POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Gemar Berteriak (namun) Tak Berbuat

RedaksiOleh Redaksi
September 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya

Banjir 10 September telah usai. Air sudah surut, lumpur sudah mulai mengering, warga perlahan menata kembali hidup yang sempat terhempas arus.

Namun, satu banjir tak kunjung reda: banjir di media sosial. Banjir kata-kata, banjir tuduhan, banjir fitnah. Banjir yang tak membasahi tubuh, tetapi menyesakkan dada.

Di layar yang kita genggam, isu digoreng, diaduk, dipanaskan lagi, lalu dilempar ke meja publik. Isu digoreng tak kan menjadikannya susu (bermanfaat).

Seolah-olah tragedi adalah bumbu, dan penderitaan adalah lauk yang nikmat disantap.

Inilah dunia paradoks kita: ketika air sudah surut di jalan, justru makin meluap di linimasa.

Senior saya, guru kreatif saya, dr. Bagus Dharmayasa, melukiskan sindiran dengan tangan jeniusnya: dua telur mata sapi, bulat, menghadap ke langit.

Ia menuliskan narasi sederhana namun mengiris: “Taluh goreng ada hasil.” Telur yang digoreng—selalu ada hasilnya. Ungkapan sarkastis bagi mereka yang gemar berteriak, namun tak pernah berbuat.

Mengkritik tanpa solusi ibarat menggambar telur di atas kanvas: indah dipandang, tapi tak bisa dimakan.

Taluh gambar luwung tepuk—bagus di mata, tapi hampa di perut.

Begitulah banjir medsos bekerja: menyalahkan yang tak salah, mencari kambing hitam dari sekadar bayangan.

📚 Artikel Terkait

Indonesia Raya atau Indonesia Lelah?

BENGKEL OPINI RAKyat

Penyelamatan Makam Pangeran Kramojayo sebagai Cagar Budaya

Budaya Literasi Dalam Secangkir Kopi

Sekda Bali, Dewa Indra, misalnya, dibidik seolah-olah bersalah hanya karena gaya bicaranya keras, tegas, lugas. Padahal dia bicara sebagai bapak di rumahnya sendiri. Apa pasal yang ia langgar? UU mana yang ia tabrak?

Kita lupa, Ahok dengan gaya khasnya, atau Rocky Gerung dengan kata “dungu”-nya, enteng melontarkan kata “bangsat”—semua itu dianggap warna, bukan dosa.

Maka jika kata-kata keras tidak menabrak hukum, bukankah salah besar menjadikannya kambing hitam? Bukankah itu sekadar menggoreng telur, seperti sindiran Pak dokter Bagus?

Mengkritik tanpa memberi jalan keluar bukanlah pendidikan, tapi provokasi. Ia bisa menjelma fitnah, lalu berubah menjadi racun yang membusukkan karakter seseorang.

Dalam politik, itu sejatinya haram: politik semestinya menumbuhkan simpati, bukan antipati. Sebab ketika antipati yang tumbuh, maka karier politik hanyalah jalan singkat menuju kematian.

Kritik sejati adalah yang menyalakan obor solusi, bukan yang menggali lubang kubur bagi lawan.

Masyarakat Bali hari ini tidak butuh adu kata. Yang mereka butuhkan adalah uluran tangan. Mereka kehilangan mobil, motor, barang-barang rumah tangga; kasur mereka belum kering, tidurnya belum nyenyak, setiap rintik hujan menghadirkan trauma baru.

Kini penderitaan itu ditambah lagi dengan banjir medsos: fitnah, tuduhan, sindiran. Siapa yang tak muak?

Maka, apa yang diperlukan adalah tindakan konkret: mengolah sampah, bukan membuangnya sembarangan. Menahan alih fungsi lahan, bukan memperdagangkannya. Menormalisasi sungai agar air punya jalan pulang. Kita perlu gotong royong dalam segala bentuknya.

Dan yang terpenting, membangun manajemen air yang kokoh, agar banjir tak lagi menjadi rutinitas musiman. BWS dan PUPR tak boleh saling lempar tanggung jawab.

Rakyat sudah cukup letih berenang dalam genangan; jangan biarkan mereka juga tenggelam dalam arus kebijakan yang mandek.

Paradoks ini nyata: banjir bisa kita atasi dengan infrastruktur, tapi banjir kata-kata hanya bisa kita hentikan dengan kesadaran.

Maka, mari goreng telur saja jika ingin merasa berhasil—setidaknya ada hasil yang bisa dimakan, bukan sekadar luka yang diwariskan.

Denpasar, 22 September 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Menapaki Jejak Sang Pembelajar: Perjalanan Karir Imam Hidajat yang Menginspirasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00