POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pelajaran Pahit dari Banjir Aceh–Sumut–Sumbar: Mengapa Hutan Kita Hancur dan Negara Gagal Belajar

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 6, 2025
Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Bencana banjir yang kembali melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu terakhir memperlihatkan betapa rapuhnya sistem ekologis kita dan betapa lemahnya negara dalam memelihara keseimbangan hutan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Dalam percakapan publik sering kita dengar bahwa banjir adalah “musim” yang tidak bisa dihindari, tetapi pandangan itu menipu kita dari kenyataan penting: banjir di Sumatera bukanlah musibah alami yang datang tiba-tiba, melainkan konsekuensi langsung dari kerusakan hutan yang telah dibiarkan berlangsung selama puluhan tahun. Air hujan bukan penyebab utama; penyebab utamanya adalah hilangnya kemampuan tanah untuk menyerap, menjaga, dan menahan air. Ketika pohonan ditebang, ketika perbukitan gundul, dan ketika sungai kehilangan vegetasi penyangga, setiap tetes hujan menjadi ancaman.

Kerusakan hutan di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar tidak dapat lagi dianggap sebagai tindakan sporadis atau kesalahan individu. Ia adalah fenomena sistemik yang terjadi karena kombinasi kepentingan ekonomi besar, lemahnya pengawasan, dan cara pandang negara yang terlalu mengejar pendapatan jangka pendek tanpa mempertimbangkan kerugian ekologis yang jauh lebih besar. Di banyak daerah, pembalakan liar berjalan dengan dukungan tidak langsung dari oknum yang memiliki kekuasaan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Ratusan truk kayu dapat keluar masuk hutan tanpa hambatan, sebuah ironi di negara yang memiliki undang-undang tegas tetapi tidak pernah benar-benar dijalankan. Ketika negara menutup mata, alam membuka peringatan dengan cara paling keras: banjir yang merusak rumah, sawah, jalan, jembatan, bahkan merenggut nyawa.

Yang lebih menyakitkan adalah bahwa masyarakat kecil selalu menjadi korban, bukan pelaku utama. Mereka tinggal di hilir sungai, di lembah-lembah, di dekat dataran banjir. Mereka tidak menikmati keuntungan dari penjualan kayu, tetapi mereka menanggung risiko paling besar ketika air bah datang. Setiap meter kubik kayu yang keluar secara ilegal dari hutan berarti satu langkah lebih dekat menuju lumpur yang menutupi desa, longsor yang menghancurkan sekolah, dan aliran air deras yang merusak kebun serta mata pencaharian. Inilah ketidakadilan ekologis paling nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumatera.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan contoh dari negara lain yang berhasil menjaga hutannya sambil tetap menumbuhkan perekonomian. Brasil, misalnya, adalah negara besar yang pernah mengalami deforestasi masif tetapi mampu menurunkan laju penggundulan hutan hingga lebih dari 80 persen dalam delapan tahun melalui pengawasan satelit real-time, penegakan hukum yang serius, dan perlindungan masyarakat adat sebagai penjaga hutan paling efektif. Jika negara sebesar Brasil saja mampu melakukan pemantauan dalam skala luas, mengapa Indonesia yang luas hutannya terus berkurang tidak mampu menerapkan sistem serupa? Jawabannya bukan pada teknologi—karena teknologinya tersedia—melainkan pada kemauan politik yang lemah dan sistem penegakan hukum yang belum menyentuh akar masalah, yaitu para pemilik modal besar dan pejabat yang memberi dukungan terhadap pembalakan.

Kosta Rika adalah contoh lain yang sangat relevan bagi Indonesia. Negara kecil ini pernah hampir kehilangan seluruh hutannya pada tahun 1980-an, tetapi kini dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat tutupan hutan tertinggi di dunia. Mereka berhasil bukan dengan polisi hutan bersenjata, melainkan dengan membayar masyarakat untuk menjaga hutan. Konsep Payment for Environmental Services (PES) memberi penghargaan material kepada warga yang memelihara pohon, tidak menebang, atau mengelola hutan secara lestari. Kunci keberhasilan Kosta Rika adalah mengubah masyarakat dari “objek larangan” menjadi “subjek penjaga” yang dihargai. Indonesia bisa mengadopsi model ini di Aceh dan Sumatera dengan menjadikan desa-desa sekitar hutan sebagai mitra negara, bukan sebagai pihak yang dicurigai atau dibatasi.

📚 Artikel Terkait

Eleği Negeriku  Yang Gelap Gulita

Menuju Masterku

Indahnya Pemandangan Alam di Desaku

Dari Ruang Kuliah ke Ruang Sidang: Kisah Magang Mahasiswa HKI UNISAI di Mahkamah Syar’iah Bireuen

Finlandia menunjukkan contoh berbeda: negara maju dengan hutannya yang sangat luas, tetapi mampu mengelola tanpa merusak. Sekitar 75 persen wilayah Finlandia adalah hutan, namun mereka tetap menjaga keberlanjutan karena regulasi yang sangat ketat, kewajiban reboisasi, transparansi penuh dalam pengelolaan hutan, dan keputusan yang selalu berbasis sains. Setiap penebangan harus disertai dengan penanaman kembali dalam jumlah tertentu. Data hutan dapat diakses publik sehingga tidak ada ruang bagi mafia kayu untuk bersembunyi. Ketika masyarakat bisa melihat siapa menebang apa, kapan, dan di mana, maka pengawasan berjalan dengan sendirinya. Transparansi ini adalah hal yang hampir tidak pernah benar-benar terwujud di Indonesia.

Bhutan, meskipun kecil, menunjukkan bagaimana sebuah bangsa bisa menjadikan lingkungan sebagai identitas. Konstitusi Bhutan secara eksplisit mewajibkan negara menjaga minimal 60 persen tutupan hutan selamanya. Artinya, proyek apa pun yang mengancam ekosistem secara otomatis bertentangan dengan hukum dasar negara. Dengan cara ini, pembangunan tidak dapat melampaui batas ekologis. Indonesia sebenarnya memiliki UU Kehutanan dan UU Lingkungan Hidup, tetapi sering kali aturan-aturan tersebut kalah oleh kepentingan jangka pendek, terutama ketika ada tekanan dari pemodal besar atau kebutuhan pendapatan daerah. Perbedaan Bhutan dan Indonesia bukan pada kelengkapan aturan, tetapi pada keberanian untuk menegakkannya tanpa kompromi.

Jika kita melihat kembali bencana yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar, pelajaran pahit yang paling jelas adalah bahwa negara belum menganggap hutan sebagai sistem penyangga kehidupan yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan keuntungan ekonomi jangka pendek. Setiap kali bencana terjadi, pemerintah mengirim bantuan, membuat pernyataan, dan menjanjikan perbaikan. Namun jarang sekali ada komitmen untuk menghentikan penebangan di hulu atau mencabut izin perusahaan yang merusak daerah tangkapan air. Sementara itu, masyarakat sipil masih sering takut bersuara karena kekuasaan lokal yang sering kali lebih berpihak pada pemilik modal daripada pada warga yang rumahnya hanyut oleh banjir.

Ke depan, Indonesia harus berani mengambil langkah tegas bila tidak ingin masa depan Sumatera dipenuhi bencana berulang. Penegakan hukum harus diarahkan kepada tokoh besar, bukan hanya pekerja lapangan. Pengawasan hutan harus menggunakan satelit yang datanya dipublikasikan secara terbuka sehingga masyarakat dapat ikut mengawasi. Desa-desa hutan harus diberi insentif untuk menjadi penjaga hutan, bukan dibatasi atau distigmatisasi. Reboisasi harus dilakukan secara besar-besaran dan tidak boleh hanya seremonial. Pemerintah daerah harus diberi kewenangan dan keberanian untuk menolak izin perusahaan yang merusak daerah resapan air. Masyarakat sipil harus diperkuat agar tidak lagi takut menghadapi penguasa lokal yang menjual hutan demi kepentingan pribadi.

Banjir Aceh–Sumut–Sumbar adalah pengingat bahwa lingkungan hidup tidak mengenal kompromi politik. Alam tidak peduli siapa bupatinya, siapa gubernurnya, atau siapa pemilik perusahaannya. Alam hanya bekerja sesuai hukum ekologinya. Ketika hutan dirusak, maka bencana akan datang. Ketika kita mengabaikan tanda-tandanya, maka kerugian akan semakin besar. Indonesia masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tetapi kesempatan itu tidak akan selamanya. Jika kita tidak belajar dari pelajaran pahit hari ini, maka sejarah akan mencatat bahwa kita adalah bangsa yang mewarisi salah satu hutan terbesar dunia—tetapi gagal menjaganya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective

Floods and Landslides in Sumatra as Man-Made Disasters: The Affective State, Corruption, and Ecological Ruin

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00