POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Buah dari Nyakiti Guru, H Arlan Diperiksa Kemendagri, Ditegur Gerindra

RedaksiOleh Redaksi
September 19, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Drama H Arlan, Walkot Prabumulih terus berlanjut. Kemendagri sampai Gerindra turun tangan. Derita dari menyakiti guru terus menghampirinya. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Jangan coba-coba mainkan nasib guru, wahai penguasa. Satu menteri sudah dicopot, ingat itu! Sejarah mencatat, tak ada kekuasaan yang kebal dari murka rakyat ketika mereka menyentuh urusan pendidikan. Guru itu ibarat lilin, terbakar demi menerangi murid. Tapi coba bayangkan, lilin yang sedang menyala malah ditiup angin oleh Walikota sendiri. Itulah tragedi Prabumulih yang kini jadi bahan ketawa pahit di seluruh negeri.

Kisah ini bermula dari Kepala Sekolah SMPN 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah, yang viral gara-gara video perpisahan penuh air mata. Katanya dicopot setelah menegur seorang murid. Murid itu bukan murid sembarangan, tapi konon anak Wali Kota. Ah, betapa malangnya guru di negeri ini, menegur anak pejabat sama dengan menandatangani surat pindah sendiri.

H. Arlan, sang Walikota, tentu tak mau dicap arogan. Ia buru-buru membantah, “Bukan karena anak saya.” Namun hukum psikologi publik bekerja terbalik, semakin keras bantahan, semakin keras pula kecurigaan. Sama seperti orang bilang, “Saya tidak marah,” padahal wajah sudah merah padam seperti kepiting rebus.

Kemendagri pun tak tinggal diam. Inspektorat Jenderal memanggil Wali Kota, Kepala Sekolah, dan pejabat lain untuk klarifikasi. Dalam bahasa birokrasi, itu disebut “pemeriksaan.” Dalam bahasa rakyat, itu artinya, “Kekuasaan lokal sudah kelewat batas.” Bahkan Gerindra, partai yang mengusung Arlan, ikut menegur. Ketua Gerindra Sumsel, Kartika Sandra Desi, langsung menelepon, memberi sanksi moral, jangan ulangi lagi! Nah, di titik ini, sang Walikota terjebak dalam lingkaran setan pernyataan kontraproduktif.

Pertama, ia bilang mutasi itu wajar. Kedua, ia minta maaf karena salah komunikasi. Ketiga, ia bantah ada intervensi, tapi tetap akui sudah ditegur partai. Ini ibarat orang bilang, “Saya tidak lapar,” sambil menyantap dua piring nasi Padang. Publik dibuat geleng kepala. Kalau memang mutasi biasa, kenapa harus sampai dipanggil Kemendagri dan ditegur Gerindra?

📚 Artikel Terkait

Fatamorgana Kursi

BISNIS TANPA MODAL TANPA RISIKO?

Siswa SD Kluet Timur Juara LCC se-Aceh Selatan

Tiga Cara Menjaga Silaturrahmi di Bulan Ramadan

Filsafat guru mengajarkan, kebenaran lahir dari teguran. Teguran guru adalah tamparan kasih sayang. Tapi dalam kasus ini, teguran guru justru berbuah tamparan politik. Seorang kepala sekolah yang menegakkan disiplin, mendadak jadi martir birokrasi. Ia menangis, murid-murid menangis, bahkan netizen ikut menangis sambil membuat meme.

Secara psikologi, ini gejala klasik. Penguasa yang tersinggung oleh hal kecil akan merespons berlebihan demi menjaga wibawa. Padahal, justru di situlah wibawa runtuh. Arogansi ibarat cermin retak, semakin digenggam kuat, semakin melukai tangan sendiri.

Kini publik menunggu hasil pemeriksaan Kemendagri. Apakah Arlan akan diberi sanksi administratif? Atau hanya sekadar peringatan yang hilang bersama angin politik? Tak ada yang tahu. Tapi yang jelas, masyarakat sudah belajar, di negeri ini, menegur anak pejabat lebih berisiko dari menegur setan di malam Jumat.

Maka sekali lagi, wahai para penguasa, jangan main-main dengan guru. Mereka adalah benteng terakhir akal sehat bangsa. Kalau benteng itu kau robohkan demi membela anak sendiri, jangan salahkan kalau sejarah menjatuhkanmu. Satu menteri sudah tumbang karena pendidikan, masa Wali Kota mau coba-coba juga?

Penguasa harus ingat, jabatan hanyalah titipan sementara. Sementara guru adalah penopang peradaban yang abadi. Meremehkan atau mengorbankan mereka demi gengsi pribadi sama saja menggali kubur politik sendiri. Sebab, doa guru yang terzalimi lebih tajam dari seribu pedang dan lebih keras dari palu hukum mana pun.

Foto Ai, hanya ilustrasi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Burung Balam Kami

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00