• Latest
Guru dan Realitas Penghargaan yang Belum Memadai

Guru dan Realitas Penghargaan yang Belum Memadai

November 24, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Guru dan Realitas Penghargaan yang Belum Memadai

(Refleksi HGN Ke-80)

Redaksiby Redaksi
November 25, 2025
Reading Time: 4 mins read
Guru dan Realitas Penghargaan yang Belum Memadai
615
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Putri Aldina, S.Pd, Gr

Pada momentum Hari Guru Nasional, isu tentang kesejahteraan dan penghargaan terhadap guru kembali menjadi sorotan penting. Meskipun masyarakat sering kali menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kenyataannya profesi ini masih jauh dari kondisi yang layak, baik secara ekonomi, maupun perlindungan profesi. 

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Guru dituntut menjadi teladan moral, agen perubahan sosial, fasilitator pembelajaran, sekaligus pembentuk karakter generasi masa depan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penghargaan terhadap guru masih bersifat simbolis, belum tercermin dalam kebijakan struktural yang benar-benar menempatkan guru pada posisi terhormat. 

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang sangat memprihatinkan, yaitu kriminalisasi terhadap guru yang berupaya mendisiplinkan murid. Tindakan mendidik yang seharusnya menjadi bagian wajar dari proses pembentukan karakter justru kerap dipersoalkan secara berlebihan. Ada guru yang dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena memberikan teguran atau hukuman ringan yang masih berada dalam batas kewajaran. 

Situasi ini membuat banyak guru berada dalam posisi serba salah dan ketakutan. Mereka khawatir tindakan yang dimaksudkan untuk mendidik justru dianggap sebagai pelanggaran. Kondisi semacam ini tentu tidak hanya merugikan guru, tetapi juga berdampak pada lemahnya pembentukan karakter peserta didik. 

Di sisi lain, kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga semakin melemah. Sebagian orang tua cenderung bersikap permisif terhadap anak. Mereka memanjakan putra-putrinya dengan fasilitas yang berlebihan, termasuk gawai dan hiburan yang tidak terkontrol. 

Ketika anak bermasalah di sekolah, tidak sedikit orang tua yang langsung menyalahkan guru, tanpa melihat konteks atau melakukan komunikasi terlebih dahulu. Ada pula orang tua yang menganggap sekolah sebagai bengkel yang bertugas memperbaiki segala kekurangan anak, padahal pendidikan karakter pertama dan utama berasal dari rumah. Tanpa kerja sama antara sekolah dan keluarga, mustahil tercipta lingkungan pendidikan yang efektif dan berkualitas. 

Fenomena ini menjadi semakin jelas jika dibandingkan dengan praktik pendidikan di Jepang. Di negara tersebut, anak-anak dibiasakan untuk mandiri sejak usia dini. Mereka berjalan kaki ke sekolah tanpa diantar, membersihkan ruang  kelas sendiri, makan bersama dengan sistem piket, serta bertanggungjawab terhadap tugas kelompok. 

Orang tua Jepang memahami bahwa guru adalah otoritas moral di sekolah, sehingga mereka memberikan dukungan penuh terhadap proses kedisiplinan. Sikap saling percaya antara orang tua dan guru membentuk ekosistem pendidikan yang sehat dan berkesinambungan. 

Kondisi ini berbeda dengan sebagian masyarakat Indonesia yang justru mengurangi kewibawaan guru dengan membela anak secara berlebihan. 

Jika melihat sejarah pendidikan Indonesia, para tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, Raden Ajeng Kartini, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari telah menempatkan guru sebagai tokoh sentral dalam pembentukan karakter bangsa. 

Ki Hajar Dewantara bahkan menjelaskan bahwa guru harus mampu menjadi teladan, penggerak, dan pemberi motivasi. Pemikiran tersebut menegaskan betapa mulianya peran guru. Namun dalam konteks modern, penghargaan terhadap guru tidak sepenuhnya sejalan dengan idealisme para tokoh pendidikan tersebut. Masih banyak guru yang menerima penghasilan rendah, bekerja tanpa fasilitas memadai, serta tidak mendapatkan perlindungan hukum yang layak. 

Kondisi kesejahteraan guru, terutama guru honorer, juga menjadi persoalan besar. Banyak di antara mereka  bekerja dengan pendapatan yang tidak memenuhi standar hidup layak. Ada guru yang harus berprofesi ganda sebagai buruh, pedagang kecil, atau pekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga. 

Padahal tuntutan profesionalisme terus meningkat dari waktu ke waktu. Guru harus mengikuti pelatihan, menyesuaikan diri dengan kurikulum baru, mengelola administrasi digital, serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun peningkatan tuntutan tersebut tidak diimbangi dengan kebijakan yang memberikan kesejahteraan dan jaminan karir yang memadai. 

Paradoks ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya memberikan penghargaan yang layak bagi guru. Pujian pada hari peringatan tidak cukup apabila tidak dibarengi langkah nyata. Diperlukan kebijakan strategis yang menyentuh akar permasalahan, mulai dari peningkatan kesejahteraan, perlindungan profesi, hingga penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan adalah fondasi peradaban, dan fondasi itu tidak mungkin kokoh, jika guru dibiarkan berada dalam kondisi yang serba terbatas. 

Pada akhirnya, menghormati guru bukan sekadar memberikan ucapan terima kasih. Menghormati guru berarti memberikan kesejahteraan yang layak, memberikan perlindungan hukum, memperkuat posisi mereka sebagai pendidik, dan membangun kolaborasi yang sehat antara orang tua dan sekolah. 

Masa depan bangsa bergantung pada kualitas pendidikan hari ini, dan kualitas pendidikan bergantung pada kualitas serta kesejahteraan guru. Jika guru dimuliakan, bangsa akan bermartabat. Jika guru disejahterakan, generasi yang lahir akan lebih kuat, mandiri, dan berkarakter. 

Hari Guru Nasional hendaknya menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi pilar utama penegak masa depan Indonesia. 

“Ketika dunia sering salah memahami tugas guru, justru di situlah kemuliaannya terletak-mereka terus menyalakan cahaya, bahkan saat tidak seorangpun melihat dari mana cahaya itu berasal” salam literasi!!!

Pegiat literasi Aceh besar

Guru Inspirator Nasional

ADVERTISEMENT

Guru Pengerak Aceh besar

Surel:putrialdinagadeng@gmail.com

r

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Apis, Penjaga Cahaya di Jalan Sunyi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com