POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh

RedaksiOleh Redaksi
December 3, 2025
Aceh Tamiang, Derita Berkepanjangan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Zulhaini Sartika, S.T., M.T.

​November 2025, bukanlah waktu yang mudah bagi masyarakat di ujung barat Indonesia ini. Langit seolah tak berhenti menumpahkan air, memicu banjir dan tanah longsor yang melumpuhkan nadi kehidupan. Jalanan terputus, tiang listrik roboh, dan jaringan internet menjadi barang mewah yang timbul tenggelam. 

Dalam logika kedaruratan, prioritas utama tentu adalah keselamatan fisik dan pemenuhan logistik dasar. Namun, pada tanggal 29 November 2025, sebuah fenomena yang menggugah hati terjadi di ruang digital Universitas Serambi Mekkah (USM).

​Di tengah kepungan bencana hidro-meteorologi ini, Program Studi Teknik Kimia USM menggelar Kuliah Umum Nasional. Yang menakjubkan bukanlah acara itu sendiri, melainkan siapa yang hadir dan bagaimana mereka hadir. 

Ratusan siswa SMA dan SMK dari berbagai penjuru Aceh—banyak di antaranya mungkin sedang berada di pengungsian atau rumah yang tergenang—tetap menyalakan gawai mereka, mencari sinyal di sela-sela keterbatasan, untuk mendengarkan paparan tentang masa depan dunia rekayasa (engineering).

​Peristiwa ini bukan sekadar kuliah umum biasa. Ini adalah manifestasi dari ketangguhan mental (resilience) generasi muda Aceh. Ini adalah bukti bahwa bencana alam boleh saja merusak infrastruktur fisik, namun tidak mampu meruntuhkan infrastruktur harapan dan semangat belajar.

​Pendidikan sebagai Jangkar di Tengah Badai

​Narasi yang berkembang dari acara ini memberikan pelajaran berharga tentang fungsi pendidikan dalam situasi krisis. Seringkali, saat bencana melanda, pendidikan dianggap sebagai hal sekunder yang bisa ditunda. Namun, inisiatif Teknik Kimia USM membuktikan sebaliknya. 

Pendidikan, dalam hal ini pengenalan dunia profesi dan wawasan masa depan, justru menjadi “jangkar” yang menjaga kewarasan dan optimisme di tengah kekacauan.

​Seperti yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Teknik Kimia USM, Zulhaini Sartika, S.T., M.T., kehadiran para siswa di tengah situasi sulit adalah indikator tekad yang kuat. 

Bagi seorang siswa yang rumahnya mungkin sedang terancam banjir, memikirkan tentang “Industrialisasi Berkelanjutan”—tema kuliah umum tersebut—tampaknya jauh dari realitas keseharian. Namun, justru di sanalah letak kekuatannya. 

Dengan mengikuti acara ini, para siswa tersebut sedang melakukan perlawanan terhadap keputusasaan. Mereka menolak untuk didefinisikan oleh bencana yang menimpa mereka saat ini, dan memilih untuk fokus pada siapa mereka di masa depan: para engineer yang tangguh.

​Urgensi Mengenalkan Rekayasa Sejak Dini

​Langkah Universitas Serambi Mekkah untuk menyasar siswa SMA dan SMK adalah strategi jemput bola yang patut diapresiasi. Dr. Ir. Saisa, S.T., M.T., selaku moderator, dengan tepat menggarisbawahi bahwa pengenalan disiplin teknik sejak dini adalah kunci strategis. Mengapa? Karena dunia rekayasa, khususnya Teknik Kimia, seringkali dipandang sebagai disiplin ilmu yang rumit dan menakutkan bagi sebagian pelajar.

📚 Artikel Terkait

Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya

Kawasan Wisata Ulee Lheue Kembali Ditutup di Akhir Pekan

BELAJAR DARI SUKSESNYA SEORANG PUTRI ARIANI

Bagai Bulan Purnama

​Dengan menghadirkan praktisi seperti Fakhri Kamal, S.T., M.M., dari PT. Solusi Bangun Andalas, USM tidak hanya memberikan teori, tetapi juga memberikan “wajah” pada profesi tersebut. Fakhri menekankan bahwa dunia industri membutuhkan anak muda yang visioner dan siap berinovasi. Narasi ini penting untuk mengubah persepsi siswa. Menjadi insinyur bukan hanya soal menghitung rumus termodinamika atau neraca massa, tetapi tentang menjadi problem solver (pemecah masalah).

​Konteks bencana Aceh saat ini justru memberikan panggung relevansi yang sangat nyata bagi ilmu teknik. Banjir dan longsor yang terjadi adalah akibat dari ketidakseimbangan lingkungan dan infrastruktur yang mungkin belum memadai. 

Di sinilah peran engineer masa depan diuji. Siapa yang akan merancang material bangunan yang tahan terhadap iklim ekstrem? Siapa yang akan mengelola sistem drainase dan pengolahan air bersih saat sumber air tercemar banjir? Siapa yang akan menciptakan energi alternatif saat pasokan listrik konvensional terputus? 

Jawabannya adalah anak-anak SMA/SMK yang hari ini mendengarkan kuliah umum tersebut.

​Mengenalkan dunia rekayasa kepada mereka bukan sekadar orientasi karier, melainkan sebuah panggilan tugas. Kita sedang memberitahu mereka: “Lihatlah kerusakan di sekeliling kalian, pelajari ilmunya, dan jadilah orang yang memperbaikinya di masa depan.”

​Konektivitas Industri dan Akademisi: Jembatan Menuju Realitas

​Salah satu poin krusial dalam narasi kegiatan ini adalah keterlibatan sektor industri. Seringkali terdapat jurang pemisah (gap) antara apa yang dipelajari di bangku sekolah atau kuliah dengan apa yang dibutuhkan di lapangan. Kehadiran perwakilan dari industri besar seperti PT. Solusi Bangun Andalas memberikan wawasan pragmatis yang sangat dibutuhkan siswa.

​Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu pasca-bencana, bayangan tentang masa depan karier seringkali menjadi suram. Namun, paparan mengenai luasnya peluang di bidang teknik kimia—mulai dari manufaktur, energi, hingga lingkungan—memberikan secercah harapan. Ini menegaskan bahwa profesi engineer adalah profesi yang adaptif dan selalu dibutuhkan, terlepas dari kondisi zaman.

​Fakhri Kamal menyebutkan bahwa insinyur memiliki peran besar dalam membentuk masa depan bangsa. Pernyataan ini bukan hiperbola. Negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, dan China bisa bangkit dari keterpurukan (bahkan kehancuran perang) karena mereka memiliki surplus insinyur yang mampu membangun kembali negara. 

Aceh, dengan segala potensi sumber daya alam dan tantangan geografisnya, membutuhkan pasukan insinyur “organik”—putra-putri daerah yang memahami karakteristik tanah kelahirannya, namun memiliki kompetensi global.

​Menumbuhkan Mentalitas Problem Solver

​Apa yang dilakukan oleh Teknik Kimia USM melampaui sekadar promosi kampus. Ini adalah upaya menanamkan mentalitas problem solver. Di tengah keterbatasan akses listrik dan jaringan internet akibat bencana, para siswa yang tetap “login” ke ruang virtual tersebut sudah mempraktikkan dasar-dasar rekayasa: mencari solusi dalam keterbatasan (optimization under constraints).

​Mereka tidak menyerah karena sinyal buruk; mereka mencari cara. Mereka tidak berhenti karena listrik mati; mereka mencari daya alternatif. Semangat inilah yang disebut oleh Zulhaini Sartika sebagai modal menjadi “engineer profesional yang tangguh dan adaptif.” Tidak ada laboratorium yang lebih baik untuk mengajarkan ketangguhan selain realitas kehidupan yang keras.

​Bencana alam Aceh tahun 2025 ini harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa terus-menerus hanya menjadi korban yang menunggu bantuan setiap kali musim hujan tiba. Siklus bencana ini harus diputus dengan solusi teknis yang berkelanjutan. Dan solusi itu ada di tangan generasi muda yang kini duduk di bangku SMA dan SMK.

​Kesimpulan: Harapan yang Terbit dari Kampus

​Kegiatan Kuliah Umum Nasional yang diselenggarakan oleh Teknik Kimia USM di tengah bencana ini mengirimkan pesan yang kuat ke seluruh penjuru negeri. Bahwa pendidikan tidak boleh berhenti. Bahwa inspirasi bisa ditemukan bahkan di saat kondisi paling gelap sekalipun.

​Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada para pendidik di USM yang tetap berkomitmen menyelenggarakan acara, dan terlebih lagi kepada para siswa SMA/SMK se-Aceh yang membuktikan bahwa semangat belajar mereka tidak luntur oleh air bah. Mereka adalah aset terbesar Aceh.

​Jika hari ini mereka mampu menembus batasan sinyal dan listrik untuk belajar tentang teknik kimia, bayangkan apa yang bisa mereka lakukan sepuluh tahun lagi untuk Aceh dan Indonesia. Mereka bukan lagi sekadar penonton bencana, melainkan arsitek peradaban baru yang lebih tangguh, lebih canggih, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Inilah esensi dari pendidikan rekayasa yang sesungguhnya: membangun manusia yang mampu membangun kembali dunianya, betapapun hancurnya dunia itu saat ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Diperlukan BRR Baru Untuk Aceh,Sumut dan Sumbar

Indonesia Kehilangan Arah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00