POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Literasi sebagai Jalan Menafsir Kehidupan

RedaksiOleh Redaksi
September 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Kehadiran saya di Camp Literasi Magetan baru-baru ini menyisakan sebuah refleksi panjang tentang hakikat literasi. Di sana, saya menyaksikan betapa gairah pelajar terhadap membaca, menulis, dan berdiskusi masih menyala, meski dunia digital sering kali menenggelamkan mereka dalam arus instan yang serba cepat. Literasi, sebagaimana saya pahami, bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan suatu cara hadir di dunia: mengolah pikiran, merawat ingatan, serta menafsir kehidupan.

Namun, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: apakah gerakan literasi kita selama ini benar-benar mendorong generasi muda untuk berpikir kritis, atau justru menjerat mereka dalam formalitas belaka? Di banyak ruang, literasi direduksi menjadi angka statistik—berapa banyak buku yang dibaca, berapa banyak perpustakaan yang dibangun—tanpa mengulik substansi terpentingnya, yaitu membebaskan pikiran manusia.

Michel Foucault pernah menulis, “Pengetahuan itu bukan untuk mengetahui, melainkan untuk memotong.”¹ Kalimat ini menggugah kita untuk melihat literasi bukan hanya sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai pisau analisis yang dapat mengiris struktur kuasa dan ketidakadilan. Jika membaca hanya dimaknai sebagai menambah wawasan, maka literasi kehilangan tajinya. Tetapi jika membaca diposisikan sebagai upaya menguak kebenaran, mempertanyakan narasi dominan, bahkan membongkar mitos yang mengekang, maka literasi akan menjadi praksis pembebasan.

Sayangnya, praktik literasi kita sering berhenti di permukaan. Buku-buku hanya dibaca untuk sekadar diselesaikan, bukan untuk diperdebatkan. Menulis dilakukan demi lomba atau sekadar memenuhi tugas, bukan sebagai ruang perlawanan intelektual. Saya teringat pada pandangan Paulo Freire, seorang pedagog revolusioner dari Brasil, yang mengatakan, “Membaca bukan sekadar mengenali kata, tetapi juga membaca dunia.”² Inilah yang seharusnya menjadi arah literasi: kemampuan melihat hubungan antara teks dengan realitas sosial, politik, dan kultural yang melingkupi kita.

Dalam konteks ini, Camp Literasi di Magetan memberi secercah harapan. Para pelajar tidak hanya duduk sebagai pendengar, tetapi juga berdiskusi, menulis, bahkan mengekspresikan gagasan melalui seni. Dari obor api unggun hingga bunyi biola yang menyuarakan puisi, literasi hadir dalam wujud yang lebih cair, melintasi batas-batas disiplin. Seni dan sastra menjadi medium yang memperkaya pengalaman literer, menghidupkan kata, dan menjadikannya bagian dari denyut kehidupan.

Meski demikian, saya berani mengatakan bahwa gerakan literasi di Indonesia masih perlu keberanian untuk lebih radikal. Kita harus keluar dari paradigma konsumtif—sekadar membaca buku impor terbaru atau menyalin gaya menulis populer—dan mulai membangun tradisi literasi yang menggali realitas lokal. Dari kisah petani, pekerja, nelayan, hingga tradisi lisan yang nyaris punah, di situlah terdapat teks kehidupan yang menunggu ditulis. Jika literasi hanya mengulang wacana global tanpa tafsir kritis atas konteks kita sendiri, maka literasi hanyalah cermin kusam yang memantulkan wajah orang lain, bukan wajah kita.

📚 Artikel Terkait

Pembangunan Rumah Wakaf dari Masyarakat Aceh Utara untuk Palestina Hampir Selesai

Potret Ketangguhan Kaum Perempuan

Arsip, Memori Bangsa yang Terancam Bara

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Terhadap Prodi Bimbingan dan Konseling

Saya percaya, literasi harus menjadi gerakan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Dari Chairil Anwar kita belajar bagaimana kata bisa menjadi peluru; dari Pramoedya Ananta Toer kita mengerti bagaimana novel bisa lebih berbahaya daripada senjata; dan dari generasi muda hari ini kita berharap munculnya cara pandang baru yang mampu melampaui batas-batas lama. Dengan demikian, literasi bukan hanya kegiatan akademis, melainkan sebuah praksis kultural yang menggerakkan transformasi sosial.

Pertanyaannya kemudian: apakah kita siap menempatkan literasi sebagai arena kritik, sebagai ruang untuk mempertanyakan otoritas, dan bukan sekadar dekorasi intelektual? Apakah kita berani menjadikan literasi sebagai sarana melawan banalitas media sosial yang membanjiri kita dengan informasi tanpa makna?

Saya tidak ingin literasi berhenti pada jargon atau proyek seremonial. Saya ingin literasi tumbuh sebagai gerakan akar rumput yang mengubah cara kita memahami dunia. Literasi yang membuat seorang pelajar desa berani menuliskan realitasnya tanpa rasa inferior di hadapan narasi global. Literasi yang memerdekakan pikiran, bukan mengekang. Literasi yang menyalakan cahaya di tengah kabut ketidakpastian zaman.

Sebagaimana api unggun di Camp Literasi yang menyatukan suara dan nyala, saya membayangkan literasi sebagai obor yang terus diwariskan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Obor itu tidak boleh padam, sebab di dalam nyalanya ada ingatan, ada kritik, ada harapan.

Mungkin, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah: di dunia yang kian dikuasai oleh algoritma dan kecepatan informasi, apakah kita masih memiliki keberanian untuk membaca dengan perlahan, menulis dengan jujur, dan berpikir dengan radikal? Atau justru kita rela menjadi generasi yang pandai membaca layar, tetapi gagal membaca kehidupan?

¹ Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977 (New York: Pantheon Books, 1980).
 ² Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 1970).

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Republik Palato

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00