POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Awas Penguasa! Jangan Sampai Kalian “Dibutonkan” Rakyat

RedaksiOleh Redaksi
September 20, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Beberapa waktu lalu, muncul istilah “Dinepalkan” Istilah ini membuat KPU panas dingin. Sekarang ada ni istilah baru, wak! “Dibutonkan.” “Ape age bende tu, bang?” tanya budak Pontianak. Mari kita lindas, eh salah, kupas istilah yang berasal dari ide kreatif warga Buton ini. Siapkan lagi kopi plus aspal, eh salah, sedikit gula aren.

Sejarah politik Indonesia akhirnya menemukan satu kata kerja baru yang lebih ngeri dari “dikorupsi”, lebih pedih dari “dilindas”, dan lebih memalukan dari “digerebek”, yaitu “dibutonkan”. Kata ini lahir bukan dari seminar politik, bukan dari disertasi profesor, tapi dari keresahan warga Buton yang bupatinya mendadak raib sebulan penuh.

Bayangkan betapa dramatisnya, seorang bupati muda, kaya raya, lulusan UGM, anak mantan gubernur, pemilik tronton tiga biji, pokoknya kombo ultimate generasi sultan, tiba-tiba hilang dari radar rakyat. Warga yang bosan menunggu akhirnya melapor ke polisi. Polisi pun bengong, “Hilang gimana, daeng? Handphone nggak aktif? Atau beliau disedot jin Buton?” Jawaban warga sederhana, “Ya hilang aja, Pak. Masa bupati kayak hantu Casper?”

Lalu poster “Orang Hilang” terpampang di tiang listrik. Wajah sang bupati nongol di samping iklan tukang service AC dan jasa sedot WC. Dari bupati termuda se-Sulawesi Tenggara, ia berubah jadi tokoh pos ronda. Kalau ini film koboi, bounty hunter sudah siap pasang kuda ke arah Senayan. Kalau ini iklan, tagline-nya jelas, “Dicari! Hadiah: rasa rindu rakyat yang tak terbayar.”

Netizen, tentu saja, tidak tinggal diam. Kolom komentar meledak seperti mercon Lebaran. Ada yang menulis, “Andai semua pejabat yang jarang masuk kantor dibutonkan, kantor polisi bakal penuh sampai bikin antrean kayak konser Taylor Swift.” Ada yang lebih sadis, “Poster ini lebih jujur daripada baliho kampanye. Minimal kita tahu bupatinya benar-benar nggak ada.” Bahkan ada yang bikin meme, wajah Alvin disandingkan dengan tulisan Last Seen: Jakarta, 30 hari lalu. Persis kayak status WhatsApp mantan pacar yang ghosting.

📚 Artikel Terkait

Menerobos Waktu

Disdukcapil Jalin Kerjasama dengan RSU Cempaka Lima

MAS Darul Ulum Buka Mapel Mandarin dan Riset

Mensyukuri Nikmat Allah

Di sisi lain, wakil bupati berusaha tenang. Katanya, “Bupati tidak hilang, beliau sedang dinas di Jakarta.” Wah, jawaban ini setara dengan orang pacaran LDR bilang, “Aku nggak hilang, cuma sibuk.” Dinas sebulan? Dinas apa, coba? Magang sama Pramono? Ikut lomba joget TikTok nasional? Atau sibuk jaga malam tronton tiga biji di Tanjung Priok? Kalau benar begitu, sebaiknya tambahin di SK jabatan, “Bupati Buton, merangkap mandor logistik.”

Fenomena “dibutonkan” ini langsung jadi filosofi baru demokrasi. Teguran elegan rakyat kepada pejabat yang hobi menghilang. Bayangkan, daeng! Kalau tren ini menular, anggota DPR yang tidur saat sidang bisa diposterkan, “Dicari: Wakil rakyat terakhir terlihat mendengkur jam 14.00.” Menteri yang doyan jalan-jalan keluar negeri juga bisa, “Dicari: Menteri X, last seen di bandara terminal 3.” Bahkan lurah yang sibuk kawin siri pun rawan, “Dicari: Lurah paling romantis, terakhir terlihat di KUA.”

Namun, di balik tawa, pesan ini epik. Rakyat tak butuh CV canggih, tak butuh gaya gaul ibukota, apalagi tronton. Mereka cuma butuh pemimpin yang muncul di pasar, nongol di acara desa, atau minimal hadir di rapat kantor. Kehadiran fisik, bukan sekadar kehadiran hati. Karena hati tak bisa memperbaiki jalan rusak, hati tak bisa bayar gaji pegawai, dan hati jelas tak bisa menurunkan harga ikan.

So, awas wahai para penguasa. Jangan sampai dibutonkan rakyat. Sebab sekali wajahmu diposterkan di tiang listrik, itu lebih abadi dari baliho kampanye. Lebih pahit dari headline di akun ini, lebih viral dari gosip artis. Itu tanda, rakyat sudah muak, dan mereka memilih cara paling kreatif, menjadikan absensimu sebagai bahan tertawaan nasional. Ingat, lebih baik dipuji karena hadir, dari terkenal karena hilang. Karena sejarah tidak pernah menulis, “Ia pemimpin besar karena rajin absen.”

NB. Infonya si Wahyudin Moridu anggota DPRD Gorontalo itu sudah dipecat DPP PDIP.

Foto Ai, hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Bernilai, Bukan Sekadar Mengejar Nilai

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00