POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jeumpa Abadi Di Sayap Meurak

RedaksiOleh Redaksi
November 19, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Nyakman Lamjame

Meurak terbang jauh menembus langit,

melintasi awan gelap dan cahaya sejarah,

membawa harum bungong jeumpa

dari tanah suci yang bercahaya abadi.

Dari Samudra Pasai, istana bersinar,

Sultan Malikussaleh menata negeri dengan hikmah,

bumi dan laut dalam kepemimpinan,

Sultanah Nahrasiyah menulis kalam nurani,

Sultanah Safiatuddin menyalakan lentera hikmah

menembus zaman dan samudra,

sementara Iskandar Muda mengibarkan panji kebenaran,

bendera Aceh berkibar, memantul di ufuk jauh,

menggetarkan dunia dengan ilmu, doa, dan keberanian.

Benteng Inong Balee berdiri kokoh,

Laksamana Malahayati menaklukkan ombak dengan suaranya,

gelombang tunduk, laut bersujud,

sedangkan Cut Nyak Dhien menatap langit

dengan doa dan dada bergemuruh,

Teuku Umar berpacu dengan takdir,

gugur mulia, hidup dalam zikir,

Cut Meutia menggenggam pedang cahaya

menembus malam, menantang kegelapan,

Pocut Meurah Intan menantang badai,

Pocut Baren berdiri di tepi luka,

Malem Dagang dan Malem Diwa bersinar di padang doa,

Japakeh menabur zikir di tepi laut,

menghubungkan Aceh ke Mekkah, Madinah, dan Palestina.

Teuku Nyak Makam menata barisan panglima,

Teuku Nyak Arief menyalakan obor strategi,

para wali menabur nur iman,

para panglima menegakkan syiar di medan laga,

ulama menulis kitab di samping tombak,

menjadi mercusuar ilmu, doa, dan marwah.

Peureulak mengirim kabar melalui angin,

Bandar Aceh riuh dengan pasar dan doa,

Meureudu menyalakan obor perlawanan,

Peusangan menegakkan barisan panglima,

Gayo menabur ilmu di kaki gunung,

Meureuhom Daya berdiri di perbatasan sejarah,

📚 Artikel Terkait

BUKU PUISI “NEGERI BENCANA” JAGA DAN RAWATLAH ALAM

Abu Kruengkalee; Syekhul Masyayikh Ulama Aceh Periode Awal

STEM dan Warisan Soekyarno

Narkoba di Negeri Bersyariah

Singkil mengirim berita keberanian ke seluruh samudra,

Meulaboh berdiri tegap, menyalakan lentera pertahanan,

Teluk Samawi memantul cahaya para pahlawan,

kapal-kapal berlayar, doa dan zikir membelah gelombang,

menjadi saksi bagi marwah dan keberanian,

sementara Hamzah Fansuri menulis samudra jiwa,

Syiah Kuala menimba hikmah Tuhan,

Hikayat Prang Sabi bergema di lembah dan gunung,

mengajarkan keberanian, iman, dan marwah yang abadi.

Tgk. Chik di Tiro menyeru jihad,

Tgk. Chik Pante Geulima menyalakan nur iman,

Tgk. Chik Pante Kulu menegakkan syiar,

Tgk. Chik Awee Geutah menabur ilmu,

Tgk. Chik Tanoh Abee menjaga naskah suci,

dan dari tiap doa, zikir, dan alunan hikmah,

Aceh memancarkan cahaya hingga ke langit dunia.

Dari Aceh kapal berlayar ke Istanbul,

mengirim surat cinta dan sumpah iman kepada Sultan Ottoman,

dua dunia bersatu dalam satu kalimat suci,

bulan sabit dan jeumpa bersanding di marwah,

sementara Negeri Melayu menatap hormat dari seberang laut,

Ratu Inggris menulis surat kagum dari istananya,

dan dari Mekkah dan Madinah,

ulama Aceh bersujud di bawah Ka’bah,

air mata menjadi laut yang kembali ke tanah,

di Palestina, nama Aceh disebut dalam tiap munajat,

karena darah yang tumpah di Al-Quds suci

adalah gema darah syuhada negeri ini.

Dan ketika musuh berbisik getir:

“Aceh Pungo – Moorden!”

dunia berguncang, bumi bergetar, langit bergetar,

mereka tak tahu arti keberanian,

bahwa gila yang mereka sebut itu iman,

bahwa darah yang tumpah itu marwah,

dan kematian itu kemenangan.

Dari Pasai ke Darussalam,

dari Benteng Inong Balee ke gunung perlawanan,

dari Tanoh Abee hingga ke Baytul Maqdis,

dari Peureulak hingga Gayo,

dari Bandar Aceh hingga Meureuhom Daya,

dari Singkil hingga Meulaboh,

dari Teluk Samawi hingga samudra terbuka,

nama Aceh bergetar di dada langit,

sementara Meurak terbang menjelajah,

menyebar harum bungong jeumpa ke segala arah,

agar dunia tahu, sepanjang masa,

Aceh takkan hilang hanya berubah rupa.

Jeumpa abadi di sayap Meurak,

terbang membawa cinta dan marwah,

menembus zaman, melintasi sejarah,

menyala abadi di hati semesta,

dan dari tanah ini,

setiap doa, syair, dan darah para sultan, 

sultanah, wali, panglima, ulama, dan pejuang

menjadi cahaya yang takkan padam

sepanjang masa.

Markas Lampisang, 12 November 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Dua Dekade Dana Otsus: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dirugikan?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00