POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari PRRI ke Kabinet Prabowo: Jejak Politik Urang Minang

RedaksiOleh Redaksi
September 20, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

Saya sering mendengar cerita ayah, dr. Enir Reni Sagaf Yahya, tentang masa-masa genting di Ranah Minang pada 1958. Sebagai tentara mahasiswa, sekaligus ajudan Syafruddin Prawiranegara, ia menjadi saksi hidup Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). 

Kisahnya bukan sekadar nostalgia, melainkan cerminan semangat politik urang Minang yang penuh idealisme, namun juga luka sejarah yang masih terasa. Hari ini, ketika putra-putra Minang kembali tampil di panggung nasional, termasuk di kabinet Prabowo-Gibran, cerita ini mengajak kita merenung: apa relevansi politik Minang bagi Indonesia kini?

PRRI: Antara Idealisme dan Luka

PRRI, yang dideklarasikan pada 15 Februari 1958, adalah puncak kekecewaan Sumatra Barat terhadap pemerintahan pusat. Seperti ditulis Taufik Abdullah dalam Sejarah dan Masyarakat (2009), ketimpangan pembangunan dan dominasi politik Jawa memicu gerakan ini. Ribuan pemuda Minang, termasuk ayah saya, pulang dari kota-kota besar untuk bergabung. 

Banyak yang gugur, termasuk di antara keluarga dan sahabat ayah. Syafruddin Prawiranegara, tokoh sentral PRRI, pernah berkata kepada ayah, “Kami memutuskan kembali ke Republik karena Bung Karno menawarkan amnesti.” 

Amnesti 1961 mengakhiri konflik bersenjata, tetapi tidak luka sosialnya. Mohammad Natsir, tokoh Minang lain, menyerah, sementara ayah saya ditahan beberapa bulan sebelum akhirnya dibebaskan. PRRI, bagi urang Minang, adalah kebanggaan sekaligus trauma—kebanggaan atas idealisme, trauma atas kekalahan dan stigma “pemberontak”.

Diaspora Minang: Dari Trauma ke Kebangkitan

Pasca-PRRI, Sumatra Barat dinyatakan sebagai daerah operasi militer. Banyak keluarga mengganti nama untuk menghindari cap “pemberontak”. Politik menjadi ranah yang riskan, sehingga merantau dan berdagang jadi pilihan. 

Menurut A.A. Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru (1984), dari sinilah diaspora Minang mengglobal, dengan rumah makan Padang sebagai ikon budaya di berbagai penjuru dunia. Namun, semangat politik urang Minang tidak padam. Dari lapau—kedai kopi tempat diskusi khas Minang—hingga grup WhatsApp modern, perdebatan politik tetap hidup. 

PRRI mengajarkan pelajaran pahit: semangat tanpa strategi berujung kekalahan. Meski begitu, diaspora Minang membuktikan ketangguhan mereka, tidak hanya di ranah ekonomi, tetapi juga dalam intelektualitas dan kontribusi nasional.

Kembali ke Panggung Nasional

Pasca-PRRI, peran urang Minang di politik nasional sempat meredup dibandingkan era awal Republik, ketika Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir menjadi pilar negara. Namun, perlahan, tokoh-tokoh Minang bangkit kembali. Emil Salim, Azwar Anas, dan Marwan Effendi menghiasi kabinet Orde Baru. 

Di era Reformasi, nama-nama seperti Fachrul Razi, Arifin Tasrif, Muhammad Lutfi, dan Yusril Ihza Mahendra menunjukkan kontribusi Minang yang konsisten. Kini, di kabinet Prabowo-Gibran yang baru dilantik, putra Minang seperti Fadli Zon kembali menonjol. Kehadiran mereka menegaskan bahwa, meski terluka oleh sejarah PRRI, urang Minang terus memberi warna pada republik. Ini sejalan dengan catatan Mestika Zed dalam PRRI–Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis (2002), bahwa semangat politik Minang selalu mencari jalan untuk bangkit.

📚 Artikel Terkait

Konflik Wakaf Blang Padang: Relasi Kuasa Negara dan Kedaulatan Spiritualitas Lokal di Aceh

Puisi-Puisi Alkhair Aljohore, Malaysia

Pegadaian Syariah, Syukurku Merekah

Tafsir dan Kajian FilsafatiatasPuisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina dalamPerspektif Martin Buber

Jejak Keluarga Yahya

Kisah keluarga saya mencerminkan pasang-surut politik Minang. Ayah, setelah melalui masa sulit pasca-PRRI, bangkit menyelesaikan kuliah kedokteran dan mengabdi sebagai dokter. Leluhur kami, Jahja Datoek Kajo, duduk di Volksraad era kolonial, sementara kakek saya, dr. Sagaf Yahya, mendirikan Partai Parindra di Jambi dengan semangat melayani rakyat. Brigjen Daan Yahya, paman saya, pernah menjabat Pangdam Siliwangi, dan Kolonel Maritim Achirul Yahya menjadi wali kota Padang termuda. 

Kisah ini bukan sekadar kebanggaan keluarga, tetapi cerminan bagaimana urang Minang terus berjuang, meski di tengah trauma sejarah. Nilai-nilai seperti keberanian, intelektualitas, dan semangat merantau menjadi modal untuk berkontribusi pada bangsa.

Membangun Kembali dengan Nilai Minang

Setelah tiga dekade Reformasi, politik berbasis nilai Minang patut dihidupkan kembali. Nilai seperti gotong royong, intelektualitas, dan semangat merantau—seperti yang ditunjukkan Mohammad Hatta atau Sutan Sjahrir—bisa menjadi fondasi. Contohnya, kakek saya melalui Partai Parindra menawarkan model politik yang berorientasi pada rakyat, bukan sekadar kekuasaan. 

Dengan diaspora yang luas, urang Minang punya potensi besar untuk melahirkan gagasan segar. Bukan hanya berdebat di lapau atau grup WhatsApp, tetapi melalui kanal politik nyata—partai, organisasi masyarakat, atau kebijakan publik. Seperti dulu, ketika tokoh Minang membangun republik, kini saatnya urang Minang kembali mengukir peran besar. 

Indonesia hari ini membutuhkan gagasan yang inklusif dan visioner. Urang Minang, dengan sejarah panjang perjuangan dan intelektualitasnya, harus kembali ke panggung nasional—bukan dengan nostalgia, tetapi dengan visi untuk masa depan.

Catatan Penulis

Artikel ini diadaptasi dari refleksi pribadi dan studi sejarah, termasuk referensi dari Taufik Abdullah (Sejarah dan Masyarakat, 2009), A.A. Navis (Alam Terkembang Jadi Guru, 1984), Mestika Zed (PRRI–Permesta, 2002), dan Audrey R. Kahin (Rebellion to Integration, 1999).

Novita sari yahya

Kegiatan sehari-hari penulis dan peneliti.

Penulis buku

1..Romansa Cinta 

2.Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

3. Novita & Kebangsaan

4. Makna di setiap rasa antologi 100 puisi bersertifikat lomba nasional dan internasional

5. Siluet cinta, pelangi rindu

6. Self Love : Rumah Perlindungan Diri.

Kontak pembelian buku : 089520018812

Instagram: @novita.kebangsaan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Awas Penguasa! Jangan Sampai Kalian “Dibutonkan” Rakyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00