• Latest

Tangis Langit Aceh

September 5, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tangis Langit Aceh

Redaksiby Redaksi
September 6, 2025
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Mustiar AR.

Langit Aceh sore itu mendung berat. Awan hitam menebal, hujan jatuh deras, dan petir sesekali membelah langit. Dari sebuah warung kopi di sudut Meulaboh, tangis langit itu terasa dekat sekali dengan percakapan rakyat kecil yang sedang duduk di dalamnya.

“Lihat, Din,” ujar Rahman sambil menunjuk ke luar jendela, “langit menangis lagi. Tangisnya seolah mengingatkan kita, betapa Aceh belum juga bebas berdiri di atas kakinya sendiri.”

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Din menatap secangkir kopi hitam. “Benar, Man. Tangis langit Aceh bukan sekadar hujan. Ia adalah doa yang jatuh dari langit. Ia seperti berkata: lepaskan kami, biarkan kami mandiri. Tapi siapa yang mau mendengar?”

Percakapan itu menembus keheningan warung. Beberapa pemuda yang duduk di meja sebelah ikut mencuri dengar. Salah seorang menyahut, “Bang, apa mungkin Aceh bisa mandiri? Hasil bumi kita banyak, hasil laut kita besar, tapi mengapa nelayan dan petani tetap miskin?”

Din menoleh padanya, dengan nada lembut tapi tajam. “Nak, mandiri bukan soal berapa banyak yang kita miliki. Mandiri itu soal keberanian. Kalau kita masih menadah bantuan, orang tidak akan percaya bahwa kita bisa berdiri sendiri.”

Rahman menghela napas. “Lucu sekali, Din. Kita selalu diberi ceramah soal kemandirian, tapi kenyataannya kita diikat aturan kaku. Katanya kita istimewa, tapi hanya istimewa di atas kertas. Rakyat tetap harus berjalan di jalan berlubang, membayar harga mahal, dan hidup dengan listrik padam.”

Seorang perempuan paruh baya yang berjualan kue tiba-tiba ikut bicara. “Aku ibu dari tiga anak. Dua sudah merantau, satu masih tinggal. Aku bangun subuh tiap hari, membuat kue, menjual dengan untung kecil. Aku tidak mengeluh. Tapi aku tidak mau cucu-cucuku nanti menanggung nasib yang sama. Kalau mau mandiri, bangunlah Aceh dengan hati, bukan dengan janji.”

Kata-katanya menancap. Hujan di luar semakin deras, seakan ikut menyetujui.

Seorang lelaki tua bersuara serak menambahkan, “Aku sudah cukup tua untuk melihat Aceh melawan penjajah, lalu terpuruk di bencana. Tapi yang paling menyakitkan bukan perang atau tsunami. Yang paling menyakitkan adalah melihat anak cucuku menjadi pengemis di tanahnya sendiri. Mandiri itu soal harga diri. Kalau kita masih rela jadi pion politik, kita belum merdeka. Kalau kita masih takut berkata benar, kita masih dijajah—oleh rasa takut kita sendiri.”

Perkataan itu membuat suasana hening. Dan saat hujan reda, cahaya senja menembus awan. Seolah langit ikut berbicara, membisikkan pesan:

“Aku sudah lama menangis untuk kalian. Air mataku menetes di sawah gersang, di laut yang terjajah, di rumah-rumah yang retak. Aku menangis bukan karena lemah, tapi karena cinta. Jangan terus menengadah. Jangan hanya bersandar pada nama besar sejarah. Lepaskan diri dari belenggu kepentingan sempit. Biarkan kalian mandiri.”

Rahman menunduk, matanya basah. “Din, aku malu. Kita sering marah pada penguasa, pada pusat, pada politik. Tapi kita lupa marah pada diri sendiri. Kita lupa bahwa mandiri dimulai dari kita.”

Din menepuk bahunya. “Benar, Man. Mandiri tidak turun dari langit. Ia lahir dari keberanian rakyat. Kalau kita berani menanam padi, jangan biarkan tikus politik memakannya. Kalau kita berani menulis kebenaran, jangan biarkan suara kita dibungkam. Kalau kita berani menjaga Aceh dengan cinta, jangan biarkan kebencian merusaknya lagi.”

Pemuda-pemuda itu menatap satu sama lain, mata mereka berkilat. Perempuan penjual kue mengusap air mata. Lelaki tua itu menegakkan tubuhnya walau dengan susah payah. Semua yang ada di warung kopi itu merasa bahwa tangis langit Aceh adalah tangis mereka sendiri.

Matahari muncul di ufuk barat. Jalanan basah memantulkan cahaya jingga. Din berdiri dan bersuara lantang: “Kita bukan anak kecil lagi. Jangan biarkan kita terus digendong. Sudah waktunya kita berjalan sendiri, meski terhuyung. Biarlah dunia tahu: Aceh bukan sekadar tanah luka, tapi tanah yang berani bangkit.”

Rahman menambahkan, “Lepaskan kami dari janji palsu. Lepaskan kami dari aturan yang mencekik. Lepaskan kami dari politik yang memecah belah. Biarkan kami mandiri, dengan cara kami sendiri, dengan jalan yang kami pilih sendiri.”

Dan sore itu, suara rakyat kecil bersatu dengan suara langit. Tangis langit Aceh bukan lagi ratapan. Ia berubah menjadi seruan santun dan elegan, tajam namun penuh harapan:

ADVERTISEMENT

“Lepaskan kami… biarkan kami mandiri.”
05.09.2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Gaji Direksi  BUMN Dan Serakahisme 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com