POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tangis Langit Aceh

RedaksiOleh Redaksi
September 5, 2025
šŸ”Š

Dengarkan Artikel

Oleh: Mustiar AR.

Langit Aceh sore itu mendung berat. Awan hitam menebal, hujan jatuh deras, dan petir sesekali membelah langit. Dari sebuah warung kopi di sudut Meulaboh, tangis langit itu terasa dekat sekali dengan percakapan rakyat kecil yang sedang duduk di dalamnya.

ā€œLihat, Din,ā€ ujar Rahman sambil menunjuk ke luar jendela, ā€œlangit menangis lagi. Tangisnya seolah mengingatkan kita, betapa Aceh belum juga bebas berdiri di atas kakinya sendiri.ā€

Din menatap secangkir kopi hitam. ā€œBenar, Man. Tangis langit Aceh bukan sekadar hujan. Ia adalah doa yang jatuh dari langit. Ia seperti berkata: lepaskan kami, biarkan kami mandiri. Tapi siapa yang mau mendengar?ā€

Percakapan itu menembus keheningan warung. Beberapa pemuda yang duduk di meja sebelah ikut mencuri dengar. Salah seorang menyahut, ā€œBang, apa mungkin Aceh bisa mandiri? Hasil bumi kita banyak, hasil laut kita besar, tapi mengapa nelayan dan petani tetap miskin?ā€

Din menoleh padanya, dengan nada lembut tapi tajam. ā€œNak, mandiri bukan soal berapa banyak yang kita miliki. Mandiri itu soal keberanian. Kalau kita masih menadah bantuan, orang tidak akan percaya bahwa kita bisa berdiri sendiri.ā€

Rahman menghela napas. ā€œLucu sekali, Din. Kita selalu diberi ceramah soal kemandirian, tapi kenyataannya kita diikat aturan kaku. Katanya kita istimewa, tapi hanya istimewa di atas kertas. Rakyat tetap harus berjalan di jalan berlubang, membayar harga mahal, dan hidup dengan listrik padam.ā€

Seorang perempuan paruh baya yang berjualan kue tiba-tiba ikut bicara. ā€œAku ibu dari tiga anak. Dua sudah merantau, satu masih tinggal. Aku bangun subuh tiap hari, membuat kue, menjual dengan untung kecil. Aku tidak mengeluh. Tapi aku tidak mau cucu-cucuku nanti menanggung nasib yang sama. Kalau mau mandiri, bangunlah Aceh dengan hati, bukan dengan janji.ā€

Kata-katanya menancap. Hujan di luar semakin deras, seakan ikut menyetujui.

šŸ“š Artikel Terkait

Kolabarasi Fakultas Bahasa dan Seni UNP Dengan IMLF Dalam Sebuah Panggung Pertunjukan

KOMUNITAS SENI KEBAS PENTASKAN TEATER SENJA

Memahami Negative Washback:

Wanita Di Sudut Kota

Seorang lelaki tua bersuara serak menambahkan, ā€œAku sudah cukup tua untuk melihat Aceh melawan penjajah, lalu terpuruk di bencana. Tapi yang paling menyakitkan bukan perang atau tsunami. Yang paling menyakitkan adalah melihat anak cucuku menjadi pengemis di tanahnya sendiri. Mandiri itu soal harga diri. Kalau kita masih rela jadi pion politik, kita belum merdeka. Kalau kita masih takut berkata benar, kita masih dijajah—oleh rasa takut kita sendiri.ā€

Perkataan itu membuat suasana hening. Dan saat hujan reda, cahaya senja menembus awan. Seolah langit ikut berbicara, membisikkan pesan:

ā€œAku sudah lama menangis untuk kalian. Air mataku menetes di sawah gersang, di laut yang terjajah, di rumah-rumah yang retak. Aku menangis bukan karena lemah, tapi karena cinta. Jangan terus menengadah. Jangan hanya bersandar pada nama besar sejarah. Lepaskan diri dari belenggu kepentingan sempit. Biarkan kalian mandiri.ā€

Rahman menunduk, matanya basah. ā€œDin, aku malu. Kita sering marah pada penguasa, pada pusat, pada politik. Tapi kita lupa marah pada diri sendiri. Kita lupa bahwa mandiri dimulai dari kita.ā€

Din menepuk bahunya. ā€œBenar, Man. Mandiri tidak turun dari langit. Ia lahir dari keberanian rakyat. Kalau kita berani menanam padi, jangan biarkan tikus politik memakannya. Kalau kita berani menulis kebenaran, jangan biarkan suara kita dibungkam. Kalau kita berani menjaga Aceh dengan cinta, jangan biarkan kebencian merusaknya lagi.ā€

Pemuda-pemuda itu menatap satu sama lain, mata mereka berkilat. Perempuan penjual kue mengusap air mata. Lelaki tua itu menegakkan tubuhnya walau dengan susah payah. Semua yang ada di warung kopi itu merasa bahwa tangis langit Aceh adalah tangis mereka sendiri.

Matahari muncul di ufuk barat. Jalanan basah memantulkan cahaya jingga. Din berdiri dan bersuara lantang: ā€œKita bukan anak kecil lagi. Jangan biarkan kita terus digendong. Sudah waktunya kita berjalan sendiri, meski terhuyung. Biarlah dunia tahu: Aceh bukan sekadar tanah luka, tapi tanah yang berani bangkit.ā€

Rahman menambahkan, ā€œLepaskan kami dari janji palsu. Lepaskan kami dari aturan yang mencekik. Lepaskan kami dari politik yang memecah belah. Biarkan kami mandiri, dengan cara kami sendiri, dengan jalan yang kami pilih sendiri.ā€

Dan sore itu, suara rakyat kecil bersatu dengan suara langit. Tangis langit Aceh bukan lagi ratapan. Ia berubah menjadi seruan santun dan elegan, tajam namun penuh harapan:

ā€œLepaskan kami… biarkan kami mandiri.ā€
05.09.2025

šŸ”„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
šŸ“
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Gaji DireksiĀ Ā BUMN Dan SerakahismeĀ 

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

Ā© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ā© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00