POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menangguh Politik Hukum Ijazah Palsu

RedaksiOleh Redaksi
November 14, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

“Keputusan yang baik tidak memerlukan jawaban yang baik; melainkan memerlukan pertanyaan yang baik.” — Malcolm Gladwell(62), What the Dog Saw: And Other Adventures(2009).

Di negeri yang gemar menertawakan dirinya sendiri, politik hukum sering kali tampil sebagai panggung satire yang lebih menghibur daripada teater rakyat.

Penetapan delapan tersangka oleh Polda Metro Jaya atas kasus “penuduh” ijazah palsu Presiden Joko Widodo (2014–2024) adalah salah satu babak paling absurd dalam drama hukum kontemporer. Trio RRT—Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma—menjadi tokoh utama dalam lakon ini, menjalani pemeriksaan maraton selama sembilan jam pada 13 November 2025, lalu pulang tanpa penahanan.

Sebuah ironi yang membuat publik bertanya: siapa sebenarnya yang sedang diadili, kebenaran atau keberanian?

Tekanan publik yang disebut “silent majority” justru semakin bising dalam diam.

Namun, tekanan publik diam ini, bisa diacu sebagai „uji diam“ pada dukungan kuat dan besar dari metapolitik dan daya tarik legitimasi kekuasaan rezim Presiden Prabowo — dalam penggerogotan luar-dalam, ekstenal-internal — dengan daya rusak legasi kuasa rezim sebelumnya.

Komentar Mahfud MD dan Amien Rais di kanal YouTube dan Instagram mereka menambah lapisan semiotik dalam drama ini, seolah mengundang respon metapolitik dari kepemimpinan Presiden Prabowo.

Algoritme media sosial bekerja seperti doa malam di pekuburan: gaib, sunyi, tetapi penuh resonansi.

Publik diam, tetapi diam itu bukan kosong; ia adalah operasi senyap yang menggerakkan opini, membentuk narasi, dan menunggu momentum.

Siaran pers dr. Tifa di laman Facebooknya menegaskan bahwa inti perjuangan bukanlah ditahan atau dibebaskan, melainkan menegakkan kebenaran berbasis keilmuan. Ia menulis dengan nada religius sekaligus reflektif, bahwa proses panjang mencari kebenaran tidak berhenti pada kenyamanan pribadi.

📚 Artikel Terkait

”AIR YANG MENYATUKAN, API YANG MEMECAH”

Senerai Puisi Mohd. Adid AB Rahman

Andai Aku Lewat Pulang

Siswi Berprestasi dari SMAN 3 Bireuen Berjalan Kaki 4,3 Km ke Sekolah Akan Mendapat Bantuan Sepeda

Pernyataan ini, jika dibaca dengan kacamata John Rawls, adalah seruan untuk menegakkan prinsip keadilan sebagai fairness: bahwa hukum harus melayani kebenaran, bukan sekadar melayani kekuasaan.

Namun, dalam praktiknya, bias kognitif ala Daniel Kahneman dan bias konfirmasi yang diulas Rolf Dobelli tampak mendominasi: publik dan aparat sama-sama terjebak dalam narasi yang mereka ingin percayai, bukan pada fakta yang harus diuji.

Malcolm Gladwell, penulis dan jurnalis, dikenal karena gaya naratifnya yang menggabungkan psikologi, sosiologi, dan analisis budaya, dalam What the Dog Saw mengingatkan bahwa sering kali kita lebih sibuk melihat apa yang ingin kita lihat daripada memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Hakikat kebenaran faktual menurut Gladwell adalah bahwa fakta sering kali tidak berbicara sendiri; ia membutuhkan konteks, interpretasi, dan pertanyaan kritis.

Dalam konteks hukum, hal ini relevan: kebenaran hukum bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi hasil dari proses interpretasi, argumentasi, dan pembuktian.

Gladwell menekankan bahwa keputusan yang baik lahir dari kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga membuka ruang bagi fakta untuk berbicara dengan jernih.

Dengan demikian, What the Dog Saw memberi pelajaran bahwa dalam menghadapi politik hukum atau perdebatan publik, kita tidak boleh hanya terpaku pada jawaban yang sudah ada.

Kita harus berani mempertanyakan, menggali, dan menafsirkan ulang fakta agar kebenaran hukum tidak menjadi sekadar formalitas, melainkan benar-benar mencerminkan keadilan.

Kasus ijazah palsu ini menjadi cermin betapa politik hukum di Indonesia bisa berubah menjadi arena persepsi, bukan arena verifikasi.

Polisi bekerja dengan prosedur, publik bekerja dengan prasangka, elit bekerja dengan komentar, dan algoritme bekerja dengan diam yang berisik.

Semua bergerak dalam orbit masing-masing, tetapi jarang bertemu pada titik kebenaran.
Satire politik hukum ini akhirnya menyingkap daya rusak sistem hukum yang terlalu mudah dijadikan alat legitimasi.

Menangguhinya berarti menertawakan absurditasnya, sekaligus mengingatkan bahwa hukum seharusnya menjadi pranata keadilan, bukan panggung sandiwara.

Dalam diam “silent majority”, dalam doa malam yang gaib, dalam algoritme yang tak terlihat, publik sebenarnya sedang menunggu: apakah hukum akan kembali menjadi jalan menuju kebenaran, atau sekadar menjadi panggung komedi yang terus dipentaskan tanpa akhir.

coversongs: Lagu Nikita dirilis oleh Elton John pada 4 Oktober 1985 sebagai single utama dari album Ice on Fire.

Pesan lagu berkisah tentang cinta terlarang dan kerinduan yang terhalang oleh batas politik, menggambarkan seorang pria yang jatuh cinta pada penjaga perbatasan (Nikita) di balik Tirai Besi era Perang Dingin, namun tak bisa bersatu karena tembok ideologi dan politik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

‎Lukisan Sepasang Bangau, Cerita Pendek dan Puisi Dua Larik di Warung Kopi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00