• Latest

Meunasah Krisis Fungsi: Saat Rumah Ibadah Kehilangan Ruhnya

Agustus 5, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Meunasah Krisis Fungsi: Saat Rumah Ibadah Kehilangan Ruhnya

Redaksiby Redaksi
Agustus 5, 2025
Reading Time: 2 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Putri Aldina

Aceh, yang selama ini dikenal sebagai Serambi Mekkah, tentu memiliki ekspektasi moral dan spiritual yang tinggi terhadap ruang-ruang ibadahnya. Salah satunya adalah meunasah—simbol sakral dalam kehidupan kampung, tempat salat berjamaah, pengajian anak-anak, dan musyawarah masyarakat. 

Namun, satu kenyataan getir telah menjadi pemandangan yang lazim kita saksikan setiap sore, malam, bahkan saat khutbah Jumat: anak-anak duduk berjejer di sudut meunasah, bukan dengan mushaf di tangan, melainkan gadget yang menyala, memainkan game online dengan asyiknya—bermodalkan WiFi gratis yang disediakan untuk tujuan “kebaikan”.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Fenomena ini bukan hanya mengganggu kesakralan rumah ibadah, tetapi juga mengindikasikan adanya krisis fungsi pada ruang publik yang dulunya begitu sakral.  Meunasah bukan lagi tempat mencari ilmu agama, tetapi berubah menjadi arena virtual yang mencuri waktu dan kesadaran generasi muda.

Lantas, siapa yang salah?

Menyalahkan anak-anak semata tentu tidak adil. Mereka hanyalah pengguna akhir yang mengejar kenyamanan tanpa memahami dampaknya. 

Orang tua, yang seharusnya mengarahkan, kerap kali pasrah. Pemerintah gampong dan aparatur desa, meski melihat fenomena ini setiap hari, belum terlihat mengambil langkah konkret. Apakah karena mereka terlalu akrab dengan situasi ini, atau justru karena telah kehilangan kepekaan terhadap fungsi asli baitullah?

Lebih miris lagi, ketika saat shalat Jumat berlangsung di masjid utama kampung, sejumlah anak-anak justru asyik di meunasah memainkan game, membelakangi mimbar, menutup telinga dari adzan, dan menyingkir dari panggilan langit. Ini bukan hanya masalah disiplin, tapi masalah pergeseran nilai yang perlahan dibiarkan.

Solusinya?

Pertama, perlu adanya regulasi lokal di tingkat gampong yang mengatur fungsi fasilitas publik digital, termasuk WiFi di menasah. Akses internet memang penting, tetapi harus diarahkan dan diawasi. Bukan berarti meniadakan, tetapi mengatur waktu, jenis konten, dan penggunaannya.

Kedua, menasah harus dihidupkan kembali secara fungsional. Bukan sekadar tempat shalat, tetapi juga ruang edukasi yang aktif—pengajian tematik, kelas motivasi, atau bahkan diskusi remaja tentang akhlak dan teknologi. Pemuda mesjid dan aparatur desa mesti turun tangan, bukan hanya sebagai pengurus fisik bangunan, tetapi sebagai penjaga ruhnya.

Ketiga, orang tua perlu mendapatkan edukasi tentang pentingnya literasi digital, agar bisa membimbing anak-anaknya secara bijak di era serba daring.

Akhirnya, kita tidak sedang menolak kemajuan teknologi. Kita hanya menolak kemunduran nilai. Menasah tidak salah dibangun dengan fasilitas modern, tapi akan salah arah jika kehilangan jatidirinya. 

Karena jika rumah ibadah tidak lagi dihormati, maka kemana lagi kita akan mencari cahaya dalam gelapnya zaman?

Semoga dari keprihatinan ini lahir kesadaran kolektif: bahwafungsi spiritual tidak bisa dikompromikan hanya demi sinyal kuat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

SMP Mulia Randublatung Mantapkan Pembelajaran Digital Berbasis Koding dan Kecerdasan Artifisial

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com