POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sukses Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Mati Masuk Surga Dalam Perspektif Spiritual

RedaksiOleh Redaksi
November 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste

Definisi sukses yang diyakini Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa adalah “Mati Masuk Surga”. Pernyataan ini menyiratkan kedalaman pemahaman filosofis dari kehidupan yang sesungguhnya.  Berbuat baik seperti yang dituntut dan diajarkan oleh agama, bahwa pertanda dari segala pembuatan baik itu akan menuntun manusia masuk surga. Hak ini seperti yang diyakini oleh seluruh manusia yang meyakini agama sebagai penuntun yang penuh etika, moral dan akhlak mulia sebagai makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan.

Karena itu, manusia pun berhak menyandang khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi. Beda dengan makhluk lain, termasuk dengan jin, setan dan malaikat sekalipun. Apalagi dengan binatang yang cuma bisa mengumbar birahi kebinatangannya, tamak, rakus bahkan jorok dan mau merangsang sejenis dengan dirinya sendir.

Sama zseperti manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, seperti yang telah dipatrikan oleh bangsa Indonesia dalam Pancasila — yang diyakini sebagai falsafah bangsa– diantaranya kemanusiaan yang adil dan Beradab.

Oleh karena itu, ketika seseorang berperilaku tidak manusiawi, maka dia pantas disebut tidak beradab seperti hewan. Termasuk koruptor yang terbilang sebagai pengkhianat bangsa dan negara — kantoran para pejabat negara itu telah melakukan sumpah atas kesaksiannya di hadapan  Tuhan. Karena itu pun, para pejabat yang melakukan penyelewengan dan menyalahgunakan wewenang atau jabatannya. Sungguh pantas untuk dikutuk oleh bumi dan langit, sehingga anak turunnya yang ikut menikmati hasil dari korupsi yang dilakukannya mendapat ganjaran yang setimpal, tidak lebih ringan dari dera san derita rakyat yang telah sengsara akibat dari perbuatannya itu. 

Oleh karena itu, wacana hukuman mati terhadap koruptor yang semakin merajalela di Indonesia perlu segera diberlakukan  bersamaan dengan perampasan kekayaan milik para pelaku kejahatan yang sangat biadab itu.  Dalam hal ini sehingga rakyat dijadikan sapi perahan melalui pajak, harga kebutuhan pokok yang mahal, subsidi dari pemerintah yang diselewengkan hingga bantuan sosial fiktif yang tidak pernah diterima oleh rakyat kecil.

Lantaran pendapat Purbaya Yudhi Sadewa yang tengah menjadi perhatian banyak orang di Indonesia, karena cukup fenomenal dan kontroversial, sehingga mengundang banyak komentar yang pro maupun yang kontra. Hal ini menjadi semakin menarik dan meyakinkan bahwa kehadirannya di panggung politik Indonesia — sebagai Menteri Keuangan — seperti sedang membuka sejumlah arsip yang telah dianggap usang untuk tidak lagi dipersoalkan. Padahal semua rekam jejak yang tidak mungkin terhapus itu bisa menjadi penuntun untuk mengurai berbagai masalah krusial yang merundung warga bangsa Indonesia. Bangsa menjadi manusia yang miskin dan bodoh akibat dari perilaku culas para pengelola negara sebelumnya yang meninggalkan berbagai beban. Mulai dari utang negara hingga proyek infrastruktur yang kurang bermutu atau bahkan sama sekali tidak memberi manfaat yang maksimal bagi rakyat.

📚 Artikel Terkait

Psikologi Perempuan Dari Kehidupan Nyata

WAKTU TAK KEMBALI

Kabut Alaska

Ada KKN Kolaborasi 2025 di sanggar Wahana Puspa Budaya, Hosnatun: “Ilmu Akan Saya Berikan Sebelum Saya Mati”‎

Sukses menurut Purbaya Yudhi Sadewa adakah “Mati Masuk Surga” tak hanya mengisyaratkan keyakinannya terhadap Tuhan, tetapi ingin melandasi segenap perilaku, kebijakan serta apa yang hendak dia  lakukan diawali oleh niat baik. Niat yang diperkenankan dalam tatanan adat dan budaya hingga hukum yang memiliki nilai moralitas yang tinggi, sehingga hasilnya mencerminkan akhlak mulia. Akhlak dari perbuatan manusia yang pantas dan patut untuk masuk surga seperti yang diyakini oleh seluruh agama yang berasal dari langit. 

Sebab untuk mereka yang melakukan penyelewengan, penipuan, pemalsuan,  hingga janji-janji yang diingkari — apalagi kemungkinan — jelas tidak akan mengendus surga, lantaran dosa seabrek yang telah dia lakukan. Setidaknya, keyakinan terhadap manusia yang paling disukai Tuhan adalah manusia yang selalu berbuat baik dan memberi manfaat bagi orang lain. Relevan dengan rumusan definisi sukses versi Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan bila manusia itu kalak mati adalah mereka yang diterima oleh Tuhan di surga.

Jadi definisi sukses itu tidak hanya diukur oleh kemampuan menaikkan kurva kekayaan pribadi yang bisa diperoleh. Tapi karena cupak penakarnya adalah totalitas kekayaan yang bisa ditumpuk setinggi gunung, maka itu wajar banyak manusia Indonesia kini yang tergelincir keyakinan kapitalisme dan materialisme dan agama baru yang acap disebut neo-lib. 

Lantas muncul kegandrungan baru sebagai hasrat untuk memenuhi superioritas dengan ijazah palsu, gelar palsu yang tidak mampu diperoleh melalui suatu proses yang lebih utama dari bentuk capaian yang semu sekalipun. Pembelian gelar– entah dari kalangan akademis maupun dari lingkungan masyarakat adat mau dibayar dengan berapa pun harganya.

Paradigma sukses “Mati Masuk Surga” ini memang hanya dapat dipahami dari kecerdasan serta dimensi spiritual. Karena sangat mungkin   bisa mengalami kesulitan bila hanya dipahami dari perspektif kepongahan intelektual yang kini dominan keblinger. Seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah guru besar yang justru tidak berpihak pada kebenaran, tetapi lebih berpihak kepada kekuasaan atau penguasa. Sebab definisi sukses ditandai dengan kematan yang masuk surga, hanya mampu dipahami dari perspektif spiritual, bukan intelektual. 

Dalam terminologi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), definisi sukses itu jika mati masuk surga, jelas  menandai apa yang sudah diperjuangkan sejak beberapa dekade lalu tentang gerakan kebangkitan kesadaran. Pemahaman spiritual yang sangat mendesak diperlukan oleh bangsa dan negara Indonesia untuk bangkit dengan pondasi etika, moral dan akhlak mulia guna membenahi kebobrokan di negeri ini telah memasuki wilayah yang terang. Spiritualitas itu  sesungguhnya harus dan mutlak, dijadikan  pilar utama untuk  menyangga watak dan kepribadian bangsa yang memiliki  berkarakter serta mempunyai khas  kepribadian yang unggul.

Banten, 24 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Menumbuhkan Kecintaan Sastra di Kalangan Generasi Muda Lewat Puisi Esai

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00