• Latest

Sukses Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Mati Masuk Surga Dalam Perspektif Spiritual

November 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sukses Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Mati Masuk Surga Dalam Perspektif Spiritual

Redaksiby Redaksi
November 2, 2025
Reading Time: 4 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Jacob Ereste

Definisi sukses yang diyakini Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa adalah “Mati Masuk Surga”. Pernyataan ini menyiratkan kedalaman pemahaman filosofis dari kehidupan yang sesungguhnya.  Berbuat baik seperti yang dituntut dan diajarkan oleh agama, bahwa pertanda dari segala pembuatan baik itu akan menuntun manusia masuk surga. Hak ini seperti yang diyakini oleh seluruh manusia yang meyakini agama sebagai penuntun yang penuh etika, moral dan akhlak mulia sebagai makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan.

Karena itu, manusia pun berhak menyandang khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi. Beda dengan makhluk lain, termasuk dengan jin, setan dan malaikat sekalipun. Apalagi dengan binatang yang cuma bisa mengumbar birahi kebinatangannya, tamak, rakus bahkan jorok dan mau merangsang sejenis dengan dirinya sendir.

Sama zseperti manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, seperti yang telah dipatrikan oleh bangsa Indonesia dalam Pancasila — yang diyakini sebagai falsafah bangsa– diantaranya kemanusiaan yang adil dan Beradab.

Oleh karena itu, ketika seseorang berperilaku tidak manusiawi, maka dia pantas disebut tidak beradab seperti hewan. Termasuk koruptor yang terbilang sebagai pengkhianat bangsa dan negara — kantoran para pejabat negara itu telah melakukan sumpah atas kesaksiannya di hadapan  Tuhan. Karena itu pun, para pejabat yang melakukan penyelewengan dan menyalahgunakan wewenang atau jabatannya. Sungguh pantas untuk dikutuk oleh bumi dan langit, sehingga anak turunnya yang ikut menikmati hasil dari korupsi yang dilakukannya mendapat ganjaran yang setimpal, tidak lebih ringan dari dera san derita rakyat yang telah sengsara akibat dari perbuatannya itu. 

Oleh karena itu, wacana hukuman mati terhadap koruptor yang semakin merajalela di Indonesia perlu segera diberlakukan  bersamaan dengan perampasan kekayaan milik para pelaku kejahatan yang sangat biadab itu.  Dalam hal ini sehingga rakyat dijadikan sapi perahan melalui pajak, harga kebutuhan pokok yang mahal, subsidi dari pemerintah yang diselewengkan hingga bantuan sosial fiktif yang tidak pernah diterima oleh rakyat kecil.

Lantaran pendapat Purbaya Yudhi Sadewa yang tengah menjadi perhatian banyak orang di Indonesia, karena cukup fenomenal dan kontroversial, sehingga mengundang banyak komentar yang pro maupun yang kontra. Hal ini menjadi semakin menarik dan meyakinkan bahwa kehadirannya di panggung politik Indonesia — sebagai Menteri Keuangan — seperti sedang membuka sejumlah arsip yang telah dianggap usang untuk tidak lagi dipersoalkan. Padahal semua rekam jejak yang tidak mungkin terhapus itu bisa menjadi penuntun untuk mengurai berbagai masalah krusial yang merundung warga bangsa Indonesia. Bangsa menjadi manusia yang miskin dan bodoh akibat dari perilaku culas para pengelola negara sebelumnya yang meninggalkan berbagai beban. Mulai dari utang negara hingga proyek infrastruktur yang kurang bermutu atau bahkan sama sekali tidak memberi manfaat yang maksimal bagi rakyat.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sukses menurut Purbaya Yudhi Sadewa adakah “Mati Masuk Surga” tak hanya mengisyaratkan keyakinannya terhadap Tuhan, tetapi ingin melandasi segenap perilaku, kebijakan serta apa yang hendak dia  lakukan diawali oleh niat baik. Niat yang diperkenankan dalam tatanan adat dan budaya hingga hukum yang memiliki nilai moralitas yang tinggi, sehingga hasilnya mencerminkan akhlak mulia. Akhlak dari perbuatan manusia yang pantas dan patut untuk masuk surga seperti yang diyakini oleh seluruh agama yang berasal dari langit. 

Sebab untuk mereka yang melakukan penyelewengan, penipuan, pemalsuan,  hingga janji-janji yang diingkari — apalagi kemungkinan — jelas tidak akan mengendus surga, lantaran dosa seabrek yang telah dia lakukan. Setidaknya, keyakinan terhadap manusia yang paling disukai Tuhan adalah manusia yang selalu berbuat baik dan memberi manfaat bagi orang lain. Relevan dengan rumusan definisi sukses versi Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan bila manusia itu kalak mati adalah mereka yang diterima oleh Tuhan di surga.

Jadi definisi sukses itu tidak hanya diukur oleh kemampuan menaikkan kurva kekayaan pribadi yang bisa diperoleh. Tapi karena cupak penakarnya adalah totalitas kekayaan yang bisa ditumpuk setinggi gunung, maka itu wajar banyak manusia Indonesia kini yang tergelincir keyakinan kapitalisme dan materialisme dan agama baru yang acap disebut neo-lib. 

Lantas muncul kegandrungan baru sebagai hasrat untuk memenuhi superioritas dengan ijazah palsu, gelar palsu yang tidak mampu diperoleh melalui suatu proses yang lebih utama dari bentuk capaian yang semu sekalipun. Pembelian gelar– entah dari kalangan akademis maupun dari lingkungan masyarakat adat mau dibayar dengan berapa pun harganya.

Paradigma sukses “Mati Masuk Surga” ini memang hanya dapat dipahami dari kecerdasan serta dimensi spiritual. Karena sangat mungkin   bisa mengalami kesulitan bila hanya dipahami dari perspektif kepongahan intelektual yang kini dominan keblinger. Seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah guru besar yang justru tidak berpihak pada kebenaran, tetapi lebih berpihak kepada kekuasaan atau penguasa. Sebab definisi sukses ditandai dengan kematan yang masuk surga, hanya mampu dipahami dari perspektif spiritual, bukan intelektual. 

ADVERTISEMENT

Dalam terminologi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), definisi sukses itu jika mati masuk surga, jelas  menandai apa yang sudah diperjuangkan sejak beberapa dekade lalu tentang gerakan kebangkitan kesadaran. Pemahaman spiritual yang sangat mendesak diperlukan oleh bangsa dan negara Indonesia untuk bangkit dengan pondasi etika, moral dan akhlak mulia guna membenahi kebobrokan di negeri ini telah memasuki wilayah yang terang. Spiritualitas itu  sesungguhnya harus dan mutlak, dijadikan  pilar utama untuk  menyangga watak dan kepribadian bangsa yang memiliki  berkarakter serta mempunyai khas  kepribadian yang unggul.

Banten, 24 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Menumbuhkan Kecintaan Sastra di Kalangan Generasi Muda Lewat Puisi Esai

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com