POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Safitri dan Luka Sosial Kita: Saat Empati Netizen Lebih Cepat dari Keadilan Negara

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
November 3, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman 

Di tengah derasnya arus informasi dan kecepatan media sosial hari ini, kisah Safitri — seorang istri dua anak yang ditinggalkan suaminya setelah sang suami lulus seleksi P3K — menjadi potret nyata tentang luka sosial yang masih hidup di antara kita. Di satu sisi, ini adalah cerita tentang cinta dan pengorbanan yang tidak dihargai. Di sisi lain, ini adalah cermin besar tentang bagaimana empati manusia kini menemukan ruang baru: bukan lagi hanya di jalanan, tapi di dunia maya yang tanpa batas.

Safitri bukan sekadar nama; ia adalah simbol dari banyak perempuan yang menanggung pahit manis perjuangan bersama suami dalam kesederhanaan, namun justru ditinggalkan saat kehidupan mulai membaik. Peristiwa ini menggugah gelombang simpati luar biasa dari masyarakat. Ribuan komentar, unggahan, dan dukungan datang dari berbagai penjuru negeri. Netizen, yang sering dianggap “sekadar penonton”, kali ini justru menjadi penggerak moral, penyambung rasa keadilan yang tak sempat dijangkau oleh lembaga formal.

Empati Kolektif di Dunia Digital

Kisah Safitri menunjukkan bahwa empati manusia belum mati. Ia hanya berpindah medium. Dulu, kepedulian disuarakan melalui surat kabar atau mimbar-mimbar. Kini, ia hidup dalam kolom komentar, unggahan, dan donasi digital. Dunia maya yang sering dicap kejam karena perundungan, ternyata juga bisa menjadi tempat paling manusiawi. Di sana, orang-orang yang tidak saling kenal bersatu dalam satu perasaan: iba dan kemarahan terhadap ketidakadilan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa netizen kini berfungsi layaknya pengadilan sosial. Mereka menimbang, menilai, dan memberi hukuman moral terhadap tindakan yang dianggap melukai nilai kemanusiaan. Mungkin memang tidak semua reaksi netizen rasional; sebagian emosional, sebagian impulsif. Namun di balik itu ada satu hal yang tidak bisa diabaikan — adanya kesadaran moral kolektif bahwa meninggalkan orang yang berjuang bersamamu saat susah adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri.

Keadilan Sosial yang Lebih Cepat dari Hukum

Ketika berita perceraian itu mencuat, publik bereaksi lebih cepat daripada negara. Media sosial menjadi ruang solidaritas spontan, tempat orang-orang berbagi simpati dan bantuan finansial. Safitri yang awalnya dirugikan justru mendapat sokongan moral dan material dari masyarakat luas. Dalam waktu singkat, ia tidak lagi sendirian. Dunia digital memeluknya dengan hangat.

Di sinilah kita melihat paradoks zaman modern: keadilan moral sering kali lebih cepat muncul di dunia maya ketimbang di pengadilan negara. Dalam sistem hukum formal, sebuah kasus bisa berlarut-larut oleh prosedur dan birokrasi. Namun di dunia maya, keadilan sosial dapat hadir seketika — dalam bentuk empati, pembelaan, dan dukungan. Mungkin tidak bersifat yuridis, tapi secara batiniah, inilah bentuk rehabilitasi sosial yang memberi makna lebih besar bagi korban.

Ketika Moralitas Diuji oleh Kesuksesan

Kisah suami Safitri yang menceraikan setelah lulus menjadi P3K menggambarkan sisi gelap dari fenomena sosial yang sering terjadi: manusia yang berubah saat berada di puncak keberhasilan. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu melahirkan kebahagiaan; kadang justru membuka tabir karakter sejati seseorang.

📚 Artikel Terkait

Kapal yang Ditebuk

Digital Literasi Numerasi itu Mudah

Tinjau Ulang Menelaah Tulisan Latin Tegak Berdiri Atas Karya Peserta Lomba

Nalar Kuasa

Mereka yang dulu bersumpah sehidup semati, tiba-tiba merasa lebih tinggi karena status sosial berubah. Di sinilah moralitas diuji — bukan saat kita jatuh, tetapi saat kita berhasil.

Dalam konteks antropologi dan sosiologi, tindakan seperti ini memperlihatkan retaknya nilai kekeluargaan tradisional di tengah modernitas. Ketika mobilitas sosial meningkat, sebagian orang lupa akar perjuangannya. Padahal dalam kultur Nusantara, keberhasilan selalu dimaknai sebagai hasil kebersamaan, bukan kemenangan individu. Maka saat seorang suami meninggalkan istri yang membantunya bangkit, ia bukan hanya melukai satu hati, tetapi juga menodai nilai budaya gotong royong dan kesetiaan yang menjadi fondasi masyarakat kita.

Media Sosial Sebagai Cermin Moral Kolektif

Kita sering mendengar keluhan bahwa media sosial hanya menonjolkan sensasi. Namun kenyataannya, justru di ruang digital inilah banyak kebenaran menemukan jalannya. Transparansi informasi membuat masyarakat kini tidak lagi buta terhadap perilaku tidak bermoral — apalagi bila pelakunya seorang pegawai negeri, sosok yang seharusnya berintegritas dan menjadi teladan publik.

Ketika kasus seperti ini menjadi viral, masyarakat bukan sekadar ingin tahu, tetapi menuntut tanggung jawab moral dari seseorang yang berstatus “abdi negara”. Sebab jabatan bukan hanya tentang gaji dan status, tetapi juga tentang nilai dan kehormatan.

Dunia digital telah merenovasi wajah keadilan. Ia mungkin belum sempurna, namun telah membuka ruang partisipasi moral yang lebih luas. Kini siapa pun bisa bersuara, membela yang tertindas, dan menekan pihak berkuasa agar bertindak adil. Dengan satu unggahan, seseorang bisa menggerakkan ribuan hati. Dengan satu video, seseorang bisa menyalakan empati yang mungkin sebelumnya tertidur.

Manusia, Empati, dan Transformasi Sosial

Safitri kini menjadi simbol dari dua hal sekaligus: korban dan kekuatan. Ia memang ditinggalkan, namun tidak dikalahkan. Dukungan masyarakat membuktikan bahwa di balik setiap penderitaan, selalu ada energi sosial yang siap menguatkan.

Kita hidup di masa di mana teknologi tak hanya menyebarkan informasi, tapi juga memperluas ruang hati nurani. Empati kini menular lebih cepat dari kebencian. Dunia yang dulu terasa individualistis kini justru menjadi wadah solidaritas baru — di mana penderitaan satu orang bisa menjadi panggilan nurani bagi jutaan orang lainnya.

Namun, kita juga harus berhati-hati. Keadilan sosial di dunia maya tidak boleh berhenti di level simpati. Ia harus berubah menjadi kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem yang lebih besar — sistem yang adil terhadap perempuan, terhadap keluarga, dan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebab tanpa itu, kisah seperti Safitri akan terus berulang, hanya dengan nama dan wajah yang berbeda.

Penutup: Luka yang Mengajarkan Cinta

Kisah Safitri bukan sekadar drama rumah tangga, tetapi pelajaran moral bagi bangsa. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan tanpa empati adalah kehampaan. Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan seorang perempuan sering kali lahir dari luka yang dalam, bukan dari kenyamanan.

Dan di atas segalanya, kisah ini memperlihatkan bahwa di tengah dunia yang semakin dingin oleh persaingan, masih ada kehangatan yang lahir dari solidaritas manusia.

Hari ini, keadilan mungkin belum sepenuhnya hadir dari ruang sidang atau putusan hukum. Namun ia hidup di hati jutaan orang yang menolak melihat ketidakadilan tanpa bereaksi.

Selama empati masih menyala di antara kita, selama manusia masih mampu menangis untuk penderitaan orang lain — maka sesungguhnya dunia ini belum kehilangan nuraninya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tragedi Sudan: Ketika Negara Diperjualbelikan oleh Kekuasaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00