• Latest
Menggali Makna Banjir Aceh - 52eed481 425b 40df 85c2 5723a44acd29 | #Natural Disaster | Potret Online

Menggali Makna Banjir Aceh

November 30, 2025
Menggali Makna Banjir Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Natural Disaster | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Menggali Makna Banjir Aceh - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | #Natural Disaster | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
0bbaafe3-989c-40ac-89fc-d0335c56d343

Dubai Kota Impian Pelan-pelan Menuju Kota Hantu

Maret 31, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Menggali Makna Banjir Aceh - 52eed481 425b 40df 85c2 5723a44acd29 | #Natural Disaster | Potret Online

Menggali Makna Banjir Aceh

Literasi Ekologi dalam Lensa Ekosistem Kebudayaan dan Kerakusan EkonomI

Redaksi by Redaksi
November 30, 2025
in #Natural Disaster, Aceh, Artikel, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 8 mins read
0
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: Gus Nas Jogja

Samudra Hati yang Terlupa

Aceh, Serambi Makkah, sebuah negeri yang diukir oleh spiritualitas yang dalam dan sejarah ketahanan yang legendaris oleh para pemimpin spiritual terpilih, kini sering dikunjungi oleh paleh (bencana atau kemalangan). Banjir bandang dan longsor, yang datang dengan frekuensi dan intensitas yang mengkhawatirkan, bukan lagi sekadar siklus alam yang wajib diterima. Ia adalah air mata duka dari Ekosistem Kebudayaan yang terluka, sebuah Pesan keras yang dikirimkan oleh hutan, sungai, dan pegunungan Gayo-Leuser.

Banjir Aceh—seperti halnya musibah di bentang alam Sumatera lainnya yang dipicu oleh kerusakan penyangga hidrologis—memaksa kita untuk mempertanyakan: Apakah bencana ini benar-benar datang tanpa diduga, ataukah ia adalah hasil logis dari kerangka filosofis dan ekonomi yang keliru?

Esai ini bertujuan untuk melakukan pembacaan kritis terhadap musibah hidrologis di Aceh melalui empat peribahasa kunci (atau hadih maja) yang mewakili empat fase bencana: Paleh Guda (Celaka Tak Terduga), Paleh Krong (Celaka Kelalaian), Paleh Keubeue (Celaka Kebodohan Struktural), dan Paleh Inong (Celaka Ketidakberdayaan). Narasi ini akan menyintesiskan literasi ekologi modern dengan kearifan spiritual dan sastrawi Aceh, mengungkapkan bahwa paleh hari ini adalah manifestasi fisik dari Kerakusan Ekonomi yang gagal membaca amanah spiritual dan lingkungan.

Epistemologi Musibah: Celaka yang Mengabaikan Tanda

Paleh Guda Jeungeuk Mon

Celaka kuda melihat ke dalam sumur

Peribahasa ini menggambarkan kerugian atau kemalangan yang datang tiba-tiba dan tak terhindarkan. Kuda, makhluk kuat dan waspada, tiba-tiba celaka hanya karena mencondongkan kepala ke sumur. Dalam interpretasi pertama, ini adalah narasi Takdir: bahaya yang melekat pada eksistensi yang fana.

Namun, dalam lensa Literasi Ekologi, celaka kuda ini bukanlah tak terhindarkan, melainkan diabaikan. Lingkungan Aceh—dengan topografi curam dan curah hujan tinggi—adalah sebuah sumur raksasa yang selalu menuntut kewaspadaan tertinggi. Kearifan Aceh telah lama memagari “sumur” ini dengan hukum adat yang sakral, seperti larangan menebang pohon di daerah hulu dan pengakuan terhadap hutan adat [1].

Celaka kuda hari ini terjadi bukan karena kuda itu penasaran, melainkan karena pagar pelindung sumur telah dirobohkan oleh Kerakusan Ekonomi. Perizinan deforestasi dan eksploitasi yang masif di hulu –untuk perkebunan, pertambangan, atau infrastruktur– adalah tindakan yang secara sengaja menghilangkan penyangga ekologis. Hujan deras yang seharusnya disaring dan ditahan oleh kanopi hutan purba kini langsung terjun ke lereng gundul, membawa lumpur dan entropi.

Filosofisnya, “Paleh Guda” mengajarkan bahwa di hadapan alam, kekuatan dan kelalaian adalah satu kesatuan. Manusia modern merasa kuat dengan teknologi dan modal, namun kelalaian dalam menjaga integritas hulu hutan membuat kita sama bodohnya dengan kuda yang jatuh ke sumur yang seharusnya ia kenali batasnya. Bencana ini adalah kritik spiritual: kesialan yang datang tiba-tiba selalu berakar pada kelalaian yang dilakukan perlahan-lahan.

Etika Kesiapan: Lumbung yang Kosong dan Moralitas Cadangan

Paleh Krong Hana Asoe

Celaka lumbung tidak ada isinya

Peribahasa ini mencerminkan bahaya besar yang muncul akibat ketidakmampuan dalam persiapan yang memadai, terutama terkait cadangan atau kebutuhan pokok. Lumbung (krong), simbol kemandirian pangan dan kearifan masa depan, seharusnya menjadi benteng terakhir masyarakat.

Dalam konteks bencana banjir, “Paleh Krong Hana Asoe” memiliki tiga dimensi kekosongan yang saling berhubungan:

Kekosongan cadangan ekologis hulu. Lumbung Ekologi Aceh adalah hutan tropisnya. Hutan, dengan keanekaragaman hayati dan daya serapnya, adalah tabungan Negentropi (keteraturan) yang menyimpan air dan menahan tanah. Kerakusan ekonomi telah melihat hutan bukan sebagai lumbung, melainkan sebagai stok komoditas yang harus diuangkan. Jutaan hektar telah diubah dari lumbung air menjadi ladang monokultur yang rapuh [2]. Akibatnya, saat hujan datang, tidak ada cadangan serap. Lumbung alam kosong, sehingga air bah menerjang tanpa penahan.

Kekosongan cadangan kebijakan dan kacaunya regulasi. Celaka ini terjadi karena lumbung regulasi juga kosong. Setelah bencana besar, janji-janji tata kelola berkelanjutan seringkali menguap. Kebijakan yang seharusnya memprioritaskan mitigasi, restorasi, dan penegakan hukum terhadap perusak lingkungan (gabak ekologis), justru melemah. Ini adalah celaka lumbung: sistem hukum yang seharusnya melindungi rakyat tidak memiliki “isi” moral dan kekuatan untuk melawan izin-izin korporasi.

Kekosongan Spiritual dan abai pada amanah. Di mata spiritual, lumbung yang kosong melambangkan kegagalan amanah (trusteeship). Filsafat Islam, yang sangat berakar di Aceh, mengajarkan bahwa kekayaan alam adalah pinjaman Ilahi. Menghabiskan cadangan hutan demi keuntungan pribadi atau segelintir korporasi adalah pelanggaran terhadap kontrak sosial dan kontrak kosmik. Lumbung yang kosong adalah cerminan hati yang kosong dari kesadaran Tauhid ekologis.

Falsafah Kelalaian: Kebodohan Struktural dan Tindakan Keliru

Paleh Keubeue Jisantok Jok

Celaka kerbau menabrak pohon aren

Paleh Leumo Jipok Keunamban

Celaka sapi/lembu menabrak tiang ikatan

Dua peribahasa ini secara langsung menyiratkan kemalangan yang disebabkan oleh kebodohan, kelalaian, atau kesalahan tindakan sendiri. Kerbau/sapi, sebagai makhluk yang seharusnya berguna, justru merusak elemen vital (jok/keunamban – pohon aren/tiang ikatan).

Dalam konteks literasi ekologi, kerbau/sapi yang bodoh ini adalah metafora bagi Kerakusan Ekonomi yang didorong oleh Kelalaian Struktural.

Kelemahan Regulasi sebagai Kebodohan: Jok (pohon aren) dan keunamban (tiang) melambangkan prinsip-prinsip Adat dan Hukum Tata Ruang yang seharusnya menjadi penopang kehidupan. Perusahaan yang melakukan penambangan ilegal, illegal logging, atau membuka lahan di kawasan konservasi adalah “kerbau” yang menabrak “tiang ikatan” sosial-ekologis.

Anehnya, kerbau ini seringkali diberikan izin dan dukungan oleh sistem. Bencana yang menimpa masyarakat kemudian bukan celaka tanpa sebab, melainkan celaka yang disubsidi. Sapi menabrak tiang ikatan menunjukkan ketidakmampuan kolektif dalam menjaga sumber daya. Kita membiarkan aset yang paling berharga (hutan penyangga) dirusak oleh tindakan yang keliru demi keuntungan satu musim tanam atau satu periode konsesi.

Narasi Spiritual: Konsep Dosa Ekologis: Secara spiritual, tindakan menabrak pohon aren –simbol kemakmuran jangka panjang dalam budaya Melayu– atau merusak tiang ikatan adalah dosa ekologis (al-fasad fil-ardh). Ini adalah perusakan yang dilakukan oleh kehendak bebas yang tidak berhikmah. Bencana banjir bandang kemudian menjadi pembalasan kosmik (karma) atas kebodohan kolektif yang menganggap alam sebagai entitas mati tanpa hak.

Konsekuensi Akhir: Ketidakberdayaan dan Keputusasaan yang Sia-sia

Paleh Inong Hana Lakoe

ADVERTISEMENT

Celaka perempuan tidak ada suami

Geutanyoe grob, patah pha-pha, laba tan dipade: Kita berusaha sampai melompat, patah kaki, tiada laba barang sepadi

Baca Juga

Menggali Makna Banjir Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Natural Disaster | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026

Dua peribahasa terakhir ini mewakili fase keputusasaan dan konsekuensi sosial-politik dari bencana.

Pertama, celaka ketidakberdayaan struktural:
“Paleh Inong Hana Lakoe” –Celaka perempuan tidak ada suami– menggambarkan keadaan yang tidak berdaya dan rentan terhadap ancaman, sebuah kondisi yang secara filosofis setara dengan sebuah negeri yang kehilangan pelindungnya atau pemimpin yang adil. Dalam konteks bencana, celaka ini menimpa masyarakat adat dan rakyat kecil yang kehilangan kekuatan suami –perlindungan hukum, dukungan struktural, dan kepemimpinan yang berhikmah–.

Aceh yang rentan terhadap banjir adalah negeri tanpa payung hukum yang kuat yang bisa menahan hujan modal dan eksploitasi. Rakyat kecil, yang rumah dan sawahnya disapu oleh luapan air yang seharusnya ditahan oleh Hutan Larangan Adat, menjadi pihak yang paling tidak berdaya. Perlindungan telah diserahkan, dan kini mereka menghadapi musibah dengan tangan kosong.

Kedua, puncak frustrasi, usaha yang tampaknya sia-sia:
“Geutanyoe grob, patah pha-pha, laba tan dipade” –Kita berusaha sampai melompat, patah kaki, tiada laba barang sepadi– adalah puncak narasi sastrawi ini. Ia melukiskan upaya heroik masyarakat dan relawan dalam masa tanggap darurat, sebuah perjuangan yang melelahkan dan penuh pengorbanan (patah pha-pha).

Namun, karena akar paleh—yaitu kerakusan dan deforestasi di hulu—tidak pernah dicabut, hasil dari upaya heroik ini menjadi nihil (laba tan dipade). Berapa pun banyak bantuan yang dikirim, berapa pun kuatnya kita melompat untuk menyelamatkan korban, bencana akan terus berulang selama lumbung ekologis tetap kosong, dan kerbau bodoh dibiarkan menabrak tiang-tiang penopang. Ini adalah tragedi upaya yang sia-sia di hadapan entropi yang disubsidi oleh sistem.

Merajut Kembali Kain Ekosistem Kebudayaan

Banjir Aceh, dengan segala kepedihan dan kehancurannya, adalah sebuah manifestasi termodinamika dari kegagalan spiritual dan literasi ekologi. Kita telah menukar lumbung untuk kenyamanan sementara, dan mengabaikan tanda-tanda di hulu demi uang. Bencana ini adalah pesan yang menuntut Revolusi Kesadaran dari rakyat dan para pemangku amanah.

Masa depan Aceh terletak pada kemampuan kolektif untuk kembali membaca hadih maja bukan sebagai folklor, melainkan sebagai kode etik ekologis yang mengikat. Kita harus kembali menjadikan Adat dan Syarak sebagai pagar yang kokoh melindungi sumur kehidupan.

Paleh dapat dihindari jika kuda waspada, lumbung terisi, dan kerbau terikat pada akal sehat. Celaka sejati bukanlah banjir itu sendiri, melainkan ketulian hati kita di hadapan jeritan alam yang telah dinubuatkan oleh para leluhur melalui petatah petitih yang tak lekang dimakan waktu. Kita dituntut untuk menjadi pemimpin yang melindungi, agar negeri ini tidak menjadi “perempuan tanpa suami” yang terus-menerus dirundung paleh akibat kerakusan yang diizinkan.

Wallahu A’lam

Catatan Kaki

[1] T. M. J. Iskandar, Hukum Adat dan Pelestarian Lingkungan di Aceh, Jurnal Hukum, 2018. (Membahas peran hukom adat dalam zonasi dan perlindungan sumber daya alam di Aceh, termasuk hutan adat).

[2] WALHI Aceh, Laporan Tahunan Kondisi Ekologi Aceh: Eksploitasi dan Dampak Bencana, 2024. (Data empiris mengenai tren deforestasi dan konsesi izin tambang/perkebunan di wilayah hulu Aceh, khususnya di Ekosistem Leuser, yang berkontribusi pada kerentanan hidrologis).

[3] S. H. Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, Unwin Paperbacks, 1990. (Argumentasi filosofis bahwa krisis lingkungan berakar pada pemisahan spiritualitas dari alam, yang berlawanan dengan prinsip Tauhid yang mendalam di Aceh).

[4] J. Rifkin, Entropy: A New World View, Bantam Books, 1989. (Konsep termodinamika Entropi yang diterapkan pada sistem sosial dan ekologis, menjelaskan bagaimana eksploitasi sumber daya menyebabkan kekacauan sistemik).

[5] P. K. Nas, The Power of Minangkabau: An anthropological approach to the social, political and economic organization of the Minangkabau people, Universitas Leiden, 1993. (Meskipun berfokus pada Minangkabau, karya ini relevan untuk memahami kerangka Ekosistem Kebudayaan dalam masyarakat Melayu Sumatera).

Daftar Pustaka

Iskandar, T. M. J. Hukum Adat dan Pelestarian Lingkungan di Aceh. Jurnal Hukum, 2018.

Nasr, Seyyed Hossein. Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. London: Unwin Paperbacks, 1990.

Rifkin, Jeremy. Entropy: A New World View. New York: Bantam Books, 1989.

WALHI Aceh. Laporan Tahunan Kondisi Ekologi Aceh: Eksploitasi dan Dampak Bencana.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 201x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Menggali Makna Banjir Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Natural Disaster | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952
Pendidikan

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche
Artikel

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Next Post
Menggali Makna Banjir Aceh - fb82927a e5ff 453c 826d e8db98110057 | #Natural Disaster | Potret Online

Diperlukan BRR Baru Untuk Aceh,Sumut dan Sumbar

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com