POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengelola Perbedaan, Menjaga Demokrasi: Refleksi Pilkades di Tingkat Desa

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
October 23, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pilkades (Pemilihan Kepala Desa), bukan sekadar pesta demokrasi di tingkat akar rumput, melainkan ujian paling nyata dari kedewasaan politik bangsa. Di sinilah nilai partisipasi, keadilan sosial, dan kesadaran hukum diuji secara langsung. 

Namun di lapangan, Pilkades sering kali justru menjadi sumber ketegangan dan perpecahan sosial. Perselisihan terjadi bukan karena aturan yang berbeda, tetapi karena perbedaan cara memahami aturan yang sama.

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam kajian politik lokal, para ahli seperti Robert Putnam (1993) menekankan pentingnya social capital — kepercayaan dan jejaring sosial — sebagai fondasi utama keberhasilan demokrasi di tingkat lokal. Ketika modal sosial ini melemah, demokrasi berubah menjadi sekadar kompetisi kekuasaan yang kering makna.

Membaca Perbedaan dari Perspektif Hukum dan Literasi Warga

Dalam konteks hukum, Pilkades diatur jelas melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, serta peraturan turunannya seperti Permendagri Nomor 112 Tahun 2014. Semua calon, panitia, dan pemilih sejatinya berpegang pada sumber hukum yang sama. Namun di lapangan, pelaksanaan sering diwarnai tafsir yang berbeda-beda.

Hal ini disebabkan oleh literasi hukum warga yang belum merata. Berdasarkan data BPS 2023, tingkat literasi hukum masyarakat pedesaan di Indonesia masih di bawah 40%. Akibatnya, aturan Pilkades sering dipahami sebatas formalitas administratif, bukan sebagai pedoman etika dan keadilan politik.

Dalam situasi ini, pendidikan politik dan hukum di tingkat desa menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah dan panitia Pilkades harus berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan sekadar pelaksana teknis. Di banyak negara demokratis, seperti India dan Filipina, voter education program telah menjadi bagian tetap dari setiap kontestasi lokal. Ini bisa menjadi model baik bagi Aceh.

Perspektif Sosial dan Kultural: Demokrasi Bukan Hanya Kotak Suara

Demokrasi di desa tidak bisa hanya dipahami secara prosedural. Aceh memiliki akar budaya yang sangat kuat dalam nilai musyawarah dan gotong royong. Tradisi meusyawarah gampong sejatinya adalah bentuk demokrasi deliberatif — di mana keputusan diambil melalui dialog dan mufakat, bukan dominasi suara mayoritas semata.

Namun kini, pengaruh politik uang, persaingan keluarga, dan ego kelompok sering merusak nilai-nilai luhur tersebut. Padahal, Alexis de Tocqueville (1835) sudah menegaskan bahwa kekuatan demokrasi bukan pada pemilihan umum, melainkan pada kemampuan warga untuk memecahkan persoalan bersama dengan cara beradab.

Masyarakat Aceh perlu kembali meneguhkan nilai lokal dalam berdemokrasi. Demokrasi yang berakar pada budaya akan lebih tahan terhadap provokasi dan politik identitas.

Perspektif Ekonomi: Ketimpangan dan Konflik Kepentingan

Tidak bisa dipungkiri, Pilkades juga kerap dibayangi faktor ekonomi. Calon kepala desa dengan sumber daya besar sering lebih unggul, bukan karena visi pembangunan yang jelas, tetapi karena kemampuan finansial dalam menggerakkan dukungan. Ketimpangan ekonomi ini berpotensi melahirkan politik balas budi dan korupsi di tingkat desa.

Kajian LIPI (2021) menunjukkan bahwa 67% kasus konflik pasca-Pilkades di Indonesia berkaitan dengan aliran dana desa dan distribusi proyek pembangunan. Ketika jabatan kepala desa dianggap sebagai akses ekonomi, bukan amanah pelayanan publik, maka demokrasi berubah menjadi kompetisi transaksional.

Solusinya bukan sekadar penegakan hukum, tetapi pembangunan ekonomi yang merata dan partisipatif. Jika masyarakat desa merasa sejahtera secara kolektif, maka kepemimpinan siapa pun tidak akan menjadi sumber kecemburuan sosial.

Perspektif Agama dan Moral: Merawat Akhlak Demokrasi

📚 Artikel Terkait

Pesan Kak Cut

Di Depan Pintu yang Tak Pernah Terbuka

Menyelamatkan Empat Pulau Sengketa di Aceh: Antara Kedaulatan, Keadilan, dan Kelestarian

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Dalam Islam, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Maka, dalam Pilkades, setiap calon seharusnya berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), bukan saling menjatuhkan.

Ketika perbedaan pendapat muncul, Islam mengajarkan prinsip ukhuwwah (persaudaraan) dan tasamuh (toleransi). Ulama dan tokoh agama di desa memiliki peran vital sebagai penyejuk sosial, bukan pendukung politik. Ketika mereka bersikap netral dan mendidik umat dengan hikmah, tensi politik desa akan menurun secara alami.

Perspektif Sejarah dan Politik Aceh: Belajar dari Masa Kolonial

Sejarah Aceh mencatat bahwa kekuatan utama rakyat terletak pada persatuan sosial berbasis keadilan dan ilmu. Pada masa kolonial, Belanda berhasil memperlemah Aceh dengan memecah hubungan antara uleebalang dan teungku. Politik adu domba inilah yang membuat perlawanan melemah.

Kondisi itu menjadi cermin bagi situasi demokrasi modern: setiap kali kita gagal mengelola perbedaan, yang diuntungkan justru pihak yang ingin menguasai. Maka, menjaga persatuan sosial di tingkat desa adalah bentuk nyata dari melanjutkan perjuangan sejarah rakyat Aceh — dari perlawanan fisik menuju perlawanan intelektual dan moral.

Perspektif Akademisi dan Praktik Global: Belajar dari Negara Lain

Dalam konteks global, praktik demokrasi desa telah berkembang pesat. Di India, sistem Gram Panchayat memberi ruang bagi warga untuk berdialog langsung dengan kepala desa setiap bulan. Di Korea Selatan, pemerintah desa diwajibkan membuat community report yang bisa diakses publik secara digital. Sementara di Finlandia, keputusan lokal tidak bisa diambil tanpa public hearing terbuka.

Model-model tersebut menunjukkan bahwa transparansi dan partisipasi publik adalah pilar utama menjaga kepercayaan warga. Aceh dapat meniru praktik ini dengan memperkuat lembaga BUMG (Badan Usaha Milik Gampong) dan forum musyawarah desa sebagai pusat dialog kebijakan, bukan sekadar wadah administrasi.

Perspektif Keadilan Sosial: Demokrasi yang Inklusif

Keadilan sosial menuntut agar setiap warga kaya-miskin, tua-muda, laki-laki-perempuan — memiliki ruang yang sama dalam menentukan arah pembangunan desa. Demokrasi tidak boleh didominasi elite atau kelompok tertentu.

Menurut konsep inclusive democracy yang dikembangkan oleh Takis Fotopoulos, demokrasi sejati lahir ketika semua warga merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap keputusan bersama. Dalam konteks Pilkades, hal ini berarti membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat, baik dalam proses pemilihan, pengawasan, maupun perumusan kebijakan setelah pemilihan.

Rekomendasi: Dari Demokrasi Emosional ke Demokrasi Rasional

Mengelola perbedaan di tingkat desa membutuhkan kombinasi antara pendidikan politik, etika publik, dan transparansi pemerintahan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Pertama, meningkatkan pendidikan politik warga desa, melalui forum belajar dan musyawarah rutin.

Kedua, membangun sistem pengawasan independen yang melibatkan tokoh masyarakat, perempuan, dan pemuda. Ke tiga, mendorong debat publik calon kepala desa secara terbuka agar warga menilai visi, bukan uang atau kedekatan. Ke empathy,  memperkuat etika netralitas aparatur desa agar Pilkades tidak menjadi ajang tarik-menarik kepentingan birokrasi.

Ke lima, menumbuhkan budaya rekonsiliasi pasca-pemilihan, melalui kegiatan sosial bersama yang mengembalikan rasa persaudaraan.

Langkah-langkah ini bukan hanya teknis, tetapi juga filosofis — menuju demokrasi yang berbasis ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial.

Penutup: Desa Sebagai Sekolah Demokrasi

Desa adalah cermin wajah bangsa. Jika demokrasi di desa rusak oleh perpecahan, maka citra bangsa pun ikut ternoda. Karena itu, mengelola perbedaan dalam Pilkades bukan semata tanggung jawab panitia, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga.

Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13, perbedaan diciptakan untuk saling mengenal dan belajar, bukan untuk saling menjauh. Maka, mari jadikan setiap Pilkades sebagai laboratorium pencerahan, tempat kita belajar menghormati perbedaan, menegakkan keadilan, dan membangun masa depan desa dengan akal sehat serta hati yang bersih.

—

🕊️ Catatan Penulis:

Dayan Abdurrahman adalah warga Aceh Besar, pemerhati isu demokrasi desa dan pengembangan masyarakat lokal. Aktif menulis tentang hubungan antara agama, hukum, dan politik di tingkat akar rumput.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Kepemimpinan Visioner dalam Pembinaan Generasi Islami dan Modern di SMAN 5 Kota Langsa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00