• Latest
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Desember 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Redaksiby Redaksi
Desember 17, 2025
Reading Time: 2 mins read
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Isya Fakriani Kelas X APAT SMK Negeri 1 Jeunib, Bureun, Aceh

Banjir lumpur bukan sekadar bencana alam yang datang tanpa sebab. Di balik derasnya air bercampur lumpur yang merusak rumah, sawah, dan jalan, tersimpan pesan kehidupan yang patut direnungkan bersama. Salah satu pesan terpenting adalah tentang kelalaian manusia dalam bersyukur atas nikmat alam yang telah Allah titipkan. Ketika rasa syukur memudar, keserakahan sering kali mengambil alih, dan alam pun kehilangan keseimbangannya.

Allah telah menganugerahkan bumi dengan hutan yang hijau, sungai yang mengalir jernih, serta tanah yang subur. Semua itu seharusnya dijaga sebagai amanah. Namun, demi kepentingan sesaat, manusia kerap menebang hutan secara liar, menutup daerah resapan air, membuang sampah sembarangan, dan mengeksploitasi alam tanpa kendali. Perilaku tersebut mencerminkan kelalaian dalam bersyukur, karena nikmat alam tidak lagi dijaga, melainkan dirusak.

Banjir lumpur yang terjadi di berbagai daerah menjadi bukti nyata akibat ulah manusia sendiri. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap dengan baik karena hutan gundul dan tanah rusak. Akibatnya, air meluap membawa lumpur, menenggelamkan permukiman, merusak fasilitas umum, bahkan merenggut mata pencaharian masyarakat. Pada saat itulah manusia sering mengeluh dan menyalahkan keadaan, padahal akar masalahnya adalah kelalaian kita sendiri.

Dalam perspektif religi, bencana dapat menjadi teguran dari Allah agar manusia kembali sadar dan bersyukur. Al-Qur’an mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, nikmat akan ditambah, tetapi jika kufur, azab Allah sangatlah pedih. Banjir lumpur seharusnya menjadi cermin untuk introspeksi diri, bukan sekadar peristiwa yang disesali tanpa perubahan sikap.

Rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga lingkungan, mengelola sampah dengan baik, menanam pohon, serta menggunakan sumber daya alam secara bijak adalah bentuk syukur yang sesungguhnya. Selain itu, kepedulian sosial juga penting, seperti saling membantu korban bencana dan bergotong royong memulihkan lingkungan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Akhirnya, banjir lumpur mengajarkan bahwa alam memiliki batas kesabaran. Ketika manusia lalai bersyukur dan terus merusak, alam akan “berbicara” dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, marilah kita kembali menumbuhkan rasa syukur, menjaga alam sebagai amanah, dan menjadikannya warisan yang lestari bagi generasi mendatang. Jika tidak, bencana serupa akan terus berulang, menjadi pengingat pahit atas kelalaian manusia sendiri.

Penulis: Taruni SMKN 1 JEUNIEB

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Menutup Pintu Dunia di Tanah Bencana

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com