POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Drama Ban Bocor di Hari Kemerdekaan

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
August 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Pagi tadi, langit biru seakan menghamparkan karpet merah untuk menyambut HUT RI ke-80. Burung berkicau, bendera berkibar, dan semesta berbisik, “Bangunlah, rayakanlah kemerdekaanmu.” Tapi justru saat saya ingin menghidupkan mobil, kenyataan menampar lebih keras dari slapstick Srimulat. Ban depan kiri bocor. Di situlah absurditas hidup meletup. Albert Camus pernah berkata hidup itu omong kosong yang harus diterima dengan senyum getir. Maka saya pun tersenyum getir pada ban kempes, seakan ia berkata, “Merdeka itu hanyalah kata, aku bocor, dan engkau tak bisa ke mana-mana.”

Tentu, dalam absurditas selalu ada pilihan, marah atau sabar. Saya memilih sabar. Apakah bengkel buka di Hari Kemerdekaan, harus dicek. Saya cek dulu pakai motor, lima menit ke sana. Ternyata buka. Inilah absurditas tahap kedua, kita sering takut pada hal yang ternyata tidak perlu ditakuti. Betapa banyak orang cemas soal masa depan, padahal kadang yang ditakutkan hanya “bengkel tutup.”

Lalu masuklah tokoh eksistensial saya. Seorang montir asal Sibolga, marga Manulang, 28 tahun, bujangan, gajinya sejuta sebulan. Ia membuka ban sambil membuka luka batinnya. Pernah bekerja di pengeboran minyak di Kaltim, kontrak habis, karier ikut habis. Kini bekerja di bengkel tambal ban Pontianak, tapi jiwanya kempes lebih parah dari ban saya. “Kalau ada kebun sawit, bolehlah om saya kerja di situ. Udah bosan om kerja di bengkel,” katanya. Saya terdiam. Seperti Meursault dalam L’Étranger, ia jujur pada absurditas hidupnya, bosan, lelah, tapi tetap bergerak.

Ban saya selesai dibongkar. Lalu saya bawa ke bengkel, dicek dengan mesin modern. Hasilnya? Sebuah paku kecil, sepele, menusuk karet, membuat mobil tak berdaya. Saya termenung, bukankah hidup manusia sering runtuh hanya karena hal kecil? Cinta kandas karena salah chat, karier ambruk karena salah tanda tangan, negara gonjang-ganjing karena selembar kertas keputusan. Hari itu, kemerdekaan saya runtuh hanya karena paku.

Biaya tambal ban, 30 ribu. Murah, katanya. Tapi yang lebih berharga adalah filsafat yang ditanamkan paku itu. Bahwa absurditas hidup selalu hadir dari hal remeh. Saya lalu selipkan 15 ribu kepada si lae Manulang, uang rokok. Bukan sekadar rokok, tapi pengakuan bahwa ia manusia yang layak dihargai. Albert Camus mungkin akan tersenyum, di tengah absurditas, kita tetap bisa memberi makna, walau sekadar sebatang rokok.

📚 Artikel Terkait

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

Sehimpun Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

Rapi di Luar, Kusut di Dalam: Kritik terhadap Paradigma Penataan Kota yang Melupakan Keadilan Sosial

DUA PULUH LIMA TAHUN KEMUDIAN

Akhirnya ban selesai saya pasang sendiri. Keringat menetes, dada membusung, bukan karena nasionalisme Garuda di dada, tapi karena eksistensi manusia yang berjuang melawan paku. Hari itu, kemerdekaan saya tidak berupa upacara bendera, tapi berupa kunci ring, dongkrak, dan ban cadangan.

Inilah drama absurd saya di Hari Kemerdekaan RI ke-80. Sebuah tragedi sekaligus komedi, di mana paku kecil mampu menunda perjalanan, montir Sibolga bercerita tentang hidupnya, dan saya belajar bahwa merdeka bukan sekadar lepas dari penjajah, tapi juga berani menertawakan ban bocor.

Maka saya berdiri tegak, menatap bendera, sambil berbisik, “Merdeka! Bahkan ketika banmu bocor, engkau tetap bisa menambalnya.”

Hidup ini kadang memang tak ubahnya ban bocor, rapuh, mudah kempes, dan sering kali penyebabnya sepele. Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah kita belajar tentang kesabaran, ketabahan, dan seni menambal luka. Ban yang bocor bisa ditambal, hati yang retak bisa dihibur, dan jalan yang terhenti bisa dilanjutkan kembali. Maka jangan pernah meremehkan paku-paku kecil dalam hidup, sebab dari merekalah kita diuji, apakah menyerah, atau tetap bergerak.

Dari lae Manulang kita belajar, bahwa di balik profesi yang terlihat sederhana, tersimpan kisah manusia yang berjuang melawan absurditas hidup. Hidupnya mungkin kempes karena gaji kecil, tapi semangatnya masih berputar seperti roda. Kemerdekaan sejati bukanlah terbebas dari paku dan bocor, melainkan keberanian untuk tetap berdiri, tetap bekerja, dan tetap memberi makna.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Maafku Padamu Syuhada 

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00