POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cara Penyerahan Uang Komitmen Fee agar Tak Terlacak KPK

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
December 13, 2025
Cara Penyerahan Uang Komitmen Fee agar Tak Terlacak KPK
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sudah deal fee 10%, lalu bagaimana cara menyerahkan uang dalam jumlah besar? Transfer jelas tak mungkin. Inilah yang mau saya bahas. Bagian ini, bisa dikatakan seni korupsi paling menakjubkan, hanya ada di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau kemarin kita bahas komitmen fee dari sisi “teori konspirasi warung kopi”, maka sekarang kita buka pintu ke ruang paling remang, cara uang itu diserahkan tanpa menimbulkan jejak digital. Ini bukan sekadar trik, lae. Ini karya seni. Kalau korupsi ada nominasi Piala Citra, bagian ini pasti menang kategori “Sinematografi Terbaik”.

Begini, tong! Transfer bank itu sudah bukan pilihan. Itu semacam mengirim surat cinta ke PPATK sambil nyelipkan nomor kamar hotel. Begitu angka mencurigakan muncul, PPATK langsung panggil KPK, KPK panggil jaksa, jaksa panggil wartawan, wartawan panggil tukang drone, habislah semuanya. Maka para pemain ini kompak, semua harus tunai, cash, gepok demi gepok, lembar demi lembar seperti adegan gangster tapi versi domestik.

Namun tentu saja, kontraktor tidak mungkin datang langsung ke rumah bupati bawa koper, ketuk pintu, lalu bilang, “Pak, ini jatah Bapak.” Terlalu norak. Terlalu gampang ditangkap. Terlalu memalukan kalau masuk berita. Maka muncullah tokoh paling penting dalam ekosistem ini, perantara tingkat dewa. Mereka ini bukan sembarang orang. Biasanya adik kandung, keponakan, ipar, ajudan, atau staf khusus yang kesetiaannya kadang lebih tinggi dari loyalitas pengawal kerajaan.

Kontraktor setor dulu ke perantara ini. Titik temu? Bisa di parkiran mall yang sudah gelap, kafe ujung gang, toko keluarga, atau lokasi “random terencana” seperti bagasi mobil yang ditinggal lima menit. Uangnya disamarkan, masuk kotak sembako, kardus isi durian, tas belanja, kardus bekas air mineral, pokoknya semua barang yang tidak akan bikin orang berpikir “wah, ini pasti uang haram”.

Setelah itu, distribusinya pindah ke jalur ninja. Kadang perantara serahkan ke bos besar malam-malam lewat pintu samping rumah. Kadang lewat vila, kadang di mobil, kadang disisipkan ke acara keluarga. Yang paling epik, amplop tebal masuk barisan angpau nikahan, padahal penerimanya bukan mempelai tapi “petinggi pembangunan kabupaten”.

📚 Artikel Terkait

Inmemoriam Agus Widjojo

Menguak Fakta Keren Hidup Sehat Rasulullah

HABA Si PATok

Tsunami Aceh

Jumlah besar tidak bisa diserahkan sekaligus. Fee miliaran itu dibagi tiga. Awal proyek, SPK, dan progres. Ada juga yang nyampur mata uang asing biar gepoknya nggak terlalu tebal. Dolar dan singapur jadi sahabat dekat koruptor, daeng.

Yang lucu, meski cara mereka masih zaman batu, cash only, penegak hukum sudah naik level. KPK sekarang mainnya bukan cuma sadap telepon. Mereka pakai forensik digital, mobile forensic, audio forensic, sampai analisis metadata. Pesan “apel lima kilo sudah siap” bisa dianggap kode. Lonjakan gaya hidup perantara bisa jadi pintu masuk. Bahkan lokasi parkir mobil bisa dianalisis dari BTS. Koruptor main petak umpet, tapi yang nyari pakai satelit, kang.

Contoh segar seperti kasus Bupati Lampung Tengah bulan kemarin, fee miliaran muter lewat kerabat, sebagian cash, sebagian dolar. Disita di rumah, disita di mobil. Klasik, tapi efektif, buat KPK.

Pada akhirnya, seberapa halus pun mereka sembunyi, selalu ada satu momen bodoh, HP lupa dihapus, WA salah kirim, mobil parkir sembarangan, amplop jatuh di lantai. Di situlah rompi oranye memanggil nama mereka dengan penuh kasih.

Semoga ritual gelap ini segera punah. APBD itu harusnya buat rakyat, bukan buat “seni pertunjukan uang tunai tanpa jejak”. Wak, kita tunggu hari ketika korupsi bukan lagi teater absurd, tapi fosil peradaban. Cuma, kapan waktu itu akan tiba? Jangan-jangan sampai kiamat kurang dua hari.

Parkiran sepi sunyi malam
Kotak sembako dibawa pelan
Uang tunai berpindah alam
KPK mengintai setiap jalan

Bagasi mobil terbuka pelan
Amplop tebal terselip dalam
Koruptor bergerak pura-pura jalan
Akhirnya tertangkap juga diam

Foto Ai hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Rumah Bu Guru Penuh Lumpur

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00