POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ada Yang Senyap Dan Tidak Menyala Di Dunia Tembang Puitik Indonesia

RedaksiOleh Redaksi
September 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

oleh Ananda Sukarlan

Ketika saya menerima pesan WhatsApp dari Fileski yang mengulas niat saya untuk menulis tembang puitik dari puisinya “Yang Menyala dalam Senyap,” saya sempat terkejut, karena betapa cepat ia memberikan tanggapan. Ia bahkan menuliskan sebuah esai tentang itu. 

Respon publik pun beragam setelah membaca (atau sekedar melihat foto dan judul) artikel Fileski itu —ada yang heran mengapa karya musik bisa tercipta hanya dari goresan di atas kertas, di meja kerja, atau bahkan di kebun tanpa piano. Namun justru di situlah letak esensi tembang puitik: musik yang lahir dari apa yang ingin dideskripsikan dan dilukis menggunakan kata-kata sang penyair, bukan sekadar dari instrumen.

Perdebatan tentang perbedaan tembang puitik dan musikalisasi puisi kembali mencuat sejak Pertemuan Penyair Nusantara XIII. Fungsi piano di tembang puitik bukanlah iringan, melainkan terjemahan musikal dari jiwa puisi itu sendiri. Dalam musikalisasi puisi, “iringan” sering datang belakangan dan berfungsi sebagai pendamping teks.  Bahkan jika puisinya menggambarkan sesuatu yang “tidak enak”, maka musik pun berani mengekspresikan ketidaknyamanan itu. Di sinilah letak keberanian seni: menghadirkan realitas batin tanpa topeng estetika yang memoles segalanya menjadi enak didengar.

Tradisi tembang puitik (art song, dalam bahasa Inggris) di Indonesia, sayangnya, sempat terputus sejak wafatnya komponis seperti Mochtar Embut dan Trisutji Kamal, yang dahulu kerap memadukan puisi Chairil Anwar atau Rendra ke dalam komposisi musik. Di Eropa, tradisi itu berlanjut secara organik, sehingga saya secara alamiah terus melahirkan karya-karya dari puisi Federico Garcia Lorca hingga Emily Dickinson atau sonet dari William Shakespeare, kemudian juga secara alamiah menyambung ke para penyair Indonesia. 

Di situlah saya menemukan sebuah jurang: kita sangat kekurangan vokalis klasik yang mumpuni, padahal mereka adalah jembatan utama agar tembang puitik bisa hidup. Dari lebih dari 600 tembang puitik yang saya sudah tulis, separuh adalah dari penyair Indonesia. Yang di Eropa, semua sudah dipentaskan, tapi yang dari penyair Indonesia, mungkin baru separuh yang telah dinyanyikan.

📚 Artikel Terkait

Manisnya Cerita Desa Keutapang Mameh

Iftar di Kastil Windsor,Mungkinkah Raja Charles III Keturunan Nabi Muhammad

Puisi-Puisi Abdul Aziz Ali

Kumpulan Sajak Alkhair Aljohore@

Di Indonesia, istilah “penyanyi” kerap dipakai serampangan. Dari karaokean hingga pejabat yang berlagak diplomat budaya, semua merasa sah menyandang sebutan itu. Tetapi vokalis klasik—(mezzo- )soprano, tenor, bariton—nyaris tak terdengar. Padahal seorang vokalis klasik tidak sekadar menyanyi, tetapi menafsir, memahami bahasa puitis, dan menghidupkan makna lewat teknik vokal yang cermat melalui teknik yang mumpuni. Nama-nama seperti Pepita Salim, Mariska Setiawan atau Isyana Sarasvati hanyalah segelintir pengecualian. Inilah titik kritis: tanpa regenerasi vokalis klasik yang berwawasan, dunia tembang puitik Indonesia akan senyap.

Saya mendirikan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) untuk menjawab kebutuhan itu. Kata “Plus” menandai keterbukaan: bukan hanya piano, tetapi juga instrumen lain termasuk vokal klasik. Kompetisi ini bukan sekadar lomba, melainkan ruang kaderisasi. Sebab seni tidak akan hidup hanya dari individu-individu berbakat yang kebetulan lahir; seni butuh ekosistem yang melatih, mendidik, dan menumbuhkan generasi baru. Masalah kita bukan sekadar kurangnya talenta, melainkan kurangnya sistem yang menghargai proses. Tahun lalu KPN+ melahirkan dua pemenang vokal yang sangat mumpuni: Ratnaganadi Paramita (soprano) dan Wirawan Cuanda (bariton), saya sangat antusias mengikuti karir mereka ke depannya.

Pengalaman saya dalam perjalanan ke berbagai kota untuk kompetisi ini memperlihatkan betapa banyak potensi yang tersia-siakan. Bulan September lalu saya menemukan puisi yang luar biasa, seperti “Suara dari Pengungsian” karya Nissa Rengganis atau “Amnesia” karya Yon Bayu Wahyono yang kemudian langsung saya bikin musik, sekarang kita menunggu vokalis yang menjembatani mereka ke ranah musik. Puisi-puisi itu seakan menunggu disentuh agar dapat bersuara di ruang yang lebih luas. Ketika saya menemukan puisi Fileski di kamar hotel saya, di tengah malam yang hening setelah riuh kompetisi, saya merasakan klik yang sama. Musik itu lahir bukan dari ambisi panggung, melainkan dari keheningan yang jujur.

Namun, di balik proses kreatif ini, ada kritik yang tidak bisa diabaikan. Dunia seni kita sering terjebak dalam formalitas acara, festival seremonial, dan kompetisi instan yang hanya mencari pemenang, bukan proses. Kita seolah lebih sibuk merayakan hasil ketimbang merawat perjalanan. Pemerintah kerap menggunakan “seni” sebagai alat pencitraan, mengirim pejabat menyanyi atau menari di luar negeri dengan dalih diplomasi budaya. Tetapi apakah diplomasi semu itu betul-betul mewakili kekayaan seni kita? Apakah dunia luar akan mengenal Indonesia dari nyanyian dan tarian para pejabat, bukan dari kedalaman tembang puitik atau keunikan teater tradisional kita?

Kita perlu berani menawarkan perspektif baru: seni bukan sekadar hiburan atau diplomasi, melainkan ruang kritik dan permenungan. Tembang puitik, justru karena kesenyapannya, menawarkan alternatif di tengah hiruk pikuk budaya populer yang serba instan. Ia mengingatkan bahwa tidak semua harus meriah untuk bermakna; kadang justru dalam diam, sebuah bangsa bisa menemukan kembali suaranya.

Jika kita ingin dunia mengenal Indonesia bukan hanya dari Bali atau batik, melainkan juga dari suara puitik yang otentik, maka ekosistem seni kita harus dibangun dengan keseriusan yang sama seperti kita membangun infrastruktur fisik. 

 Kalau anda (kenal dengan) vokalis klasik, mengapa tidak bergabung untuk menjadi peserta KPN+  ? Yang menang di Surabaya dan Jogja, akan terus konser didampingi saya di Yogya tanggal 30 November, juga dengan pianis Ukraine Dr. Taras Filenko. Syaratnya hanya menyanyikan tembang puitik Indonesia dan satu pilihan, bisa saja Indonesia juga atau yang sudah klasik seperti Franz Schubert, Robert Schumann dll. 

Banyak fasilitas yang kami berikan untuk mendukung karir kalian, yang diharapkan juga berkontribusi banyak untuk dunia musik dan sastra Indonesia. Bisa cek Instagram @pianonusantaraplus . Masih terbuka pendaftaran untuk Sumatra Selatan, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jawa Timur dan terakhir Jakarta. 

Ada sesuatu yang senyap di dunia tembang puitik Indonesia. Sesuatu yang tidak menyala karena kita terlalu sibuk dengan panggung semu. Tetapi kesenyapan itu juga menyimpan potensi besar: ruang untuk refleksi, kritik, dan penciptaan yang lebih jujur. Tugas kita bukan hanya membuat musik, tetapi menghidupkan kembali tradisi yang memberi makna. Dan itu hanya mungkin jika kita berani melawan arus, memilih yang hening, dan menyalakan api kecil di tengah kegelapan yang gaduh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Aliansi Masyarakat Menggugat Keadilan Desak Pemerintah Tuntaskan Konflik Lahan di Aceh Timur

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00