POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Festival Sastra Jakarta Barat 2025 Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Masa Depan Kota

RedaksiOleh Redaksi
December 8, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Emi Suy

Pada Sabtu, 6 Desember 2025, Gedung Kesenian PPSB Rawa Buaya menjadi tempat kota kembali mengingat dirinya. Sejak pagi, warga berduyun-duyun datang membawa suara, gerak, tarian, dan puisi, seperti arus yang tak bisa ditahan ketika bahasa menemukan rumahnya. Festival Sastra Jakarta Barat 2025 diinisiasi KOSAKATA dengan tema “Dengan Sastra Kita Bentuk Wajah Kota Global Penuh Pesona” hadir sebagai ruang di mana laporan faktual, denyut budaya, kedalaman puitik, dan pesan resmi kota bertemu dalam satu peristiwa yang menghangatkan.

Sejak pembukaan pukul 09.30 oleh panitia, Lurah Rawa Buaya, dan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, suasana segera berubah: formalitas pemerintah menyatu dengan spontanitas warga. Anak-anak, remaja, penyandang disabilitas, kelompok hadroh, hingga orkes Melayu tampil bergantian, menciptakan halaman pertama festival sebagai peristiwa sosial yang bukan sekadar agenda, melainkan perayaan kolektif. Dari sudut pandang jurnalis, semua berjalan terstruktur. Dari mata majalah budaya, semua tampil sebagai fragmen identitas lokal. Dari ruh puitik, semua itu adalah cara kota menata napasnya kembali.

Usai jeda siang, panggung bergerak ke Lomba Baca Puisi Kelompok, kompetisi yang dinilai oleh Octavianus Masheka, Anto Ristargie, dan Emi Suy. Ada rasa pertandingan, tetapi juga ada rasa belajar. Suara-suara muda tumbuh saling menyempurnakan, membuktikan bahwa proses kreatif selalu lebih luas dari sekadar menang atau kalah. Di saat yang sama, festival memberi pesan resmi bahwa Pemkot Jakarta Barat mendukung ruang literasi yang melibatkan warga lintas usia dan latar.

Sesi Kompilasi Sastra kemudian menjadi ruang luas bagi para penyair untuk hadir: Herry Tany, Arie Toskir, Le Suyudi, Emak Ocha, Jalin Pitoeng, Boy Mihaballo, Ei Genggong Bandito, dan berbagai komunitas lainnya. Dari perspektif jurnalistik, ini adalah dokumentasi ekosistem sastra yang hidup. Dari sisi budaya, ia adalah bukti bahwa Jakarta Barat bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang tumbuhnya tradisi lisan, teater, dan puisi kota. Dari sisi puitik, suara-suara itu terasa seperti pendar cahaya yang saling mengisi.

Menjelang sore, panggung bergeser ke akar tradisi: Pantun Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Blantek, Puisi Berima, dan Dramatisasi Puisi. Aldo Cs, Kukuh Santosa, SangSena Rontje Melati, hingga komunitas seni Betawi membawa tubuh budaya ke depan publik. Tradisi itu tidak tampil sebagai arsip, tetapi sebagai organisme yang hidup, mengingatkan kota untuk tidak tercerabut dari tanahnya sendiri. Secara kultural, ini adalah titik penting bagi festival: modernitas boleh melaju, tetapi identitas harus dipelihara.

Malam hari menjadi ruang paling intim dari keseluruhan festival. Musikalisasi Puisi Anthurium Musikal Kristoforus II membuka suasana dengan aliran musikal yang merangkul teks. Sanggar Raisya menari seperti tubuh yang mengulang sejarah dengan bahasa gerak. Kehadiran Emi Suy dan Octavianus Masheka di panggung mempertemukan dua arus interpretasi: yang tegas dan yang lirih, yang reflektif dan yang membelah sunyi. Di titik ini, festival tidak lagi sekadar acara; ia menjadi ruang kontemplasi publik.

Anto Ristargie menyampaikan laporan panitia dalam nada yang tidak kering lebih sebagai ungkapan syukur kolektif atas kerja bersama warga dan seniman. Hadirin kemudian menyaksikan Jose Rizal Manua, maestro panggung Indonesia, membacakan puisi dengan kedalaman yang menggerakkan generasi muda maupun tua. Suaranya adalah jembatan; penampilannya adalah pengingat bahwa seni tidak berdiri sendiri, melainkan diteruskan dari tangan ke tangan, dari masa ke masa.

📚 Artikel Terkait

Alamku Indonesia

Here the way to buy Acehnese hadicraft at POTRET Galery

Bencana Menghatam Negeri Kami

Nenengisme di Antara Budaya Omon-Omon

Puncak paling menyedot perhatian datang ketika Imam Ma’arif dan Bambang Oeban duo penyair kembar naik panggung. Dua tubuh serupa itu berdiri di dua ujung mikrofon yang seolah ditarik oleh satu rahim ingatan. Imam mengawali dengan nada rendah dan terukur; Bambang menimpali dengan ritme patah yang lebih ritmis. Mereka tidak bertanding, tetapi berdialog. Mereka tidak membacakan puisi, tetapi menghadirkan dua sisi dari satu jiwa. Dari perspektif budaya, ini adalah momen langka. Dari perspektif puitik, ini adalah pusaran energi. Dari perspektif rilis pers, ini adalah penegasan bahwa festival membuka ruang bagi inovasi penampilan sastra.

Malam kemudian dilanjutkan oleh dongeng dan puisi Exan Zen, Syiar Syair oleh Musikal Puitisasi Shirootul Mustaqiim, dan Teater Sastra oleh Sanggar Pusaka Budaya. Ketiganya menutup festival dengan ragam seni tutur yang meleburkan religi, folklor, dan interpretasi modern.

Tepat pukul 21.30, Festival Sastra Jakarta Barat 2025 ditutup secara resmi. Namun sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar selesai. Dalam catatan jurnalistik, festival ini berjalan sukses dan tertib. Dalam sudut pandang majalah budaya, ia adalah arsip penting tentang bagaimana kota menjaga ingatannya. Dalam relung puitik, ia adalah ruang perjumpaan antara suara, cahaya, tubuh, dan harapan. Dalam nada rilis pers, ia adalah bukti bahwa Pemerintah Kota Jakarta Barat berkomitmen membangun wajah kota yang lebih humanis dan berkarakter.

Sastra hari itu mengajari kita bahwa kota tidak hanya dibangun oleh beton, tetapi juga oleh kata-kata yang saling merawat. Bahwa masa depan kota global bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang cara kita mendengar satu sama lain. Festival Sastra Jakarta Barat 2025 menjadi ruang pulang bagi warga: tempat kita merawat bahasa, menjaga tradisi, dan menyusun kembali ingatan kolektif agar tetap utuh di tengah arus perubahan.

Pada akhirnya, sastra adalah cermin yang membuat sebuah kota dapat melihat dirinya sendiri. Dan pada hari itu, Jakarta Barat melihat dirinya dengan jujur melalui tawa, aksi panggung, gerak tradisi, suara penyair, dan cahaya yang pulang bersama warga di lorong-lorong Rawa Buaya.

Sejak semalam, panitia dari KOSAKATA Komunitas Sastra Jakarta Barat telah menata ruangan dengan kesungguhan yang sederhana, namun hangat. Festival sebesar ini tidak mungkin berjalan tanpa kerja gotong royong. Panitia bekerja dengan ketulusan yang tak selalu terlihat di panggung, tetapi sangat terasa dalam kelancaran acara. 

Untuk bagian Stage, Mono Jagger dan Fauzi mengatur alur penampilan dengan ketelitian yang membuat setiap segmen berjalan mulus. Pada Lighting, Jambul El Genggong memastikan setiap cahaya jatuh pada wajah, gerak, dan momen yang tepat. Tata Bangku dan Meja ditangani oleh Benny, Pancoko, dan Herry Tany yang bekerja tanpa henti sejak pagi. PIC Konsumsi dikelola oleh Nurfa Octaviani yang memastikan semua panitia dan penampil terurus dengan baik. Bagian Sound/Mic ditangani oleh Agus L Waspada dan Buyud Suyudi, menjamin suara seni dapat terdengar jelas oleh penonton. 

Dokumentasi dikerjakan oleh Deinar Aliefiean dan Seksi Repot, merekam jejak yang kemudian akan menjadi arsip sejarah kota. Admin Tamu/Peserta dijalankan oleh Azzam yang mengatur arus kehadiran peserta lomba dengan sabar.Penjaga gawang yang mengarahkan para tamu untuk menandatangani absensi tamu dipegang oleh Jack Al-Ghozali Semua ini adalah wajah gotong royong yang sesungguhnya di bawah komando sang ketua pelaksana Anto RistarGie Artpreneur dan wakilnya Emi Suy.

Rawa Buaya, 7 Desember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Air Mata di Tanah Rencong

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00