POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia

RedaksiOleh Redaksi
November 29, 2025
Sudah 34 Nyawa Melayang, #PrayIndonesia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Untuk sementara setop dulu soal prahara PBNU, Bandara IMIP, atau soal dagelan hukum. Arahkan pandangan kita pada saudara-saudara kita di Sumatera. Di sana sudah 34 nyawa melayang akibat bencana alam. Jumlah itu akan terus bertambah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia, 27 November 2025. Hujan turun bukan lagi sebagai air, tapi sebagai putusan pengadilan langit. Dulu kita menyebutnya “musim hujan”, sekarang lebih pantas disebut “musim pembalasan dendam”. Sudah 34 nyawa ambruk di bawah lumpur. Ada 52 lainnya masih berkeliaran di antara puing, doa, dan sinyal HP yang pasrah. Langit sebenarnya mau bantu, tapi mungkin ia sendiri sudah muak mendengar janji-janji kita yang aromanya saja sudah seperti banjir kiriman.

Di Tapanuli Selatan, 17 nama dicoret dalam satu malam. Sibolga menelan delapan, lalu menahan 46 lainnya di perut sungai yang berubah jadi makhluk mitologi gara-gara ulah kita. Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Nias Selatan, semua seakan berlomba seperti berebut nomor antrean di kantor kelurahan. Siapa paling cepat mengirim korban, dia yang dianggap paling “update”. Totalnya tetap, 34 tewas, 52 hilang, 175 luka, dan ribuan lainnya sekarang resmi memakai label “pengungsi”gelar yang kadang terdengar lebih manusiawi dari label asli mereka, korban pembangkangan kolektif.

Yang paling lucu, wak, ini cerita lama. Season lama. Drama yang diputar ulang setiap tahun dengan pemeran sama, dialog sama, ending sama, cuma background musiknya makin sumbang. Kita tebang hutan di lereng, lalu terkejut ketika lereng balas dendam. Kita corok-corok sampah ke sungai, lalu pura-pura histeris ketika sungai membalas mencorok rumah kita ke laut. Kita bangun bendungan gede kayak ego pejabat, lalu pura-pura religius ketika bendungan itu menyemburkan air setinggi dosa nasional. BMKG sudah teriak dari tahun ke tahun, tapi teriakannya kalah sama suara gergaji, iklan green economy palsu, dan baliho yang hijau cuma di fotonya.

📚 Artikel Terkait

Panggung Anak, Tumbuh Kembang, dan Tanggung Jawab Pendidikan

Fakta Mengerikan Tentang Riba

Munculnya Kelas Baru Prekariat

Gol A Gong Akan Menerbitkan 10.000 Fiksi Mini Indonesia Pemecah Rekor Setebal Bantal

Kita ini juara nasional dalam lomba “pura-pura kaget”. Setiap jembatan putus di Padang, setiap desa hilang di Kutacane, setiap anak hanyut terekspos kamera ponsel, kita langsung buka aplikasi dan ngetik #PrayForIndonesia. Seolah-olah doa ketikan jempol sambil selonjoran bisa menggantikan pohon yang kita habisi sepuluh tahun lalu. Kita sedih lima menit, repost video dramatis, lalu kembali tidur kayak tidak ada apa-apa karena besok ada rapat jam sembilan. Yang mati tetap mati, yang hilang tetap hilang, kita tetap penonton sinetron bencana.

Padahal 34 nyawa itu bukan angka. Itu adalah Dewi Hutabarat yang baru beli seragam untuk anaknya. Itu adalah Vania Aurora Lumbantobing yang belum sempat tiup lilin ulang tahun keenam belas. Itu bapak-bapak yang masih memegang cangkul ketika tanah memutuskan waktunya sudah habis. Itu ibu-ibu yang menjerit memanggil nama anaknya sambil dikejar air keruh yang naik lebih cepat daripada tobat nasional.

Tangisan kita sudah terlalu murah. Air mata kita bahkan lebih murah dari satu bibit pohon yang malas kita tanam. Doa kita di media sosial tidak pernah sampai ke tangan kita sendiri yang masih memegang kapak. Kita jago bikin narasi “bencana alam”, padahal ini murni bencana manusia. Alam cuma menagih utang, dan seperti rentenir paling jujur, ia menagih dengan cara paling teliti, ia mengubur kita di tempat yang sama di mana kita dulu mengubur masa depannya.

Hari ini 34 keluarga kehilangan segalanya. Besok mungkin giliran kita. Ketika giliran itu tiba, kita akan ulang lagi skrip lama, bikin hashtag baru, tiru wajah sedih, rekam drama lima detik, lalu lupa, sampai hujan berikutnya datang membawa vonis yang sama, untuk orang yang sama, oleh tangan yang sama.

Foto asli sumber dari Antara

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00