang belakangan, tapi masuknya langsung sebagai pemeran utama.

Publik Aceh terbelah seperti jalan nasional yang tergerus longsor. Ada yang bilang ini identitas, hak sejarah, semangat yang tak boleh padam. Ada pula yang nyengir getir, sambil menyeruput kopi Gayo di pengungsian, bertanya apakah air bah harus menghormati kalender milad sebelum menenggelamkan dapur. Di sela itu, muncul simbol yang lebih sunyi namun lebih menusuk, bendera putih. Berkibar di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara. Ia bukan tarian Saman yang kompak, tapi satu gerakan sederhana, angkat tangan.

Lalu Aceh menaikkan level. Dari lokal ke global. Di antara bendera putih dan Bulan Bintang, muncul kain biru PBB. Berkibar di Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Bireuen. Ini seperti warga berkata, “Kalau kopi tak cukup, kami pesan espresso dunia.” Pemerintah Aceh mengirim surat resmi pada 14 Desember 2025 ke UNDP dan UNICEF, meminta bantuan untuk 18 kabupaten/kota. Diplomasi simbolik dilakukan tanpa podium, tanpa AC, cukup bambu dan kain.

PBB menjawab dengan bahasa paling rapi sedunia. UNIC Indonesia mengonfirmasi surat diterima. UNDP dan UNICEF sedang mengkaji. Belum ada bantuan konkret, tapi proses berjalan. Di sisi lain, muncul adegan komedi gelap, Gubernur Aceh Muzakir Manaf sempat mengaku tidak tahu detail surat. Publik terdiam seperti jamaah yang lupa rakaat. Juru bicara bilang surat ada. PBB bilang surat ada. Yang sempat menghilang hanya koordinasi, tersapu arus komunikasi internal.

📚 Artikel Terkait

Pro dan Kontra Wisuda Anak dari TK Hingga SMA

Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas

Sekolah Harus Pandai Bercerita dan Bicara

Apakah Perempuan Akademik yang Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga Tidak Produktif?

Pemerintah pusat mengeluarkan jurus rencong retorika. Mendagri Tito Karnavian akan mempelajari surat. Presiden Prabowo menegaskan Indonesia mampu dan menolak bantuan asing. Kalimatnya tegas, seperti mimbar Jumat. Sayangnya, alam menjawab dengan angka. Hingga 18 Desember 2025, BNPB mencatat 1.059 orang meninggal dunia, 192 masih hilang, lebih dari 7.000 luka-luka. Sebanyak 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak. Rumah rusak 147.236 unit. Fasilitas publik rusak 1.600 unit. Statistik itu jatuh seperti hujan deras di halaman masjid: dingin, nyata, dan tak bisa dibantah.

Mensos Saifullah Yusuf alias Gus Ipul datang membawa payung optimisme. Bendera putih, katanya, simbol keputusasaan, tapi pemerintah masih mampu. “Kita bisa atasi ya, Pak Mualem.” Kalimat itu terdengar seperti azan subuh, mengajak bangun dan percaya. Pemerintah daerah disebut bekerja keras, pusat hadir penuh. Warga diminta yakin. Masalahnya, di posko pengungsian, keyakinan tidak bisa menggantikan air bersih, dan optimisme tidak bisa menambal jembatan yang putus.

Aceh kini berbicara dengan banyak metafora sekaligus. Bendera GAM sebagai rencong sejarah. Bendera putih sebagai doa pendek. Bendera PBB sebagai surat terbuka ke dunia. Negara menjawab dengan pidato, alam membalas dengan longsor. Dari data 6 Desember yang mencatat 914 meninggal, naik ke 995, lalu 1.016, hingga 1.059 jiwa pada 18 Desember, grafiknya menanjak seperti bukit yang siap runtuh.

Jika Masjid Raya Baiturrahman bisa berbicara, mungkin ia hanya menghela napas. Aceh sudah berkali-kali diuji, dan selalu bangkit. Tapi kali ini, kebangkitan itu harus berenang melewati lumpur simbol, ego, dan prosedur. Di antara semua bendera yang berkibar anggun di angin basah, yang paling jujur tetap bendera putih, pengakuan polos bahwa di hadapan alam yang murka, manusia, sekeras apa pun rencongnya, tetap rapuh. Dan dari secangkir kopi Gayo yang pahit itu, Aceh kembali meneguk kenyataan, sambil berharap dunia benar-benar mendengar, bukan sekadar mengkaji.

Sumber foto: Antara dan bithe.co

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

POTRET Gallery Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Bedah Buku Karya Novita Sari Yahya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00