• Latest

Revolusi Gen Z Dari Nepal

September 14, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Revolusi Gen Z Dari Nepal

Redaksi by Redaksi
September 14, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

REVOLUSI GEN Z DARI NEPAL

oleh ReO Fiksiwan

„Rezim lama dipandang tidak adil, tidak efisien, dan korup, serta kehilangan kesetiaan dari kaum intelektual dan kelas menengah.” — Crane Brinton(1898-1968), The Anatomy of Revolution(1938; Terjemahan,1962).

Nepal, terletak di Asia Selatan dengan penduduk 26,6 juta jiwa dan mayoritas Hindu, negeri Himalaya yang selama bertahun-tahun terjebak dalam pusaran oligarki dan patronase politik, akhirnya diguncang oleh gelombang revolusi yang tak terduga: bukan oleh partai oposisi, bukan oleh militer, melainkan oleh generasi yang selama ini dianggap terlalu sibuk dengan TikTok dan filter Instagram—Gen Z.

Dalam hitungan hari, mereka berhasil menggulingkan rezim Perdana Menteri K.P. Sharma Oli(73), memaksa Presiden Ramchandra Paudel(80)mencari jalan keluar konstitusional, dan mendorong nama Sushila Karki(73), mantan Ketua Mahkamah Agung, sebagai calon pemimpin sementara.

Karki, perempuan pertama yang memimpin lembaga peradilan tertinggi Nepal, dikenal karena integritas dan keberaniannya menindak korupsi.

Ia bukan bagian dari partai, bukan bagian dari elite lama, dan justru karena itu, menjadi simbol harapan baru.

Revolusi ini bukan sekadar amarah spontan. Ia adalah akumulasi frustrasi atas larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah, yang memicu kemarahan anak muda setelah unggahan tentang gaya hidup mewah anak pejabat viral dan dibungkam.

Gen Z Nepal, yang selama ini dianggap apolitis, justru menunjukkan bahwa mereka adalah generasi yang paling sadar akan ketidakadilan struktural.

Mereka tidak hanya menuntut akses digital, tetapi juga transparansi, keadilan, dan representasi. Seperti dikutip dari Revolusi Gen Z di Nepal:

“Kalau sudah bicara tentang bangsa, tidak perlu motivasi. Para politikus hanya menjual negara untuk keserakahan mereka sendiri. Itu seharusnya tidak terjadi,“ ujar Saurav(18), mahasiswa, korban luka tembak dalam demo Gen Z Nepal.

Dalam semangat yang mirip dengan apa yang ditulis Shelina Janmohammed(51) dalam Generation M: Young Muslims Changing the World(2016; Terjemahan, 2017) adalah generasi yang menggabungkan iman, modernitas, dan aktivisme sosial.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Mereka tidak puas hanya menjadi konsumen budaya, mereka ingin menjadi arsitek perubahan. Dari mereka, Gen Z atau GM, ini muncul revolusi hijabers dan halalism di jantung kota London.

Crane Brinton, dalam Anatomy of Revolution, menyebut bahwa revolusi lahir dari ketegangan antara rezim lama yang kehilangan legitimasi dan kelas baru yang menuntut ruang.

Nepal mengalami fase klasik revolusi: dari ketidakpuasan ekonomi, pembusukan elite, hingga munculnya pemimpin alternatif.

Gen Z adalah kelas baru itu—bukan dalam arti ekonomi, tetapi dalam arti budaya dan teknologi.

Mereka tidak tunduk pada hierarki lama, dan justru karena itu, mampu meruntuhkan struktur yang selama ini dianggap kokoh.

Namun, dari sudut pandang marxisme, revolusi Nepal ini menghadapi paradoks.

Ia bukan revolusi kelas pekerja melawan borjuasi, melainkan revolusi digital melawan feodalisme informasi.

Tidak ada partai proletar, tidak ada manifesto ekonomi, hanya algoritma dan kemarahan kolektif.

ADVERTISEMENT

Marx mungkin akan menyebutnya sebagai revolusi setengah matang—belum menyentuh akar produksi, tetapi sudah mengguncang superstruktur.

Di Indonesia, antara 28 Agustus hingga 1 September 2025, gelombang demonstrasi yang dipicu oleh isu tunjangan DPR dan ketimpangan ekonomi juga menelan korban jiwa.

Affan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat mengantar pesanan di tengah kerusuhan.

Ia bukan aktivis, bukan provokator, hanya rakyat biasa yang menjadi korban sistem yang tidak peduli.

Sembilan lainnya menyusul, dari pelajar hingga pegawai negeri, menunjukkan bahwa ketika negara gagal mendengar, rakyat membayar dengan nyawa.

Perbandingan antara Nepal dan Indonesia menunjukkan bahwa Gen Z bukan lagi generasi yang bisa diremehkan.

Mereka adalah generasi yang lahir dalam krisis, tumbuh dalam algoritma, dan bergerak dalam solidaritas digital.

Mereka tidak menunggu revolusi datang dari partai atau tokoh tua. Mereka menciptakannya sendiri—dengan meme, dengan unggahan, dengan keberanian.

Revolusi Gen Z adalah revolusi yang tidak mengenal batas negara. Ia bisa lahir di Kathmandu, meletus di Jakarta, dan menyebar ke seluruh dunia. Ia bukan revolusi senjata, tetapi revolusi kesadaran.

Dan seperti yang ditulis Janmohammed, mereka terlalu sibuk menjadi keren untuk tunduk pada penindasan.

Mereka tidak lupa bagaimana rasanya tertindas—mereka hanya memilih untuk melawan dengan cara yang belum pernah kita bayangkan.

coversongs: Lagu “Aur Kya” dari film Bollywood berjudul Phir Bhi Dil Hai Hindustani yang dirilis pada 26 November 1999.

Lagu ini diciptakan oleh Jatin-Lalit, dengan vokal dari Abhijeet Bhattacharya dan Alka Yagnik, serta lirik ditulis oleh Javed Akhtar yang berisi ungkapan cinta yang penuh keindahan dan rasa syukur.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
What is Scholasticide?

TA Khalid dan Krue Seumangat dari Rantau: Nyala Harapan dari Negeri yang Pernah Berdarah

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com