POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tulisan Madrasah di Ujung Sampah Membuat Kemenag Turunkan Pasukan

RedaksiOleh Redaksi
August 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kadang saya suka mikir, tulisan itu seperti setrum PLN 220 volt. Kalau nyengatnya pas, bisa bikin orang kaget, bisa bikin orang sadar, bahkan bisa bikin pejabat langsung loncat dari kursi empuknya. Nah, itulah yang terjadi setelah saya menulis “Madrasah di Ujung Sampah, Cahaya di Tengah Bau Busuk”. Tulisan itu ternyata bukan cuma sekadar ocehan di warkop, tapi semacam doa yang diaminkan semesta, dan dijawab dengan cepat oleh Kementerian Agama, khususnya Kanwil Kemenag Kalbar.

Lewat Pak Mahmud Jayadi, Kepala Tata Usaha Kanwil, saya diundang bak seorang penulis istimewa yang tulisannya lebih manjur dari proposal bermeterai. “Ayo, Bangros, kita turun ke lokasi,” katanya. Eh, yang ngajak bukan sembarang orang. Saya sampai ikut satu mobil dinas dengan Pak Muhajirin Yanis, Kepala Kanwil Kemenag Kalbar. Ini orang nomor satu, anak buah langsung Menteri Agama di Kalbar. Kalau di dunia wayang, beliau ini semacam Werkudara, badannya gagah, langkahnya cepat, dan bicaranya mantap.

Sebelum berangkat, saya sempat diajak ngobrol di ruangannya. Baru kali itu saya masuk ruangan ber-AC, luas, kursinya empuk, ada meja rapat pula. Rasanya seperti masuk surga kecil setelah seharian nongkrong di warkop yang kursinya bolong kena puntung rokok. Kami bicara soal tulisan saya, sambil beliau menyerahkan laporan resmi dari Kemenag Kota Pontianak. Dalam laporan itu, nama saya disebut berkali-kali. Hati saya langsung berbisik, “Nah, ini baru level. Tulisan saya sampai jadi dokumen resmi negara. Entah sebentar lagi masuk arsip nasional.”

Pak Muhajirin cuma tersenyum, lalu berfilosofi, “Sekali-sekali perlu juga dicubit, supaya tahu rasanya sakit.” Saya dalam hati, wah, jangan-jangan beliau ini diam-diam murid Nietzsche versi islami.

Perjalanan pun berlanjut. Tapi sebelum itu, mampir dulu ke rumah makan Arab, Al Mumtaz. Tentu tidak mungkin gerak cepat kalau perut keroncongan. Saya pun makan nasi biryani, satu meja dengan Pak Kanwil, Pak Ruslan (Kepala Kemenag Kota), Kepala TU, dan Pak Sipni, Kabid Pendis. Makan lahap, seperti para sahabat Nabi di Padang Arafah. Saya sendiri nyendok dengan gaya filosof Yunani, pelan-pelan, tapi dalam hati mikir, “Ah, beginilah rasanya menulis, dibayar dengan biryani.”

📚 Artikel Terkait

Rumah

MOMENTUM MENGUKIR SEJARAH

EAA dan Prodi Bahasa Inggris Gelar Coaching Clinic Menulis Essay Beasiswa AAS

Puisi-Puisi Wanrazuhar

Setelah itu, barulah kami ke lokasi. Jalan Kebangkitan Nasional, Pontianak Utara, butuh 30 menit. Begitu sampai, saya lihat plang madrasah. Ada logo Kemenag, ada tulisan “Kementerian Agama Kota Pontianak”. Sekilas, seolah itu milik Kemenag. Padahal, kata Pak Ruslan, “Itu salah, mestinya nama yayasan Miftahussholihin.” Gara-gara plang, beliau sampai dikirimi pesan Ketua Dewan. Saya tertawa dalam hati, beginilah Indonesia, salah tulis plang bisa lebih viral dari salah bikin kebijakan.

Madrasahnya sendiri, aduhai. Jendelanya tanpa kaca, atapnya bocor, siswanya cuma 18 orang. Kalau ada hujan, kelas bisa jadi kolam ikan. Tapi di sanalah hadir Nurhasanah, kepala madrasah yang wajahnya tetap teduh, ada wakil kepala Ahmad Thoriman, ada Nyai Rohoma sang ketua yayasan, juga ketua komite. Wajah mereka penuh harap.

Saya tak perlu mengulas apa yang mereka bahas dengan pejabat Kemenag. Itu urusan teknis. Yang jelas, saya melihat dengan mata kepala sendiri, gerak cepat Kemenag itu nyata. Bayangkan, wak! Hanya dengan satu tulisan 600 kata, Kanwil dan pasukan Pendis turun langsung ke lokasi. Kalau ini bukan bukti kepedulian, lalu apa lagi?

Dalam perjalanan pulang, saya duduk lagi satu mobil dengan Pak Kanwil. Jalanan terasa berbeda. Ada rasa bangga, ada rasa senang. Seperti seorang murid madrasah yang tiba-tiba dinilai nilainya 100 oleh guru besar. Saya tersenyum sendiri, ternyata kata-kata tidak selalu sia-sia. Kadang, kata-kata bisa lebih cepat dari surat dinas.

Filsafatnya begini, madrasah itu ibarat lampu kecil di tengah gelap. Bau sampah sekalipun tak bisa mematikan sinarnya. Yang dibutuhkan hanya sedikit angin segar dan perhatian. Kemenag sudah turun tangan, mari kita jaga bersama-sama.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Fenomena Bapak-Ibuisme Dari Pernyataan Janda Oleh Ridwan Kamil

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00