POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Yang Menyala dalam Senyap: Menyulam Sastra dan Musik di Tengah Riuhnya Zaman 

RedaksiOleh Redaksi
September 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Dalam sejarah peradaban, sastra dan musik kerap dipertemukan dalam ruang-ruang yang hening, seolah keduanya memiliki rahasia komunikasi yang melampaui bahasa sehari-hari. Di Indonesia, relasi itu kembali hadir dalam momen yang nyaris kebetulan: sebuah puisi saya yang berjudul Yang Menyala dalam Senyap bersua dengan jemari kreatif Ananda Sukarlan, seorang pianis dan komponis Indonesia yang namanya diabadikan oleh Sydney Morning Herald sebagai “One of the world’s leading pianists at the forefront of championing new piano music”. Dari situ, lahirlah sebuah komposisi tembang puitik yang menghidupkan sajak saya dalam dimensi bunyi.

Pertemuan ini sesungguhnya bukan sekadar perjumpaan teks dan nada. Ia adalah pertemuan dua tradisi: sastra yang lahir dari pengalaman reflektif dan musik yang menyalurkan getar perasaan ke dalam harmoni. Hubungan saya dengan Ananda Sukarlan memang bermula sederhana, sekadar saling menyapa di jejaring sosial sejak April 2024. Namun percakapan-percakapan ringan itu, yang berkelindan dengan isu dunia sastra dan musik, justru membuka ruang kesalingpahaman: bahwa seni perlu hadir bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk menghidupkan kembali kesadaran akan kualitas, kebaruan, dan daya kritis.

Tadi malam, sebuah pesan WhatsApp tiba di gawai saya. Di sana tertera foto partitur dengan judul Yang Menyala dalam Senyap. Saya tertegun, karena itu adalah judul puisiku yang pernah saya bacakan di hadapan jemaat GKJW Madiun. Tak lama kemudian, Ananda menuliskan kabar: “Aku menemukan puisimu yang ini, aku bikin komposisi tembang puitik, semoga berkenan ya bro.” Ia bercerita panjang tentang proses kreatifnya, dari kamar hotel yang sepi hingga apartemen di Jakarta, dari rasa jenuh mendengar riuh politik sampai keinginan menghadirkan kesederhanaan dalam musik. Selain puisiku, Ananda juga sebelumnya menemukan puisi karya Nissa Rengganis berjudul Suara dari Pengungsian dan puisi Yon Bayu Wahyono berjudul Amnesia, yang keduanya pun digarapnya menjadi tembang puitik. 

Kisah itu mengingatkan saya pada kata-kata Friedrich Nietzsche: “Without music, life would be a mistake.” Musik, dalam pengertian Nietzsche, bukan sekadar hiburan, melainkan hakikat yang menyalakan kehidupan. Maka, ketika puisi saya dipilih untuk dijadikan musik, saya merasa puisi itu menemukan takdirnya: bertransformasi menjadi suara yang dapat bergaung lebih jauh, bukan hanya di lembaran kertas, melainkan di ruang-ruang akustik tempat manusia mendengarkan karya musikal.

Lebih jauh, pengalaman ini memantik renungan tentang posisi seni di tengah zaman. Kita hidup di era ketika kebudayaan sering direduksi menjadi sekadar tontonan, pasar yang sibuk menjual sensasi. Sastra dan musik, yang sejatinya merupakan ruang kontemplasi, kerap terdesak oleh narasi politik yang gaduh dan banalitas layar kaca. Dalam konteks itu, perjumpaan antara puisi dan musik justru menghadirkan alternatif: kesenyapan yang menyala, ruang jeda untuk merenung, bahkan keberanian untuk melawan arus kebisingan yang menumpulkan jiwa.

📚 Artikel Terkait

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

Mengoreksi Adab Kemanusiaan Kita ( Hari Pahlawan)

Filantropi Organisasi Nirlaba

Sabang International Freediving Competition (SIFC) 2018 Melibatkan 4 Juri Internasional

Adorno, seorang filsuf dan teoritikus musik dari Mazhab Frankfurt, pernah menulis bahwa seni sejati adalah “janji kebahagiaan” sekaligus bentuk resistensi terhadap industri budaya yang mendegradasi makna. Apa yang dilakukan Ananda Sukarlan dengan tembang puitiknya—memilih puisi, lalu melarikannya ke dalam komposisi musik—sesungguhnya adalah tindakan resistensi halus. Ia bukan hanya menyusun notasi, melainkan menghadirkan suara tandingan terhadap dunia yang terlalu riuh oleh slogan-slogan kosong.

Dari percakapan kami, saya melihat bahwa kerja seni bukan sekadar produktivitas teknis, melainkan sebuah sikap hidup. Ananda sendiri mengaku lelah dengan politik dan segala retorika usang tentang “cinta Indonesia” yang kerap hampa. Ia lebih memilih menyatakan cintanya lewat kerja-kerja nyata: mencipta musik, membina generasi baru lewat Kompetisi Piano Nusantara Plus, dan mengangkat puisi-puisi Indonesia dalam repertoar musiknya. Dari sinilah kita belajar, bahwa cinta sejati pada tanah air tidak selalu diumbar dengan teriakan, melainkan dibuktikan lewat karya yang meninggalkan jejak.

Saya sendiri merasa terhormat sekaligus bersyukur. Bahwa puisi saya yang lahir dari permenungan spiritual—dari suasana Bulan Kitab Suci, dari panggung sederhana di kota kecil—ternyata bisa menjelma karya musik dan menjangkau audiens yang berbeda di tangan Ananda Sukarlan. Ada semacam kesinambungan sejarah kecil: teks puisi yang semula hanya kubaca, kini memperoleh tubuh baru dalam irama dan melodi. Sebagai penyair, saya percaya setiap puisi punya takdir, dan mungkin inilah salah satu jalan takdir itu.

Dari pengalaman personal ini, kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih besar: apakah seni di Indonesia akan terus terjebak dalam ruang-ruang eksklusif, atau justru menemukan jalan baru untuk mempertemukan lintas disiplin, lintas komunitas, dan lintas generasi? Saya berpendapat, seni harus terus mencari cara agar tidak tercerabut dari akar kontemplasi, sekaligus tidak kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Menghubungkan puisi dengan musik, misalnya, adalah salah satu upaya menjembatani jurang itu.

Saya merasa bangga dan haru atas apa yang dilakukan Ananda Sukarlan. Ia telah memberikan nyawa baru pada puisi saya, menjadikannya tembang puitik yang bisa dinikmati dalam bentuk berbeda. Ini bukan sekadar kolaborasi semata, melainkan juga bukti bahwa sastra dan musik dapat saling memperkaya, saling menyalakan, bahkan di tengah senyap sekalipun.

Namun, pertanyaan reflektif tetap mengemuka: apakah kita, para penyair, musisi, dan pelaku seni, sudah cukup berani untuk menghadirkan karya yang sederhana namun menyala, di tengah dunia yang gemar dengan kebisingan dan retorika kosong? Dan lebih jauh lagi, apakah kita masih sanggup mendengar suara-suara yang lahir dari senyap, yang barangkali justru menyimpan kebenaran paling jernih tentang kehidupan. (*) 

Fileski Walidha Tanjung adalah penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi dan prosa di berbagai media nasional. Beberapa bukunya yang terbaru berjudul “Melukis Peristiwa”, “Cara Penghilang Duka”, “Gubuk Kecil dan Rintik Hujan”. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Mengenang Peristiwa G30S/ PKI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00