POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perempuan Dayak Ngaju : Ketika Ibu Alam Memeluk Lembut Hutan Kalimantan 

RedaksiOleh Redaksi
August 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Heri Haliling

Perempuan Dayak Ngaju itu bernama Nyaru. Beliau bukan pejabat, bukan pula tokoh pemerintah, melainkan seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya merawat ladang, memintal rotan, dan mengajariku tentang hutan.

Sejak kecil, guruku itu sudah akrab dengan rimba. Beliau mengenalkan aku pada tumbuhan obat, seperti sangkareho,kayu bajakah, dan seluang balum, yang hanya tumbuh di hutan primer. Guruku dan perempuan kuat lainnya tidak menanam di lahan yang baru dibuka. Bu Nyaru dan kelompoknya selalu melakukan ladang berpindah dengan prinsip huma balum atau membiarkan tanah pulih sebelum digunakan kembali.

Kini hutan kami mulai berubah dari hijau menjadi kecokelatan. Kalimantan yang dulunya menyimpan 40 juta hektar hutan hujan tropis (WWF Indonesia, 2018), kini kehilangan sekitar 1,2 juta hektar setiap tahun akibat pembukaan lahan sawit dan tambang. Di Kalimantan Tengah saja, lebih dari 3 juta hektar hutan telah dikonversi menjadi perkebunan dan pertambangan sejak tahun 2000 (Eyes on the Forest, 2021).

Desa kami tidak luput dari wabah yang dilandaskan modernisasi ini. Hilirisasi berubah sebagai pengundang berpuluh-puluh ekskavator, buldozer, dan truk dum dengan bakraksasa.  Perusahaan yang datang membawa janji kesejahteraan itu, nyatanya yang mereka tinggalkan hanyalah tanah gersang, sungai tercemar, dan konflik lahan. Alhasil,perempuan seperti Bu Nyaru kehilangan akses ke hutan yang selama ini menjadi sumber obat, pangan, dan identitas.

Namun Bu Nyaru tidak tinggal diam. Di usianya yang masuk 40 tahun, sorot matanya tetap nyalang berkobar api kebebasan.

Bersama perempuan kampung lainnya, beliau membentuk kelompok Hinting Langit (Pengikat langit) dalam bahasa Dayak Ngaju. Mereka tidak hanya berkumpul untuk menenun atau memasak, tetapi menyusun strategi perlindungan hutan.Mereka mulai memetakan wilayah adat secara partisipatif dengan bantuan NGO lokal, dan mengajukan klaim hutan adat ke pemerintah melalui skema Perhutanan Sosial.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga 2024 baru sekitar 6% dari target12,7 juta hektar lahan Perhutanan Sosial yang benar-benar dikelola oleh kelompok perempuan. Namun, inisiatif Bu Nyaru menjadi contoh penting bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat, tetapi aktor utama pelestarian.

Kelompok Hinting Langit mempraktikkan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis kearifan lokal: mereka menanam kembali pohon endemik seperti ulin dan meranti menjaga kawasan sumber mata air, dan mengembangkan usaha berbasis hasil hutan non-kayu seperti madu hutan, rotan, dan kerajinan. Semua ini dilakukan dengan prinsip handep gotong royong khas Dayak.

📚 Artikel Terkait

Sajian Istimewa

Beduk

Banyak Yang Membutuhkan Lulusan BK

Ekspresi Kemarahan Warga Masyarakat Solo Karena Mentoknya Sikap Sabar dan Unggah-Ungguh Yang Membentur Tembok Kekuasaan

“Kalau kita jaga hutan, hutan akan jaga kita,” kata Bu Nyaru dalam sebuah forum komunitas. Ia berbicara bukan dengan retorika ilmiah, tapi dengan kebijaksanaan yang diwariskan turun-temurun.

Perempuan adat seperti Bu Nyaru memiliki pengetahuan mendalam tentang ekosistem lokal. Sebuah studi oleh CIFOR(2017) menyebutkan bahwa perempuan memiliki peran vital dalam pelestarian keanekaragaman hayati karena keterlibatan mereka dalam aktivitas harian seperti mengumpulkan hasil hutan, mengolah pangan, dan meramu obat-obatan. Namun peran ini seringkali tidak diakui secara formal.

Ironisnya, saat hutan dikonversi untuk proyek pembangunan, suara perempuan jarang didengar. Dalam 80% konflik tenurial di Indonesia, perempuan hampir tidak pernah terlibat dalam negosiasi ganti rugi (HuMa, 2020). Padahal mereka yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan yang meliputi kehilangan air bersih, sumber pangan, dan ruanghidup.

Perjuangan Hinting Langit mendapat perhatian nasional.Mereka berhasil mendorong pemerintah daerah mengeluarkan Perdes (Peraturan Desa) yang melindungi kawasan hutan keramat dan menetapkan zona larangan tebang. Tidak hanya itu, mereka juga menjadi bagian dari gerakan perempuan adat nasional melalui organisasi seperti PEREMPUAN AMAN.

Produk mereka, seperti madu hutan dan tas rotan kini dijual hingga ke Jakarta dan Yogyakarta melalui jaringan koperasi hutan. Namun, lebih penting dari itu, mereka berhasil mengembalikan rasa percaya diri perempuan Dayak Ngaju:bahwa mereka bukan hanya pewaris budaya, tapi pemimpin ekologis.

“Kami tidak melawan dengan kekerasan, tapi dengan kasih pada alam,” kata Bu Nyaru dalam sebuah dokumenter lokal. Ia kini sering diminta berbicara di universitas dan forum lingkungan, meskipun ia tetap tinggal di rumah kayunya di pinggir hutan.

Catatan

Tokoh dalam cerita ini dibuat fiktif karena keterbatasan data dan perizinan langsung. Namun ide cerita dibangun atas informasi mengenai peran dan keuletan para perempuan Dayak dalam menjaga dan melestarikan Hutan. Adapun link informasi tentang perjuangan mereka ialah sebagai berikut:

1.https://kaltim.antaranews.com/amp/berita/236761/yuliana-wetuq-sosok-perempuan-penjaga-hutan-lindung-wehea

2. https://www.wrm.org.uy/id/bulletin-articles/dayak-womens-struggle-to-protect-the-forests-in-central-kalimantan-indonesia

3. https://www.mongabay.co.id/2024/04/22/perempuan-dayak-orung-daan-penjaga-tradisi-hulu-sungai-kapuas/amp/

4.https://nationalgeographic.grid.id/amp/134271845/perempuan-dayak-iban-merajut-harapan-menjaga-hutan-mewariskan-budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Berduka Setelah Kemenangan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00