POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kuliah di Taman Alun Kapuas, Kampus Tanpa Dinding, Dosen Bernama Kehidupan

RedaksiOleh Redaksi
October 7, 2025
Kuliah di Taman Alun Kapuas, Kampus Tanpa Dinding, Dosen Bernama Kehidupan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Pukul delapan pagi. Matahari baru naik setengah tiang, tapi semangat mahasiswa saya sudah penuh, menyalip sinar mentari. Hari ini bukan hari kuliah biasa. Tak ada whiteboard, tak ada infokus, tak ada sisa spidol kering yang harus dipukul-pukul. Kami kuliah di Taman Alun Kapuas, tempat di mana rumput jadi karpet, angin jadi pendingin alami, dan air mancur jadi dosen tamu.

Saya buka kuliah dengan kisah manusia langka dari Bangladesh, Muhammad Yunus. Lulusan Amerika, profesor ekonomi yang awalnya sangat taat pada kitab kapitalisme. Tapi setiap kali berangkat dari rumah menuju kampus, matanya disuguhi pemandangan kemiskinan yang menampar teori. Buku mengajarkan efisiensi, tapi kenyataan di jalan justru menjerit lapar. Akhirnya ia berhenti mengajar teori kosong, lalu mendirikan Grameen Bank, bank untuk orang miskin tanpa jaminan, tanpa dasi, tanpa janji palsu. Dunia bertepuk tangan, Nobel Ekonomi jatuh ke tangannya, dan ia menertawakan ironi pendidikan tinggi, sering tinggi gedungnya, tapi dangkal maknanya.

Mahasiswa saya mendengar serius. Saya tersenyum, “Itu pelajaran pertama, Nak. Jangan jadi sarjana yang hafal rumus tapi lupa manusia.” Mereka tertawa. Tapi saya tahu, tawa mereka sedang merenung.

Saya lalu menunjuk seorang petugas kebersihan yang tengah menyapu dedaunan. “Itu dosen sejati,” kata saya. “Ia mengajar konsistensi. Setiap pagi menyapu daun yang akan jatuh lagi sore nanti. Ia tahu pekerjaannya tak pernah selesai, tapi ia tetap melakukannya.”
Seorang mahasiswa berbisik, “Berarti kita juga harus sabar, Pak?”
Saya jawab, “Bukan sabar, tapi sadar. Hidup itu seperti taman ini, kalau berhenti dibersihkan, lama-lama penuh sampah.”

Di sebelah kanan, orang-orang berolahraga. Saya tanya, “Coba pikir, mereka itu ingin sehat atau ingin umur panjang?”
Beberapa langsung menjawab dengan teori biologi, lainnya dengan filsafat eksistensial. Seorang mahasiswa berceloteh, “Kalau umur panjang tapi banyak utang, buat apa, Pak?”
Saya tertawa. “Nah, itu sudah mirip ekonom sejati, menghitung hidup dengan variabel beban.”

Air mancur menari di tengah kolam, memercikkan cahaya. Saya tunjuk ke sana, “Lihat air itu. Ia bisa menjulang tinggi karena tekanan dari bawah. Seperti kalian, harus punya dorongan batin agar bisa naik. Kalau hanya ikut arus, ya berhenti di permukaan.”

📚 Artikel Terkait

Puisi Puisi Heri Isnaini

“Aceh dan Lompatan Peradaban: Merumuskan Ketahanan Bencana Berbasis Adat, Ekologi, dan Teknologi Abad 21”

Mengenal Muhammad Kerry Andrianto Riza, Pewaris Tahta Minyak

SMKN 1 Simpang Ulim, Aceh Timur, Rancang Penyelarasan Kurikulum Bersama PT Astra Daihatsu Motor

Lalu kami menatap jembatan penyeberangan. “Itu contoh ilmu teknik dan iman bekerja bersama,” kata saya. “Kalau salah hitung, roboh. Tapi kalau terlalu takut menyeberang, ilmu pun tak berguna.”
Mahasiswa tertawa lagi, tapi saya tahu dalam diam mereka mulai paham, bahwa keberanian adalah bagian dari logika.

Di ujung taman, anak-anak TK berlari-lari kecil. Dunia mereka sederhana, jatuh, bangun, tertawa lagi. Saya bilang ke mahasiswa, “Itu laboratorium psikologi paling jujur. Anak-anak belajar tanpa sadar mereka sedang belajar.”

Kuliah pun usai. Salah satu mahasiswa nyeletuk, “Pak, minggu depan kita kuliah outdoor lagi ya?”
Saya jawab, “Boleh. Tapi jangan di mall. Nanti yang kalian pelajari bukan teori hidup, tapi teori diskon.”

Saat mereka bubar, saya duduk menatap sungai. Angin membawa aroma kopi dan suara kapal lewat. Dalam hati saya tahu, taman ini lebih jujur dari banyak ruang kuliah. Di sini, daun gugur bisa bicara tentang ikhlas, air mancur mengajar tentang semangat, dan tukang sapu memberi kuliah tentang ketekunan.

Karena sejatinya, kampus bukan soal gedung dan absensi. Kampus adalah kehidupan itu sendiri, selama kita mau belajar dari segala yang bernapas.

Kampus sejati bukanlah gedung bertingkat dengan dosen berjas dan mahasiswa bersepatu formal, melainkan tempat di mana pikiran bisa tumbuh dan hati bisa tercerahkan. Ilmu tak hanya lahir dari buku, tapi juga dari daun yang gugur, air yang menari, dan manusia yang bekerja. Belajarlah bukan hanya untuk pintar, tapi untuk peka; bukan hanya untuk lulus, tapi untuk hidup. Sebab kehidupan adalah universitas paling luas, dan setiap hari adalah ujian kejujuran kita sebagai manusia pembelajar.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00